30.8.13

Hari 5: Merupa Kangen

pic: pinterest


Jikalau kangen ya sudah. Kangen. Ya sudah. Saya juga tidak pernah tahu kalau akan masih kangen. Mungkin karena belum sibuk jadi ada dua per tiga bagian otak yang masih kangen. Ya sudah. Saya kira saya tidak akan seperti ini. Tapi kangen ini tawar rasanya. Tidak ada gebu ingin bertemu. Sekedar kangen ya sudah. Mungkin karena saya sudah lelah mencari alasan sendiri. Sejuta pertanyaan mengapa? Mengapa tidak bisa? Mengapa tidak cocok? Mengapa tidak bertemu? Ya sudah. Tidak ada jawaban. Auk ah gelap. Mumet. 

Saya kangen. Tapi semoga kita tidak usah bertemu lagi di lain hari. Saya sudah capek dengan perpisahan yang saya lakukan sendirian. Saya sudah capek dengan pertanyaan yang akhirnya saya jawab sendiri. Saya kangen. Ya sudah. Semoga kita tidak bertemu lagi di masa depan. Jikalau ternyata kita harus bertemu di suatu situasi, saya akan mencukupkan diri saya dengan sekedar saling menatap, saling senyum, lalu sibuk dengan diri sendiri. Ya sudah. 


19.8.13

Hari 4: Bahagia itu urusan hati bukan otak

pic: google

Hari ini saat saya sedang menyapu halaman depan, saya setengah berpikir mungkn menjadi bahagia itu adalah sesuatu yang sederhana. Setiap hari kita diberi kesempatan untuk menjadi bahagia. Tapi mengapa kita seolah sulit sekali untuk menjadi bahagia. Bahkan ada beberapa orang yang ketika ditanya apa cita-cita kamu maka dia akan menjawab: menjadi bahagia. Jadi untuk masa ini, belum bahagia dan bahagia itu adalah sesuatu yang dicita-citakan dan belum didapatkan? Silahkan jawab sendiri dalam hati.

Definisi bahagia setiap orang itu berbeda-beda, saya pun begitu. Ada banyak definisi bahagia dalam otak saya. Saya akan menjadi bahagia apabila mimpi-mimpi saya bisa tercapai semua, saya mendapatkan pekerjaan yang sesuai dengan passion saya, saya bisa membahagiakan orang-orang yang saya cintai, saya bisa keliling dunia, dan lain-lain, dan seterusnya tak habis-habis. Mengapa untuk menjadi bahagia saya membuat begitu banyak syarat, seolah otak saya mendikte hati saya begini, "Kamu boleh bahagia apabila kamu bisa mendapatkan A, B, C, D..., baru boleh bahagia." Mengapa untuk menjadi bahagia seolah banyak syarat yang harus kita capai? Tidak bisakah kita bahagia dengan sederhana bukankah menjadi bahagia itu sendiri adalah hal yang sederhana? Mengapa hal yang sederhana selalu tidak sesederhana itu? Pusing yah saya tanya terus? Saya juga.

Apabila kita lihat kembali, benarkah kebahagiaan itu diukur oleh sesuatu yang sifatnya measurable seperti hal-hal keduniawian? Atau adakah arti lain dari bahagia itu sendiri? Pernahkah kita berpikir kembali, jikalau saya sudah mendapatkan segala syarat-syarat bahagia saya, benarkah itu akan jadi jaminan kalau saya akan serta merta bahagia?

Menjadi bahagia itu adalah sebuah kekayaan batiniah yang tidak ada harganya dan tidak bisa diukur oleh apa pun. Pada akhirnya yang menjadi syarat utama dalam menjadi bahagia adalah hidup yang mengacu pada 'kekinian', masa kini. Hidup yang present. Memandang hidup bukan dari hari kemarin yang sudah berlalu atau dari hari esok yang belum tiba, melainkan hari ini. Sekarang. Detik ini juga. Bahagia itu sekarang. Dibutuhkan sebuah kemampuan untuk bisa berkontak dengan masa sekarang dan tinggal dalam situ juga.

Bahagia itu bukan sesuatu yang dipikir-pikir tapi sesuatu yang dirasa. Menjadi bahagia itu sederhana, ada di setiap kesempatan, setiap harinya, karena bahagia itu di mana-mana. 

15.8.13

Hari 3: Tuhan tahu tapi menunggu


pic: thenuliya blog


Saya suka sekali dengan kutipan di atas, 'Tuhan tahu tapi menunggu'. Kutipan itu milik Leo Tolstoy seorang penulis besar dari Rusia. Kutipan itu rasanya selalu menyentuh hati di masa-masa yang kelabu yang tidak tahu kepastian.

