1.2.14

Surat Cinta #1: Untuk Dia yang hanya sejauh doa

Selamat sore Bapa,

Apa kabar? Sehat? Saya juga. Terima kasih sudah memberikan saya udara dan sore yang mendung hari ini. Hari ini aroma hujan di mana-mana, baunya legit. Saya suka. Sudah lama saya tidak berbicara santai dengan Mu. Tanpa tangis yang sesegukkan lalu saya marah-marah sendiri pada Mu. Maafkan yah. Saya tahu saya akhir-akhir ini menjadi anak manja yang cengeng.

Terima kasih untuk pelukan-pelukan panjang di malam hari yang gelap itu, ketika langit meledak-ledak mengeluarkan petirnya. Engkau sungguh tahu kalau saya takut petir. Terima kasih untuk usapan tangan Mu di pipiku saat berkali-kali aku curhat panjang di malam itu. Terima kasih karena tidak pernah bosan-bosannya mendengarkan keluh kesahku yang panjang pendek, bahkan Ibu saya saja bosan mendengarnya.

Terima kasih karena Engkau berbicara pada saya dengan banyak cara bahwa segalanya sudah Kau rancang sedemikian rupa. Pertanyaannya adalah apakah saya mau percaya atau tidak.

Terima kasih atas keluarga yang Engkau berikan pada saya, tempat saya dibesarkan. Mungkin memang kami tidak sempurna, tapi mereka sudah sempurna untuk saya. 

Terima kasih karena Engkau mengenalkan banyak relasi baik yang terjaga maupun tidak. Terima kasih karenanya saya belajar bahwa relasi itu berharga namun ketika waktu sudah habis, kita harus rela dan beranjak pergi.

Terima kasih karena Engkau menciptakan cinta. Itu adalah ciptaan yang paling misterius, ajaib dan genius, hingga saya pun masih belajar tentang itu. Terima kasih atas pelajaran cinta yang telah Engkau berikan padaku akhir-akhir ini. Bahwa untuk mencintai orang lain, kita harus mencintai diri sendiri terlebih dahulu. 

Terima kasih, Bapa karena Engkau Sempurna.



No comments:

Post a Comment