19.8.13

Hari 4: Bahagia itu urusan hati bukan otak

pic: google

Hari ini saat saya sedang menyapu halaman depan, saya setengah berpikir mungkn menjadi bahagia itu adalah sesuatu yang sederhana. Setiap hari kita diberi kesempatan untuk menjadi bahagia. Tapi mengapa kita seolah sulit sekali untuk menjadi bahagia. Bahkan ada beberapa orang yang ketika ditanya apa cita-cita kamu maka dia akan menjawab: menjadi bahagia. Jadi untuk masa ini, belum bahagia dan bahagia itu adalah sesuatu yang dicita-citakan dan belum didapatkan? Silahkan jawab sendiri dalam hati.

Definisi bahagia setiap orang itu berbeda-beda, saya pun begitu. Ada banyak definisi bahagia dalam otak saya. Saya akan menjadi bahagia apabila mimpi-mimpi saya bisa tercapai semua, saya mendapatkan pekerjaan yang sesuai dengan passion saya, saya bisa membahagiakan orang-orang yang saya cintai, saya bisa keliling dunia, dan lain-lain, dan seterusnya tak habis-habis. Mengapa untuk menjadi bahagia saya membuat begitu banyak syarat, seolah otak saya mendikte hati saya begini, "Kamu boleh bahagia apabila kamu bisa mendapatkan A, B, C, D..., baru boleh bahagia." Mengapa untuk menjadi bahagia seolah banyak syarat yang harus kita capai? Tidak bisakah kita bahagia dengan sederhana bukankah menjadi bahagia itu sendiri adalah hal yang sederhana? Mengapa hal yang sederhana selalu tidak sesederhana itu? Pusing yah saya tanya terus? Saya juga.

Apabila kita lihat kembali, benarkah kebahagiaan itu diukur oleh sesuatu yang sifatnya measurable seperti hal-hal keduniawian? Atau adakah arti lain dari bahagia itu sendiri? Pernahkah kita berpikir kembali, jikalau saya sudah mendapatkan segala syarat-syarat bahagia saya, benarkah itu akan jadi jaminan kalau saya akan serta merta bahagia?

Menjadi bahagia itu adalah sebuah kekayaan batiniah yang tidak ada harganya dan tidak bisa diukur oleh apa pun. Pada akhirnya yang menjadi syarat utama dalam menjadi bahagia adalah hidup yang mengacu pada 'kekinian', masa kini. Hidup yang present. Memandang hidup bukan dari hari kemarin yang sudah berlalu atau dari hari esok yang belum tiba, melainkan hari ini. Sekarang. Detik ini juga. Bahagia itu sekarang. Dibutuhkan sebuah kemampuan untuk bisa berkontak dengan masa sekarang dan tinggal dalam situ juga.

Bahagia itu bukan sesuatu yang dipikir-pikir tapi sesuatu yang dirasa. Menjadi bahagia itu sederhana, ada di setiap kesempatan, setiap harinya, karena bahagia itu di mana-mana. 

No comments:

Post a Comment