Surat Cinta #3: Untuk seorang teman bernama Ibenk

Hai Ibenk,

Apa kabar kamu Ibenk saat membaca surat ini? Semoga hujan tidak terlalu deras hingga kamu masih bisa menikmati semburat sore di jendelamu, ya. 

Coba, sebentar ya kita ulang lagi, kenapa kita bisa jadi teman dekat yah? Pasti Tuhan sudah membuat garis tangan kita untuk bertemu dan menjadi teman. Kok bisa yah, kita bertemu di sebuah negara asing tempat kita kuliah lalu simsalabim kita ada di kampus yang sama, asrama yang sama. Itu pasti bukan kebetulan, kan? Aku masih ingat kalau saat itu kita baru seminggu di Taiwan dan aku masih sibuk menangis kangen rumah dan kamu dengan gaya preman sok tegar bilang: "Ya elah... Met nanti juga pulang. Tenang aja lagi."  Pas itu aku sebal sekali dengan kamu karena saat itu kita tidak kenal, tidak dekat, tapi kamu sangat tidak sensitif. Namun pada akhirnya aku tahu, memang itu gaya kamu.

Lalu suatu hari kita duduk berdua di bus setelah berjalan-jalan dari Xin Jue Jiang, yang akan jadi tujuan pelarian kita kalau sudah merasa singup dengan kuliah dan kerja. Lalu kita mulai membicarakan tentang mimpi kita, tentang rasa takut kita, dan obrolan sepanjang masa segala abad kita: cerita cinta dan cowok-cowok childish itu. 

Aku tahu kamu paranoid dengan cicak dan kamu pun tahu kalau aku tidak akan bisa tidur tanpa bantal 'geli-geli'. Aku selalu ingat kalau kamu selalu berkata: "Haduh Metta... elu mah gak enakkan mulu. Santai aja kali. 你想太多." Diluar kalau kamu doyan maksa, nyuruh-nyuruh, dan ngomong diulang-ulang terus, tapi kamu tulus kalau bantu orang. Semoga semua kebaikan hatimu bisa berbalas beribu kali lipat, ya.

Mengenai urusan lelaki yang tidak kunjung usai dari zaman kuda gigit besi. Kamu tahu kita menganut paham yang berbeda. Kamu punya cara sendiri dan aku juga. Tapi bukan berarti cara kita salah. Caramu mungkin lebih terbuka dan berani, kalau aku lebih cuek dan malu-malu. Semua orang punya cara mencintai yang berbeda, dan kamu cuman butuh seseorang yang cocok dengan cara mencintai kamu kok. Itu aja.

Untuk lelaki yang sedang kamu pikirkan itu,.... menurutku seiring waktu dia juga akan hilang begitu saja. Ada masanya dia di hati kamu dan kalau masa itu sudah kadaluarsa dia akan hilang sendiri. Jadi nikmati dulu saja masa-masa ini. Bahwa pada akhirnya suatu hari nanti kamu akan dipertemukan dengan seseorang yang membuat kamu merasa cukup dan tidak perlu lagi mencari.

Terima kasih, ya sudah jadi temanku. Semoga sukses selalu untuk cita-cita dan cintanya. Semoga Tuhan selalu memberkati dan menjaga kamu di mana pun kamu berada. 


Salam sayang,

Metta


Comments

Popular Posts