Surat Cinta #11: Untuk Perempuan Sebelas Februari

Hai Ibu saya yang ulang tahun.

Surat yang ke-sebelas ini untuk Ibu saya, Christina Enung Martina. Dari namanya saja kalian pasti tahu, kalau nama Ibu saya seirama. Dan kalian tahu apa artinya? Ibu saya orang sunda. Saya juga tidak tahu kenapa orang sunda memberi nama anaknya seirama, seperti Jaja Miharja, Imam Suriman, untung nama saya tidak menjadi Metta Suretta atau Metta Melata. Terima kasih pada Babeh saya yang orang jawa itu.

Ibu saya itu aneh. Masa beliau tidak suka sushi, tidak suka hokben, tidak suka sms panjang-panjang, tidak suka gadget, tidak suka coca cola, tidak suka begadang, tidak suka menangis depan orang lain, tidak suka saya yang mengeluh terus, tidak suka Aga yang malas mandi. Hidupnya lurus, teratur, tradisional dengan bahasa Indonesia yang baik dan benar.

Seperti hubungan Ibu dan anak perempuan kebanyakkan. Terkadang kami adu pendapat. Tapi jangan bayangkan kalau kami akan saling teriak, melotot-melototan, lalu mengeluarkan bahasa kasar. Itu bukan gaya kami berdua. Kami akan beradu pendapat dengan cerkas, mengeluarkan fakta, tegas dan memakai bahasa Indonesia yang baik dan benar. Mungkin karena Ibu guru bahasa Indonesia, jadi bahasanya sangat teratur dan tertata apik. Tidak seperti saya hancur lebur campur seenak udel.

Ibu itu paling tidak suka kalau ada orang omong doang. Tidak melakukan. No action talk only. Saya selalu dimarahi kalau seperti itu. Katanya saya omong doang. Lakukan! Saya masih berusaha sampai sekarang. Saya mau jadi orang yang bisa dipegang kata-katanya bukan hanya buntelan kentut doang. 

Ibu juga selalu berkata kalau saya itu terlalu banyak mengeluh. Ayo bersyukur! Jadi perempuan jangan cengeng, harus tegar. Hidup itu keras, kalau kamu lembek dengan diri kamu sendiri. Mungkin saya jadi diri saya yang sekarang yang kuat dan pembela hak perempuan karena Ibu. Ibu itu pembela perempuan. Ibu itu sangat bangga kalau dia adalah seorang perempuan.

Ada yang lain, yang saya kagumi dari Ibu. Ibu itu passionate dengan pekerjaannya. Bukan orang yang setengah-setengah, komitmennya tinggi untuk sesuatu. Ibu selalu bilang kalau bekerja itu ibadah, kata orang muslim. Kerjakan sebaik-baiknya. Bapamu di Sorga melihat dan mencatat semua. Menjadi guru bagi beliau adalah menjadi batu penjuru. Harus bisa mengarahkan, menjadi penunjuk arah, menjadi kompas pengarah jadi harus bisa berbagi dengan anak muridnya. Bahwa selain kamu memiliki otak yang pintar kamu juga harus bisa merakyat, menelusup dan memahami hati orang lain. 

Ibu saya itu seperti preman. Oh, cerewet sekali. Saya sering dicubit pantatnya kalau malas belajar waktu SD. Aga sering dipukul pantatnya kalau nakal. Tapi entah mengapa sepertinya saya dan Aga sudah lupa dengan hal itu dan menertawakan masa-masa ketika Ibu sibuk melarang-larang pacaran di waktu sekolah, bolehnya berteman saja. Hahahaha lucu dan kasian sekali masa-masa sekolah itu. 

Ibu itu paling tahu kalau saya tidak suka pelajaran Matematika dan Ibu tahu sekali kalau Aga tidak suka pelajaran hafalan. Saya dan Aga seperti penukaran talenta. Ibu tahu anak-anaknya, sekalipun kami bohong , Ibu tahu. Waktu saya mencuri-curi kesempatan untuk jalan bersama crush waktu SMA, Ibu tahu. Dan Ibu juga tahu kenapa saya tidak dengan si ini dan si itu, saya sedang jalan dengan si ini dan si itu lalu nanti Babeh saya di rumah belingsetan karena anak perempuannya sedang jalan dengan temannya. Padahal kami  hanya jalan. Toh tidak boleh pacaran. Haha kalau diingat-ingat itu lucu sekali.

Sekarang obrolan kami berdua semakin berat. Mengenai hidup, pekerjaan, masa depan, pria dan gosip tetangga. Ibu itu kolot memang. Kadang saya masih suka menggoda beliau dengan falsafah hidupnya yang kuno sekali. Memang kami beda zaman, tapi bukan berarti falsafah beliau tidak bisa saya intip dan dengar, kan? Semua keputusan ada pada saya. 

Ibu itu masih suka malu-malu dengan bangga tentang perjalanan cintanya dengan Babeh. Bagaimana mereka berdua bertemu di bis Semarang, lalu bisnya menurunkan penumpang, lalu mereka naik bis lain dan duduk berdua, lalu mereka mengobrol dan saling tukar alamat, lalu surat-suratan, lalu Babeh nyamperin Ibu yang rumahnya jauh di atas gunung di Ciamis, lalu mereka menikah, lalu pasti Ibu akan mengakhiri kisah cintanya dengan begini, "Carilah pria seperti Babeh itu. Dia pria baik." Begitu katanya. Itulah Ibu.

Selamat ulang tahun Ibu. Saya bangga menjadi anak Ibu.


Salam sayang,


Metta


Nb. Aku kan selalu pesan ke Ibu, jangan pernah suruh-suruh aku cepet kawin, yah. 



Comments

Post a Comment

Popular Posts