Surat Cinta #12: Untuk hal-hal yang tidak selesai


Banyak hal yang tidak selesai dalam dunia ini. Banyak sekali yang ditinggalkan  begitu saja tanpa ada sebuah kesimpulan atau akhiran. Tidak ada yang mengetahui apa jalan akhirnya. Semua itu misteri, semua itu saling tersambung satu sama lain, hanya saja kita tidak diberi tahu alasan mengapa banyak hal tidak selesai.

Kita hanya melihat apa yang terlihat di mata kita. Kita hanya mendengar apa yang sampai di telinga kita, kita hanya mengerti apa yang otak kita ingin cerna. Manusia itu terlalu takut untuk mengetahui apa yang tidak sesuai dengan apa yang dia ingin dengar dan lihat. Manusia itu takut dengan kenyataan. Terbuai dengan harapan yang mungkin sebenarnya itu tidak ada. Mungkin ada baiknya kalau kita itu membuai diri dengan harapan agar kita tidak menjadi terlalu realistis dan sakit karenanya.

Mana yang lebih enak? Menjadi terbuai oleh pengharapan yang belum tentu ada ataukah menjadi orang yang realistis dalam bertindak dan berpikir. Namun pada akhirnya sama saja kenyataan tidak sesuai dengan apa yang kita inginkan. Yang berpengharapan besar tetap saja akan kecewa dengan pengharapan yang tidak kunjung datang lalu menjadi pahit. Yang realistis sudah pahit sedari awal. Mana yang mau kamu pilih?

Hal-hal yang tidak selesai itu terlalu banyak. Atau kita bisa berkata hal itu tidak selesai karena kita terlalu berpengharapan lebih akan sebuah kejelasan akhir cerita yang mau kita punyai. Padahal sebenarnya tidak pernah ada yang selesai di dunia ini kecuali kalau kamu mati. Mungkin begitu.


Pic: Metta
Kaohsiung, Taiwan dari tepi jendela *kangen*














Seperti yang Goenawan Mohammad katakan di bukunya yang berjudul Tuhan dan Hal-hal yang Tidak Selesai. Beliau berkata:

Artinya Ia tidak pernah selesai dengan manusia
Mungkin Ia tidak pernah puas.

Ia mencintainya tapi harus menyaksikan cacatnya.


Comments

Popular Posts