13.7.13

Ada sebuah mendung menggelayut mesra di keningku


pic: flickr


Memangnya harus berapa kali lagi, dari kita untuk bertemu dan berpisah silih berganti dengan orang-orang di sekitar kita? Dikira gak sakit apa? Ada beberapa hal yang saya pelajari, bahwa ternyata ada banyak hal yang tidak bisa melulu kita hindari dan kita berlari-lari dari padanya. Sedih? Siapa yang tidak. Tapi saya tidak mau jadi orang yang terus-terusan menghindar dari segala hal yang membuat hati saya sakit. Kalau saya lebih baik menghadapinya, kalau saya itu sedih. Saya tidak lari. 

Saya sudah muak dengan diri saya yang terlalu egois dengan diri saya sendiri, dengan perasaan saya sendiri yang saya lindungi mati-matian agar tidak sakit hati. Namun nyatanya hati saya itu cengeng sekali dan manja. Saya belajar lagi kalau' kelekatan' itu sebenarnya tidak ada. Saya belajar, kalau tidak ada yang abadi di bawah langit ini, tidak ada siapa memiliki siapa dan apa memiliki apa.  Pernah dengar sebuah perikop Alkitab yang berkata: "Mintalah maka kamu akan mendapatkan." ? Di situ tertulis 'mendapatkan' bukan 'memiliki'. Tidak ada yang bisa kita miliki terus-terusan karena bisa saja itu akan memudar dan tua. Ada baiknya kalau kita itu membebaskan beberapa hal yang berarti di hidup kita. Bukannya karena sesuatu yang berarti ini tidak berarti lagi tapi karena kita harus belajar untuk melepaskan dan bertumbuh menjadi pribadi yang lebih baik lagi.

Kini saya menulis dari hati, bahwa saya, takut setengah mati dengan mimpi-mimpi besar dan masa depan di depan mata. Saat ini saya rasanya seperti ditinggal di sebuah terowongan panjang dan saya harus berjalan sendirian. Di fase transisi ini saya gemetar dengan dunia seluas-luasnya. Saya harus menuliskannya agar saya tetap waras dan saya menuliskan ini untuk diri saya sendiri di masa depan, sebagai sebuah ingatan bahwa saya pernah ada di titik rendah ini. Betapa proses menjadi dewasa itu menyakitkan, seperti sebuah quote: "In life, you learn lesson. Sometimes you learn them the hard way and sometimes you learn them too late." Di titik hidup saya ini saya takut dan rasanya saya tidak yakin dengan diri sendiri seperti semua pilihan yang kamu pilih itu ganjil tapi kamu dipaksa untuk memilih. 

Saya di sini, di ruang nyaman saya yang sebentar lagi harus saya tinggalkan untuk mengejar mimpi-mimpi saya dan membuka tantangan serta kesempatan baru. Untuk mengingat lagi sebenarnya saya ini siapa dan apa. Mulai bertanya pada diri sendiri: Sebenarnya saya ini diciptakan untuk apa? Ingin menjadi yang seperti apa? 

Ada beberapa hal yang tidak kamu mengerti sekarang. Tapi pasti jawabannya yet to come. Saya sekarang sampai pada sebuah pemikiran kalau ada beberapa hal yang diciptakan untuk tidak kita mengerti alasannya tapi semata-mata untuk kita terima sebagaimana adanya dan percayakan seluruhnya pada Tuhan. Tidak semua hal berubah menjadi seperti yang kamu ingini, ada beberapa hal yang diluar kontrol kita.

Oh, iya satu lagi. Jangan expect apapun dari orang lain. Ketika kamu berani berharap orang lain melakukan sesuatu untuk kamu, hal yang kamu dapatkan hanyalah kecewa. Ketika kita ingin melakukan sesuatu untuk orang lain jangan harapkan sebuah balasan yang sama seperti yang kita mau. Yang terbaik adalah menerima segala sesuatu yang tidak bisa kamu ubah. Accept what you can't change and appreciate something that you have now. Dan bahagia itu simply state of mind, bahagia itu inside job, lahirnya dari diri sendiri bukan dari orang lain. 

Udah ah. Saya sudah capek menangis terus tiap malam. Saya muak jadi anak kecil terus, saya mau jadi dewasa. 

No comments:

Post a Comment