Saya selalu benci apabila harus menunggu. Menunggu itu membosankan dan menyebalkan karena kita seolah diombang ambing pada sebuah keputusan yang tidak bisa kita kontrol. Kita harus sabar menunggu berharap agar pihak yang memberi keputusan bisa segera menjawab: ya atau tidak. Bukankah itu menyebalkan? 

Tapi tidakkah kamu merasa kalau dalam hidup manusia kita terus-terusan menunggu? Sedari dalam perut ibu, kita harus menunggu 9 bulan untuk bisa keluar  ke dunia. Perhatikan deh, dalam setiap fase hidup kita, menunggu menjadi sesuatu yang familiar, adalah sesuatu yang sebenarnya kita lakukan sehari-hari, dari mulai menunggu bis, menunggu teman sampai akhirnya menunggu untuk dipanggil lagi oleh-Nya.

Menurut saya menunggu adalah sebuah situasi sebelah pihak di mana kita berharap agar pihak lainnya segera memberi respon. Namun terkadang, pihak lain ini tidak tahu kalau dia ditunggu. Terkadang si pihak lain ini tidak sadar atau memang blegug siah yang dengan ego sok pentingnya tidak segera memberikan keputusan atau reaksi. Kenapa yah? Siapa yang tahu? 

Ketika kita menunggu, belum tentu pihak tersebut benar-benar akan merespon sesuai dengan apa yang kita harapkan, bisa saja dia sebenarnya menolak atau lupa. Lalu kita yang menunggu? Akan terus menunggu tanpa tahu jawaban. Menurut kalian ketika kita menunggu haruskah kita mengetahui kepastian apakah pihak lain yang kita tunggu ini sebenarnya akan memberi reaksi atau menjawab semua penungguan kita? Sepertinya kecil sekali kemungkinannya akan adanya kepastian itu. Maka itu terkadang saat menunggu kita membuat deadline sendiri, sampai tenggang waktu kapankah kita bersedia menunggu. 

Menunggu itu adalah sebuah proses akhir, ketika segalanya sudah kita kerahkan sudah kita usahakan semaksimal mungkin. Menunggu itu menanti akan sesuatu yang diharapkan agar bisa terwujud. Bisa saja kita menunggu hanya 1 jam atau bahkan bisa sampai bertahun-tahun. 

Sebenarnya apa yang membuat seseorang betah menunggu? Yak. Itu adalah harapan. Ketika harapan itu ada, ada suatu dorongan energi dari hati kita untuk mencoba, meski harapan itu hanya 1% jumlahnya namun ketika harapan itu ada, seolah kinerja untuk mewujudkannya pasti akan berlipat-lipat jumlahnya.

Ada kalanya ketika menunggu kita malah menemukan hal lain yang lebih baik dari yang kita tunggu. Bahwa menunggu adalah proses pemurnian kita untuk melihat ulang lagi dan memeriksa keseluruhannya. Proses menunggu ini terkadang malah sebuah pembelajaran untuk lebih mengenal diri dan melihat situasi lebih dalam lagi, lebih dekat lagi, bukan hanya permukaan dan ecek-ecek saja.

Ketika kita menunggu yakinlah bahwa ada sesuatu yang sifatnya besar akan datang, yang pasti kita sedang disiapkan untuk momen tersebut. Bahwa dalam hidup manusia itu harus sabar dan nrimo kalau kita ini bukan siapa-siapa yang bisa mengatur segalanya. Bahwa semata-mata ada Yang Lebih Besar dari kita yang juga menunggu momen yang pas karena segala sesuatu ada masanya.

***

Rancangan-Ku adalah rancangan damai sejahtera dan bukan rancangan kecelakaan, untuk memberikan kepadamu hari depan yang penuh harapan. (Yer 29:11)

14.8.13

Hari 2: Perlukah ucapan selamat tinggal?

pic: google

Menurut kamu, ketika kita akan pergi ke sebuah tempat lain dan meninggalkan tempat yang lama perlukah kita mengadakan sebuah perayaan perpisahan dan ucapan selamat tinggal? Perlukah kita menangis dan berpelukan perpisahaan seolah kita tidak akan bertemu lagi suatu hari nanti?

