24.8.14

Beda Frekuensi


Berkenalan dengan laki-laki yang membuat alis matamu mengangkat tinggi-tinggi itu benar-benar suatu pengalaman. Ternyata di luar sana masih ada saja laki-laki yang harus menjadi nomor satu dalam segala hal, bahwa dia keren ini itu,  dia pintar ini itu, gaji besar ini itu, dia pergi ke sana sini, dia adalah Don Juan dengan gadis-gadis yang mengandrunginya ini itu. Ouch. Saya sarankan lebih baik kamu ( maksud 'kamu' di sini adalah kamu sebagai perempuan yang malas berpura-pura menjadi bego untuk mengelus ego mereka) minggir. Aduh itu rasanya 'nggak banget'. Kamu berbicara dan mengobrol tapi pembicaraannya melulu tentang dia. Dia begini begitu. Seolah membuat monolog pribadi. Seolah kamu dan dia hanya bertukar omongan saja bukan bercakap-cakap. Astaga membosankan sekali.

Tapi perlulah juga kamu berkenalan dengan banyak laki-laki seperti ini sehingga kamu menjadi tahu pasti bahwa ada loh 'makhluk beginian'. Laki-laki ini melihat segala hal bisa dibeli dengan uang, termasuk cinta. Mungkin saja dengan pengalaman yang dia anut dari perempuan yang dia hadapi hampir semuanya begitu. Dan saya bosan sekali dengan laki-laki ini, jikalau merasa dengan begitu cinta perempuan bisa dibeli.  

Saya pikir mungkin laki-laki seperti ini seharusnya memang bersatu dengan perempuan yang juga menyukai jenis seperti ini, yang harus menjadi nomor satu dan maskulin di berbagai kesempatan. Dengan pandangan penuh kekaguman menatap dia. Lalu berpura-pura bego sehingga dia bisa memamerkan kepandaiannya. Hingga kebutuhannya adalah diakui saja keberadaannya. Bukannya sebenarnya dia pamer itu sebagai pertanda dia insecure? Seperti anak baru pubertas yang butuh pengakuan dari orang tuanya, bahwa saya sudah dewasa.

Akh. Bosan sekali. Mungkin setelah saya pikir, kita hanya beda frekuensi. Frekuensi kita terpisah mungkin saya AM dia FM, tidak ketemu ujungnya. Ganjil. Kalau kebutuhan saya sebagai perempuan tidak bisa tercukupi dengan gaya sok maskulin dan maunya jadi nomor satu di segala bidang itu. Saya tidak bisa. Saya tidak suka jikalau saya harus membodohi diri saya dan menyadari bahwa ketertarikan kita berbeda. Dia menyukai sesuatu yang glamorous, sesuatu yang bisa dibeli, sesuatu yang mudah dilihat, dan pembicaraan kita seputar cewek cowok saja. Aih... gue berasa arisan sama ibu-ibu jadinya.

Ketika yang dia bicarakan adalah barang branded sedangkan saya lebih tertarik pada issue petani kopi yang tidak mendapat penghidupan yang layak padahal orang Indonesia suka kopi. Lha... gak nyambung kan ya? 

Sampai suatu kali saya spontan berteriak
" Ah, ini kan lagunya Queen yang Bohemian Rhapsody!"
" ..." 
" Gila gue suka banget sama Queen, Beatles..." ujarku lagi.
" Oh... Beatles. Gue gak suka Beatles, lagunya kenceng banget buat gue." 
...
...
"Pulang yuk." ujarku kemudian.

Apakah saya gak salah dengar? Katanya Beatles lagunya kenceng?! Gimana kalau dia dengerin Lamb of God? Meledoos kali kupingnya. 





2 comments:

  1. gua ngakak di bagian Beatles lagunya kenceng! hastagaaah! cetar sekali yaa~~

    ReplyDelete
  2. tapi gue selalu merasa selera musik bagus itu salah satu daya tarik. suerrr... hahaha

    ReplyDelete