Surat Cinta #10: Untuk pria berkaos orange belel


Hai.

Apa kabar? Semoga semua kebaikkan ada padamu. Lalu hidupmu bahagia, damai sentosa.  Bagaimana hidupmu sekarang? Kita sudah 8 bulan tidak bertemu. Iya, saya menghitungnya. Namamu setahun belakangan ini ada di jurnalku. Banyak, banyaaaak sekali. Saya hanya ingin mengingat setiap detailmu. Mungkin kamu tidak.

Saat ini saya sedang ikut 30 Hari Menulis Surat Cinta. Kamu mungkin tidak tahu kalau saya suka menulis. Pasti kamu juga tidak tahu kalau saya ini penulis kan? Lagi pula pasti kamu tidak pernah stalking apapun yang berhubungan dengan saya kan? Berarti saya aman. Saya ikut menulis ini sebenarnya agar saya kembali terpacu menulis kembali. Masa penulis jarang menulis. Apa kata dunia? Lagi pula sebenarnya saya merasa saya harus move on dari kamu. Itu saja. Dan ini cara saya untuk move on.

Sebenarnya kita kenapa yah? Masa hanya sekedar menjadi teman yang bertukar pikiran dan kabar saja tidak bisa, apalagi jadi pacar? Kita kenapa? Oh, mungkin kita tidak cocok yah? Dan sepertinya kamu juga ada orang yang kamu sayangi dengan sepenuh hati. Saya tidak tahu. Mungkin begitu.

Dari sekian banyak cinta yang bisa kita nikmati, berarti cinta yang diam-diam, itulah yang saya ambil. Saya takut jatuh cinta, kamu tahu kan? Saya rasa jatuh cinta itu hanya membuat kamu jadi bego doang. Tapi semakin hal itu saya hindari, semakin saya jatuh cinta. Mungkin seharusnya tidak usah ditakuti. Harusnya cinta itu dialami. Ya, salah saya yang pengecut.

Saya mempunyai suatu paham mungkin cinta itu mempunyai siklus. Dan siklus yang datang pada saya sifatnya tidak berujung. Lepas begitu saja, menjuntai tanpa akhiran. Lalu nanti saya sendiri yang harus membuat kesimpulan sendiri. Cerita cinta yang tidak pernah selesai dan akhirnya saya akan tiba pada suatu masa melakukan perpisahan sendiri. Lalu ke mana mereka semua itu? Hmmm.... namanya tertinggal di buku jurnal saya. Dan berakhir seperti itu. Selalu. Mungkin kamu juga akan berakhir seperti itu. Saya tidak tahu.

Saya kangen kamu. Saya paling suka ketika kamu menggunakan kaos orange belel yang sudah luntur itu. Saya merasa kamu keren pakai itu. Saya tidak tahu tapi saya suka gaya simple cuek kamu itu. Saya seperti melihat kamu sebagai mana adanya.

Aduh! Ini harus bagaimana? Padahal resolusi awal tahun yang sudah saya buat,  saya harus move on dari kamu. Namun selalu saya merasa ada ribuan alasan, ribuan pertanda yang mengarah padamu. Saya harus bagaimana? Bagaimana kalau cuman kamu yang saya mau? Bagaimana kalau setiap sel dalam tubuh saya yang menginginkan kamu? Bagaimana kalau hanya kamu yang bisa membuat jantung saya berdegup kencang? Bagaimana kalau senyum kamu saja yang membuat saya berkecukupan dan tidak butuh apa-apa lagi?

Tapi saya harus move on kan? Mungkin saya harus sibuk.  Benar-benar sibuk. Lalu lupa tentang kita.
Tapi sebentar, ada satu pertanyaan lagi. Kamu kangen tidak sama saya?













"Ah, tapi sudahlah. Biar saya saja yang kangen. "


Comments

Popular Posts