Hari 2: Perlukah ucapan selamat tinggal?

pic: google

Menurut kamu, ketika kita akan pergi ke sebuah tempat lain dan meninggalkan tempat yang lama perlukah kita mengadakan sebuah perayaan perpisahan dan ucapan selamat tinggal? Perlukah kita menangis dan berpelukan perpisahaan seolah kita tidak akan bertemu lagi suatu hari nanti?

Bagi saya itu perlu. Saya adalah tipe manusia yang sangat lekat dengan sesuatu dan seseorang. Bahwa apa yang saya punya di sekitar saya seolah adalah milik saya yang tidak bisa saya lepaskan begitu saja tanpa adanya sebuah prosesi yang dinamakan perpisahan.

Saya mulai memperhatikan hati saya sendiri ketika ada tiba saatnya saya akan berpisah dengan sesuatu. Saya selalu menjadi seseorang yang paling berat meninggalkan sesuatu dan maju ke sebuah tahap lainnya. Padahal masa-masa itu sudah berakhir dan memang sudah kadaluarsa sehingga harus diganti dengan sesuatu yang baru. Saya rasa masalah saya ini adalah hati saya selalu takut dan ngeri melepaskan segala sesuatu yang saya miliki dan apa yang sudah familiar untuk saya.

Ada seorang teman yang mengatakan bahwa ketika tiba saatnya untuk berpisah maka dia akan menjadi seseorang yang tidak menangis dan bersedih, justru dia merasa bersyukur karena sudah bisa melewati momen yang special ini dan semakin tersadar bahwa dia memiliki sesuatu yang berharga dalam hidup dia. Saya rasa prespektif dia sangat bagus dan dia sangat optimis dalam melihat suatu keadaan. Lalu dia pun berkata bahwa dia ada sebuah keyakinan dalam dirinya bahwa suatu hari nanti pasti akan bertemu kembali.

Saya seharian berpikir mungkin saya ini tipe orang yang pesimis. Bahwa saya selalu tidak bisa melihat sebuah kesempatan yang ada di masa yang akan datang; jikalau kita akan bertemu kembali. Bisa saja ketika kita akan bertemu kembali, saya bukanlah seseorang yang sama dengan saya yang sekarang, bisa saja kita berubah menjadi pribadi yang lain yang saya sendiri tidak bisa bayangkan. Lalu pasti momen itu berbeda dan berubah. Ya kan?

Saya merasa bahwa ketika sesuatu itu berubah, maka dia tidak akan bisa kembali seperti semula. There's no way back. Tidak ada suatu perubahan yang akan kembali menjadi sedia kala seperti pertama kali. Saya mempunyai sebuah pemikiran kalau ketika masa itu berakhir maka itu akan berakhir. Titik. Hal-hal yang tertinggal adalah kenangan dan momen-momen yang akan selalu tersimpan di labirin otak kita. Itu yang kita punya.

Sehingga mungkin itulah alasan mengapa setiap kali saya berada di suatu masa perpisahan, saya akan menangis sekeras-kerasnya karena adanya rasa takut kehilangan akan apa yang saya punya sekarang. Bahwa tetap saja perpisahaan itu penting bagi saya dan ucapan selamat tinggal selalu merupakan momen di mana saya membawa sedikit hati orang-orang yang saya tinggalkan untuk menjadi milik saya dan saya bawa.

Saya belajar benar bahwa perpisahan akan selalu kita temui di setiap hidup kita. Ada yang sifatnya sementara dan mungkin bisa bertemu kembali atau bahkan dan sifatnya permanen, selamanya. Sehingga menurut saya tetap saja perpisahaan itu penting, biarpun pasti sedih namun momen perpisahan secara baik-baik itu jauh lebih membuat hati kita ayem,dan kita bisa memanfaatkan semua kesempatan waktu yang ada untuk tetap menjaga relasi. Kita berkenalan baik-baik, perpisahan pun harus baik-baik.

Saya akui sampai sebesar ini I can’t find the good in goodbye. Tapi ya… itu adalah cara saya dan prespektif saya dalam menghadapi perpisahan. Toh tiap orang berbeda-beda, kebetulan saya ini adalah orang cengeng yang terlalu lekat dengan ini itu. Ya…itu adalah kelemahan saya, kelekatan pada sesuatu, melihat segala sesuatu sebagai sesuatu yang berharga hingga ada rasa saying untuk meninggalkan.

Dengan adanya perpisahan kita jadi makin diingatkan kembali bahwa dalam hidup ini segala sesuatu ada waktunya, ada masanya, ada limitnya, ada tenggang waktunya. Seperti  yang pernah ditulis di kitab suci; tidak ada yang abadi di bawah langit ini, tidak ada siapa memiliki siapa dan apa, karena kita ini hanyalah titipan.


Comments

Popular Posts