Pindah Tegangan


pic: weheartit

Saya masih ingat ketika saya masih kecil dulu, betapa sukanya saya bermain make up milik Ibu. Padahal usia saya saat itu masih lima tahun. Sampai suatu hari saya ditangkap basah oleh Ibu saya ketika sedang memoleskan lipstick merah ke bibir saya. Tentulah layaknya anak kecil riasan saya agak acak-adut. Saya ingat sekali saat itu Ibu langsung mengambil lipstick dari tangan saya dan menggendong saya ke kamar mandi. Saya pun menangis meronta. Lalu Ibu saya berkata, “Kamu ini, sok gede. Itu dipakai  kalau kamu sudah dewasa.”  Hingga sejak saat itu saya ingin sekali cepat besar dan cepat dewasa.

Menjadi dewasa

Menurut pemikiran saya yang saat itu masih  umur lima tahun, menjadi dewasa itu enak.  Boleh pakai lipstick , kalau bermain dengan anak lain tidak usah melulu jadi anak bawang dan kalau kamu bicara, akan dianggap serius oleh orang dewasa.  

Sepertinya kalau saya amati semua anak kecil tidak suka dianggap ‘anak kecil’. Mereka setengah mati ingin menjadi besar, dewasa. Sampai suatu kali adik saya yang berumur tiga tahun tidak mau lagi digandeng kalau sedang  berjalan di tempat ramai dan berkata, “ Aku bukan anak kicil lagi, aku sudah dewasa.”  Siapa yang tidak  menahan senyum dibuatnya?

Ternyata

Saya salah. Menjadi dewasa itu tidak melulu enak dan prosesnya sudah panjang, lama, heboh dan sakit. Menjadi dewasa itu tidak mudah karena tidak bisa asal karbit. Dari setiap peristiwa  yang dialami, akan melahirkan suatu pengalaman dan pembelajaran lalu yang  pada akhirnya  kita jadi berkata, “Oh, gini toh maksudnya, lain kali lebih baik jangan begini, seharusnya ...”  Dan proses untuk sampai ke kalimat “Oh, begini toh maksudnya...” itu kita harus jatuh bangun berkali-kali dan menangis berember-ember. Ih lebay.

Ada sebuah analogi yang menarik, begini, untuk mengetahui rasa wine yang lezat dan enak harus dicicipi satu persatu. Hanya dengan merasakannya maka kita akan tahu mana wine yang lezat dan ranum, mana yang abal-abal. Mungkin hidup juga harus begitu, kita harus dapat menerima apa yang hidup tawarkan pada kita dan meminumnya gelas per gelas, agar kita tahu ‘rasanya hidup’.  Seperti yang dilakukan oleh Yesus saat Dia sedang berdoa di Taman Getsmani sebelum penangkapannya. Dia berkata  "Ya Bapa-Ku, jikalau sekiranya mungkin, biarlah cawan ini lalu dari pada-Ku, tetapi janganlah seperti yang Kukehendaki, melainkan seperti yang Engkau kehendaki.“(Matius 26:39) Seperti Tuhan Yesus, Dia pun takut dan ngeri namun Dia berserah pada kehendak-Nya dan menerimanya sebagai ‘panggilan hidupnya’.

Ngomong-ngomong tentang panggilan hidup, ketika kita menjadi dewasa kita pun diarahkan pada panggilan hidup masing-masing. Lalu muncullah sebuah pertanyaan besar: Untuk apakah saya diciptakan? Pertanyaan berat.Menemukan panggilan hidup tidak serta merta hadir begitu saja, namun melalui proses yang terus menerus. Dari mulai membaca tanda dari Tuhan, menilik lagi passion yang kita punya, talenta apa yang kita punya dan sebagainya. Pencarian panggilan hidup ini sifatnya seumur hidup.  Dan tentunya panggilan setiap  orang itu berbeda-beda. Panggilan yang saya punya pasti tidak sama dengan dengan panggilan kamu dan panggilan ini sifatnya melekat. Hanya diri kita sendirilah yang bisa memenuhi panggilan hidup itu, tidak yang lainnya.  Mungkin karena itulah kita diciptakan. 

Transisi

Menjadi dewasa itu adalah sebuah perjalanan, dan yang namanya jalan ada yang lurus, naik turun, memutar, dan ada yang namanya pindah jalur atau transisi. Mungkin yang saya alami sekarang ini adalah masa transisi, pindah jalur dari yang  jalur lambat jadi jalur cepat bebas hambatan. Dan saya harus melakoni jalur transisi ini untuk bisa ke arah tujuan saya yang semestinya.

Ibaratnya mungkin seperti ini, hidup itu terus berubah dia dinamis. Kalau kita hidup sudah pasti kita akan berubah, kalau tidak berubah dan statis itu tandanya tidak ada kehidupan. Mati.  Seperti arus listrik yang terkadang harus pindah tegangan agar bisa terus lancar. Nah, dan proses pindah tegangan ini yang harus tetap dilewati, dari irama lambat yang hap...hap...hap  berubah menjadi haphaphap.

Ketika masa transisi ini berlangsung sering kali terjadi kegoyahan. Langkah kita jadi tidak ajeg. Kalau sudah begitu untuk melewati masa-masa ini, ada baiknya kalau kita hidup untuk masa kini saja. Tidak di masa lalu, tidak di masa depan. Tidak perlu berpikir jauh ke masa depan, capek nanti. Biarkanlah Tuhan yang kontrol itu semua. Percayakan seluruhnya dan berserah. Karena berserah bukan berarti pasrah namun berusaha sekuat tenaga dan menyerahkan hasil kinerja pada-Nya.



Comments

  1. hahahhaa, masih ya tema galau paling happening nih. lol. :D
    waiting for your 'story' loh metttt
    LOL

    ReplyDelete
  2. ohh yaaa pasti lah prill lagi happening banget :) haha aduh pril ga tau nih story nya mau diapain hihi

    ReplyDelete

Post a Comment

Popular Posts