Bagi saya itu perlu. Saya adalah tipe manusia yang sangat lekat dengan sesuatu dan seseorang. Bahwa apa yang saya punya di sekitar saya seolah adalah milik saya yang tidak bisa saya lepaskan begitu saja tanpa adanya sebuah prosesi yang dinamakan perpisahan.

Saya mulai memperhatikan hati saya sendiri ketika ada tiba saatnya saya akan berpisah dengan sesuatu. Saya selalu menjadi seseorang yang paling berat meninggalkan sesuatu dan maju ke sebuah tahap lainnya. Padahal masa-masa itu sudah berakhir dan memang sudah kadaluarsa sehingga harus diganti dengan sesuatu yang baru. Saya rasa masalah saya ini adalah hati saya selalu takut dan ngeri melepaskan segala sesuatu yang saya miliki dan apa yang sudah familiar untuk saya.

Ada seorang teman yang mengatakan bahwa ketika tiba saatnya untuk berpisah maka dia akan menjadi seseorang yang tidak menangis dan bersedih, justru dia merasa bersyukur karena sudah bisa melewati momen yang special ini dan semakin tersadar bahwa dia memiliki sesuatu yang berharga dalam hidup dia. Saya rasa prespektif dia sangat bagus dan dia sangat optimis dalam melihat suatu keadaan. Lalu dia pun berkata bahwa dia ada sebuah keyakinan dalam dirinya bahwa suatu hari nanti pasti akan bertemu kembali.

Saya seharian berpikir mungkin saya ini tipe orang yang pesimis. Bahwa saya selalu tidak bisa melihat sebuah kesempatan yang ada di masa yang akan datang; jikalau kita akan bertemu kembali. Bisa saja ketika kita akan bertemu kembali, saya bukanlah seseorang yang sama dengan saya yang sekarang, bisa saja kita berubah menjadi pribadi yang lain yang saya sendiri tidak bisa bayangkan. Lalu pasti momen itu berbeda dan berubah. Ya kan?

Saya merasa bahwa ketika sesuatu itu berubah, maka dia tidak akan bisa kembali seperti semula. There's no way back. Tidak ada suatu perubahan yang akan kembali menjadi sedia kala seperti pertama kali. Saya mempunyai sebuah pemikiran kalau ketika masa itu berakhir maka itu akan berakhir. Titik. Hal-hal yang tertinggal adalah kenangan dan momen-momen yang akan selalu tersimpan di labirin otak kita. Itu yang kita punya.

Sehingga mungkin itulah alasan mengapa setiap kali saya berada di suatu masa perpisahan, saya akan menangis sekeras-kerasnya karena adanya rasa takut kehilangan akan apa yang saya punya sekarang. Bahwa tetap saja perpisahaan itu penting bagi saya dan ucapan selamat tinggal selalu merupakan momen di mana saya membawa sedikit hati orang-orang yang saya tinggalkan untuk menjadi milik saya dan saya bawa.

Saya belajar benar bahwa perpisahan akan selalu kita temui di setiap hidup kita. Ada yang sifatnya sementara dan mungkin bisa bertemu kembali atau bahkan dan sifatnya permanen, selamanya. Sehingga menurut saya tetap saja perpisahaan itu penting, biarpun pasti sedih namun momen perpisahan secara baik-baik itu jauh lebih membuat hati kita ayem,dan kita bisa memanfaatkan semua kesempatan waktu yang ada untuk tetap menjaga relasi. Kita berkenalan baik-baik, perpisahan pun harus baik-baik.

Saya akui sampai sebesar ini I can’t find the good in goodbye. Tapi ya… itu adalah cara saya dan prespektif saya dalam menghadapi perpisahan. Toh tiap orang berbeda-beda, kebetulan saya ini adalah orang cengeng yang terlalu lekat dengan ini itu. Ya…itu adalah kelemahan saya, kelekatan pada sesuatu, melihat segala sesuatu sebagai sesuatu yang berharga hingga ada rasa saying untuk meninggalkan.

Dengan adanya perpisahan kita jadi makin diingatkan kembali bahwa dalam hidup ini segala sesuatu ada waktunya, ada masanya, ada limitnya, ada tenggang waktunya. Seperti  yang pernah ditulis di kitab suci; tidak ada yang abadi di bawah langit ini, tidak ada siapa memiliki siapa dan apa, karena kita ini hanyalah titipan.


13.8.13

Hari 1: Mari kita bicara tentang ketidakpastian


pic: google


Untuk orang yang super hiperaktif seperti saya, untuk duduk diam dan mengamati sekeliling adalah sebuah penyiksaan. Saya sudah jelas bukanlah seorang observer sejati. Tapi bukan berarti saya tidak mengamati, saya mengamati, dengan cara saya sendiri. 

