6.2.14

Surat Cinta #6: Untuk waktu

Hai.

Mungkin ini adalah pertama kalinya aku menulis surat untukmu . Pasti kamu bingung haha. Kenapa tiba-tiba, aku datang dan memanggil namamu. Sepertinya kita belum pernah kenalan ya? Baiklah. Perkenalkan nama saya Metta. Ih basi ya.

Sebenarnya aku hanya ingin bertanya saja. Pernah tidak sih kamu bosan manjadi objek solusi sekaligus kesalahan. Seperti misalnya ada sebuah masalah pelik yang dihadapi oleh seseorang, pasti pada akhirnya mereka akan berkata sambil mendesah, “Biarlah waktu yang menunjukkan jawabannya.” Memang kamu betul-betul akan menunjukkan jawabannya? Apakah kamu sebijaksana dan sepandai itu untuk memberikan jawaban dari pertanyaan semua orang?

Lalu ada lagi ketika kamu dipersalahkan karena mereka ‘berlomba’ dengan kamu. Aku pun tidak tahu mengapa, tapi selalu kamu yang menang dalam lomba tersebut. Selalu kamu yang tercepat, selalu kamu yang keluar pertama, selalu kamu yang merangsak keluar dari ribuan peserta yang adu cepat denganmu. Apakah karena kamu selalu bergerak maju dan tidak peduli dengan apapun yang ada di belakangmu? Ya kurasa begitu. Berarti kamu ini tipe optimis yang menantang masa depan ya?

Tapi, Waktu,kamu juga pelupa. Seringkali kamu melupakan banyak hal yang penting, hal-hal yang krusial. Suatu yang kadaluarsa, habis masanya, tidak akan kamu ingat lagi dan menjadi sia-sia. Bukankah lebih baik kita ini mengenang dan menyimpan. Terkadang menyimpan itu baik, bila suatu hari dibutuhkan, mudah dicari.
Waktu, pernah tidak kamu rasanya tidak ingin meninggalkan sesuatu, kamu lekat dengan sesuatu. Karena sesuatu itu nyaman dan aman? Namanya kenangan. Jangan bilang kalau kamu tidak punya kenangan. Pernah tidak sedikit saja dari pikiranmu, kamu ingin kembali ke suatu masa dan merubah beberapa hal? Pernah tidak kamu menanti sesuatu tanpa kamu tahu apakah sesuatu itu benar-benar ada di masa depan dan sayangnya satu-satunya jalan untuk bertemu adalah kembali ke masa lalu? Tapi sekali lagi, siapa juga yang bisa ke masa lalu?

Waktu, kalau kamu jadi aku, apakah kamu akan meninggalkan memori dan kenangan lalu dengan berani maju tanpa harus menoleh ke masa-masa bahagia yang ada dibelakang punggungmu?

pic: weheartit







Karena melepaskan itu sakit sekali rasanya.


No comments:

Post a Comment