Surat Cinta #18: Untuk hal yang terlupakan

Halo.

Iya kamu :) Halo.

Hujannya awet yah. Saya suka sekali hujan. Sabtu pagi yang hujan itu romantis kamu jadi menikmati bunyi-bunyinya saat kamu bangun dan ada sebuah bau basah yang segar. Lalu kamu punya hak prerogative sendiri untuk tidak mandi. Saya suka tidak mandi, saya jadi bisa merasa bahwa ini libur, tidak tergesa-gesa dan menjalani hidup lebih pelan dari biasanya. Terkadang pelan-pelan itu baik. Kamu jadi bisa memperhatikan segalanya hingga detail, menikmatinya hingga kamu puas. Kamu akan semakin menyadari bahwa hidup ini mempunyai caranya sendiri untuk membuat kamu senang.

Saya baru mengingat sebuah kejadian yang menarik. Jadi begini, sepulang dari saya bekerja saya tergesa-gesa untuk pulang. Pokoknya saya mau pulang. Setelah saya sampai di mobil, mobil pun mulai melaju dan saya mulai mencari-cari hape saya. Dan kalian tahu apa? Saya tidak menemukan keberadaan hape saya di tas. Lalu saya panik dan balik arah lagi ke kantor. S a y a p a n i k s e t e n g a h m a t i. Mencari-cari dan tidak menemukan. 

Beberapa menit agak panjang, saya pun mengeceknya di kantong celana saya. Dan apa yang terjadi? Hape saya ada di kantong, saudara-saudaraku. Bego ya, iya bego. Saya pun jadi ketawa sendiri setiap kali mengingat hal-hal tolol yang saya lakukan.

Ya pokoknya begitu.

Saya jadi berpikir. Ada berapa banyak hal yang kamu lupakan dalam hidup kamu? Ada berapa kejadian yang akhirnya terlewatkan karena kamu lupa? Lupa itu wajar. Tandanya kamu manusia dan hidup. Tapi kalau seandainya kamu lupa akan sesuatu yang krusial, hingga akhirnya kamu tidak mendapatkan kesempatan yang seharusnya bisa kamu ambil, bagaimana?

Saya tiba-tiba jadi berpikir begini, bagaimana kalau seandainya hal yang kita lupakan itu adalah kekuatan kita. Kekuatan dalam arti hal-hal yang sebenarnya bisa mendukung kamu untuk meraih mimpi kamu. Misal: keberanian, kerja keras, pendirian teguh, ketahanan diri, sabar, kepandaian. Bagaimana kalau seandainya kekuatan-kekuatan itu yang kalian lupa. Kalian lupa kalau kalian sebenarnya punya mereka dalam diri kalian sendiri. Seperti halnya saya lupa di mana kah hape saya berada, padahal dia menempel di paha saya, saya bawa ke mana-mana dalam kantong celana saya. Bagaimana kalau kekuatan itu yang kita lupa?

Apalagi kalau kita tidak menyadari kalau sebenarnya kita memiliki kekuatan tersebut. Aaaaa itu akan jadi tragedi paling menyedihkan di abad 21 ini. Melupakan kekuatan yang sebenarnya ada dalam diri masing-masing. Lalu kamu tidak hidup sampai limit kamu, lalu kamu tidak tahu sebenarnya limit kamu di mana. Sayang sekali. 

Bagaimana caranya agar tidak lupa? Kamu harus bermain api, keluar dari comfort zone kamu itu. Baru kamu akan menyadari bahwa ada kekuatan yang sebenarnya kamu miliki. Mungkin ada baiknya kita ini jadi manusia yang mau menantang bahaya.

Kadang jantung kita harus sering-sering dipacu dan adrenalin harus terus menerus mengalir deras agar kamu tahu kamu itu hidup. 




Comments

Popular Posts