Saya sudah kembali ke Indonesia for good, dan yang namanya balik ke negara asal dan berusaha untuk memulai ini itu dari awal itu sulit. Saya tidak pernah nyangka kalau ternyata akan sesulit dan se-tough ini keadaannya. Kalau saya rasanya harus adaptasi dari awal lagi, kalau saya ini masih kaget dengan situasi Indonesia. Tepatnya saya harus membereskan hati saya yang juga masih tertinggal sedikit di Taiwan dan belum berfungsi maksimal. Dalam otak saya, saya masih berpikir: Ini benar tidak yah, keputusan saya untuk kembali lagi ke Indonesia dan memulai lagi dari awal? Kalau ternyata salah keputusan bagaimana? Kenapa rasanya belum terbiasa, belum betah dan rasanya keputusan pulang ke Indonesia ini salah total? 

Astaga. Pertanyaan itu seperti muter-muter di otak saya dan saya jadi ketakutan sendiri dengan masa depan. Entah kenapa rasanya seperti masa depan itu menakutkan sekali dan saya jiper dengan ini itu, dengan mimpi-mimpi saya yang kini terlihat besaaaaaaaaaaarrrr sekali di mata dan tinggiiiiiiiii sekali di luar jangkauan tangan saya. Gila. Saya jadi kesal sendiri dengan sebuah kalimat mutiara: Raihlah cita-citamu setinggi langit. Buset! Tangan gue panjangnya gak setinggi langit kali! Itulah pikiran keparat dari sisi pesimis saya.

Ketika kita mau mengejar mimpi kita, betapa banyak hal yang harus kita relakan untuk ditinggalkan, betapa kenyamanan dengan situasi yang familiar itu ternyata sebenarnya tidak akan membawa kita ke mana-mana. Betapa banyak hal yang harus kita korbankan dan lepaskan, karena semata-mata itu sudah tidak pas lagi untuk hidup kita dan kita perlu ke level yang lebih tinggi dari sekedar hal yang itu-itu saja.

Saya akui sih saya masih sering kok, mengingat-ingat masa-masa menyenangkan kuliah dan ber-haha-hihi bersama teman dan seolah pada masa itu, mimpi-mimpi saya, akan dengan mudahnya digapai di tangan. Seolah saat itu prespektif saya akan menggejar mimpi dan cita-cita itu amat mudah dan seolah saya optimis sekali kalau saya akan sampai ke sana suatu hari nanti. Saya rindu dengan sosok seorang saya yang yakin bahwa saya pasti akan bisa sampai ke sana. Bukannya terus menerus doubting akan skill apa yang saya punya dan tetek bengek lainnya. 

Saya pikir mungkin ini adalah state saya di mana ketidakyakinan dengan diri sendiri itu ada, ketika saya sedang terus menerus mempertanyakan diri sendiri, apakah saya betul-betul cocok dan pantas untuk bermimpi? Lalu saya pun kembali berpikir apakah selama ini mimpi ini yang benar-benar saya mau? Ataukah ini hanya sekedar pemikiran selewat saja? Apakah hati saya mendapatkan panggilan untuk mimpi ini? Sesuatu yang tidak pasti membuat kita berpikir berulang-ulang bukan?

 Lalu saya juga membaca sebuah quote bagus milik Descartes: In order to determine whether there is anything we know with certainty, we first have to doubt anything. Mungkin ketidakpastian dan ketidakyakinan itu sebenarnya penting untuk kita agar kita tidak sombong-sombong amat, bahwa kita juga musti ingat kalau ada beberapa hal yang di luar jangkauan kita yang must kita tilik lebih dalam lagi dari hati dan doa-doa panjang yang tidak putus. Bahwa terkadang tidak yakin mengajarkan kita untuk melihat lebih dalam lagi akan apa yang kita mau dan mengkaji ulang dengan hati. 

Kembali lagi, dengan pernyataan klasik: hidup ini adalah perjalanan bukan tujuan. Kita akan selalu mencari terus menerus, sebenarnya mau di bawa ke mana kita saat ini dan kita akan kembali lagi  pada sebuah pertanyaan awal: Siapakah kita ini? 


Merekam Percakapan Sebuah Kota

Bergulat dengan hidup barangkali salah satunya adalah dengan menolak untuk terus menerus tidur-tiduran ayam di tempat tidur saat se...