13.8.13

Hari 1: Mari kita bicara tentang ketidakpastian


pic: google


Untuk orang yang super hiperaktif seperti saya, untuk duduk diam dan mengamati sekeliling adalah sebuah penyiksaan. Saya sudah jelas bukanlah seorang observer sejati. Tapi bukan berarti saya tidak mengamati, saya mengamati, dengan cara saya sendiri. 

Saya sudah kembali ke Indonesia for good, dan yang namanya balik ke negara asal dan berusaha untuk memulai ini itu dari awal itu sulit. Saya tidak pernah nyangka kalau ternyata akan sesulit dan se-tough ini keadaannya. Kalau saya rasanya harus adaptasi dari awal lagi, kalau saya ini masih kaget dengan situasi Indonesia. Tepatnya saya harus membereskan hati saya yang juga masih tertinggal sedikit di Taiwan dan belum berfungsi maksimal. Dalam otak saya, saya masih berpikir: Ini benar tidak yah, keputusan saya untuk kembali lagi ke Indonesia dan memulai lagi dari awal? Kalau ternyata salah keputusan bagaimana? Kenapa rasanya belum terbiasa, belum betah dan rasanya keputusan pulang ke Indonesia ini salah total? 

Astaga. Pertanyaan itu seperti muter-muter di otak saya dan saya jadi ketakutan sendiri dengan masa depan. Entah kenapa rasanya seperti masa depan itu menakutkan sekali dan saya jiper dengan ini itu, dengan mimpi-mimpi saya yang kini terlihat besaaaaaaaaaaarrrr sekali di mata dan tinggiiiiiiiii sekali di luar jangkauan tangan saya. Gila. Saya jadi kesal sendiri dengan sebuah kalimat mutiara: Raihlah cita-citamu setinggi langit. Buset! Tangan gue panjangnya gak setinggi langit kali! Itulah pikiran keparat dari sisi pesimis saya.

Ketika kita mau mengejar mimpi kita, betapa banyak hal yang harus kita relakan untuk ditinggalkan, betapa kenyamanan dengan situasi yang familiar itu ternyata sebenarnya tidak akan membawa kita ke mana-mana. Betapa banyak hal yang harus kita korbankan dan lepaskan, karena semata-mata itu sudah tidak pas lagi untuk hidup kita dan kita perlu ke level yang lebih tinggi dari sekedar hal yang itu-itu saja.

Saya akui sih saya masih sering kok, mengingat-ingat masa-masa menyenangkan kuliah dan ber-haha-hihi bersama teman dan seolah pada masa itu, mimpi-mimpi saya, akan dengan mudahnya digapai di tangan. Seolah saat itu prespektif saya akan menggejar mimpi dan cita-cita itu amat mudah dan seolah saya optimis sekali kalau saya akan sampai ke sana suatu hari nanti. Saya rindu dengan sosok seorang saya yang yakin bahwa saya pasti akan bisa sampai ke sana. Bukannya terus menerus doubting akan skill apa yang saya punya dan tetek bengek lainnya. 

Saya pikir mungkin ini adalah state saya di mana ketidakyakinan dengan diri sendiri itu ada, ketika saya sedang terus menerus mempertanyakan diri sendiri, apakah saya betul-betul cocok dan pantas untuk bermimpi? Lalu saya pun kembali berpikir apakah selama ini mimpi ini yang benar-benar saya mau? Ataukah ini hanya sekedar pemikiran selewat saja? Apakah hati saya mendapatkan panggilan untuk mimpi ini? Sesuatu yang tidak pasti membuat kita berpikir berulang-ulang bukan?

 Lalu saya juga membaca sebuah quote bagus milik Descartes: In order to determine whether there is anything we know with certainty, we first have to doubt anything. Mungkin ketidakpastian dan ketidakyakinan itu sebenarnya penting untuk kita agar kita tidak sombong-sombong amat, bahwa kita juga musti ingat kalau ada beberapa hal yang di luar jangkauan kita yang must kita tilik lebih dalam lagi dari hati dan doa-doa panjang yang tidak putus. Bahwa terkadang tidak yakin mengajarkan kita untuk melihat lebih dalam lagi akan apa yang kita mau dan mengkaji ulang dengan hati. 

Kembali lagi, dengan pernyataan klasik: hidup ini adalah perjalanan bukan tujuan. Kita akan selalu mencari terus menerus, sebenarnya mau di bawa ke mana kita saat ini dan kita akan kembali lagi  pada sebuah pertanyaan awal: Siapakah kita ini? 


No comments:

Post a Comment