13.6.13

Etalase Hati

Pernah jalan-jalan ke pusat perbelanjaan kan? Pasti pernah dong! Suka window shopping? Sebatas lihat-lihat saja, tanpa membeli dan mengagumi sesuatu dari kejauhan dan terdapat jarak antara barang dan mata. Karena terhalang oleh 'si kaca' yang melindungi barang yang kita inginkan itu. 

Barang tersebut sebatas sebuah tontonan yang belum tentu bisa didekati dan kalau mau didekati pun harus menimbulkan effort lebih yakni, masuk ke toko, bertanya pada mbak-mbak penjaga toko, melihat-lihat, mencoba dan biasanya pasti kita 'agak gengsi' kalau tidak membeli. Sudah terlanjur, katanya.

Sekat dan jarak

Sesuatu yang bersekat dan berjarak itu sifatnya fragile dan terlindungi dari apa pun. Dia sengaja ditaruh di sana untuk dilihat, dinikmati dan sewaktu-waktu  dikunjungi tapi itu jarang sekali. Kalau kita melihat di toko-toko barang pecah belah, kita akan melihat sesuatu yang mudah pecah belah itu akan diletakkan sendirian, dikunci dan kalau perlu ditempel tulisan besar-besar: Awas, jangan disentuh! Pecah berarti membeli! Dilihat boleh ,dipegang jangan! Hati-hati mudah pecah! Dan peringatan-peringatan sadis dilengkapi tanda seru yang tidak cukup sekali.

Mengapa harus dijaga? Pastinya karena seseorang melihat kalau barang itu sangat berharga dan mahal, sehingga amit-amit sekali kalo seandainya barang tersebut pecah, remuk menjadi serpihan. Dia pasti tidak punya nyali yang cukup untuk melihat barang tersebut berserakan dan akhirnya harus turun kasta ke tong sampah. Daur ulang atau ketok magic sepertinya tetap meninggalkan bekas dan tidak dianjurkan. 

Seperti misalnya, barang pecah belah ibu saya. Semenjak kami kedatangan adik kecil yang sekarang sedang hobi pegang sana sini, alhasil semua barang-barang beling yang imut lucu di rumah terpaksa disingkirkan. Kosong ludas dari rak-rak di rumah. Tidak ada secuil pun vas milik ibu yang 'nongkrong santai' di rak atau meja. Kami terlalu takut akan terjadi peperangan sana sini oleh si adik kecil yang maksudnya hanya penasaran ingin memegang tapi alhasil jadi 'melempar'. 

Ada baiknya memang kita ini memisahkan dan menyembunyikan sesuatu yang sifatnya mudah pecah. Entah disingkirkan dengan jarak, pergi jauh-jauh atau justru tetap ditempat tapi diberi sekat, dimasukkan ke sebuah kotak yang aman dan tentram. Tapi apakah selamanya barang tersebut akan disimpan baik-baik dan disingkirkan terus menerus? Apa faedahnya?

Kita yang terlalu takut

Manusia itu diciptakan dengan hati. Sebuah tempat di mana perasaan dan emosi muncul. Dan terkadang si hati ini sangat fragile tidak ketulungan dan dibutuhkan beberapa pelindung, salah satunya sekat dan jarak. Kita melindungi hati kita ini dengan segala kekuatan otak yang kita punya. Padahal pada akhirnya, siapa tahu sebenarnya hati itu kegunaannya untuk disakiti? Agar kita lebih eling dengan kehidupan. 

Bahwa mungkin saja kalau sebenarnya hati itu terlalu manja dan pemalu, sehingga suka sembunyi-sembunyi dan pelan-pelan merasa suatu perasaan. Manusia-manusia sekarang akhirrnya berubah jadi makhluk yang keras dan kuat. Mereka tidak lagi menggunakan hati meraka, mereka menumpulkan hati mereka, mengkebiri hati mereka, hingga akhirnya jadi mandul tidak berbuah.

Saya menyadari sendiri bahwa saya ini juga sering ketakutan sendiri untuk menjadi seseorang yang terlalu perasa dan melulu menggunakan hati. Terkadang saya sering mendisfungsikan hati saya agar saya jadi orang tidak usah pedul-peduli amat dengan orang lain. Kalau saya sering kali menutup hati saya rapat-rapat dari pengaruh luar dan situasi. Kalau saya tidak menerima segala situasi yang membuat saya jadi 'lemah dan rentan'. 

Apa salahnya menjadi 'lemah'? 

Dunia selalu menjagokan dia yang kuat dan tangguh bak gatot kaca, tulang besi otot baja. Tapi apakah yang kuat ini melulu baik dan hebat? Belum tentu. Karena saudara-saudara, dengan sepenuh hati ingin saya katakan bahwa, menjadi lemah adalah kekuatan. Menjadi lemah membiarkan kita menerima apa yang harusnya diterima oleh hati dan tidak memberontak. Seperti air yang mengalir dan menerima apapun jenis wadahnya, apapun jenis medianya, beradaptasi. 

Begitu juga dengan hati. Hati yang hidup tanpa tameng, tanpa perlindungan menjadi lemah namun dia jadi bertumbuh, dia jadi berpengalaman dan kaya. Hati jadi tersadar bahwa kegunaan dia sesungguhnya bukan buat disimpan, ditaruh dan dilindungi, tapi menjadi kekuatan dalam menjalani hidup. 

Akhir-akhir ini saya merasa kalau ada baiknya jika menghadapi ketakutan-ketakutan itu baiknaya dihadapi saja tanpa perlu embel-embel 'perlindungan'. Bahwa mungkin baikknya hati ini yang kini jadi kekuatan saya untuk tetap terbuka, waspada dan belajar. Melihat sesuatu bukan hanya sekedar melihat tapi juga memahami  sepenuhnya, kalau perpisahan, perubahan hidup yang besar , ketakutan untuk tumbuh dan kelekatan itu adalah isu-isu yang harus dihadapi hati berulang-ulang kali. Terus menerus dengan dosis yang berbeda.

Suara hati

Jangan tuli dan jangan pura-pura dungu dengan suara hati karena hati itu adalah Rumah Tuhan, di mana kita bisa bluetooth-an dengan Tuhan dan berkoneksi singkat dengan Tuhan. Kalau jiwa kita itu adalah jiwa yang juga berasal dari Tuhan. Hingga fatal akhirnya kalau kita jadi 'bolot abis' dengan suara hati ini. Dengarkan dan kenali lagi. 

Jangan kau taruh hatimu di etalase mana pun karena bukan itu fungsi dari hati. Hatimu itu kuat lebih kuat dari apa pun yang kamu punya. Hati itu hanya ingin bertumbuh dan terus berbuah. Biarkan dirimu bisa jatuh hati berulang-ulang kali pada hidup. Itulah yang membuat hidup manusia lebih beresensi. 


***


“To love at all is to be vulnerable. Love anything and your heart will be wrung and possibly broken. If you want to make sure of keeping it intact you must give it to no one, not even an animal. Wrap it carefully round with hobbies and little luxuries; avoid all entanglements. Lock it up safe in the casket or coffin of your selfishness. But in that casket, safe, dark, motionless, airless, it will change. It will not be broken; it will become unbreakable, impenetrable, irredeemable. To love is to be vulnerable.”

C.S. Lewis



No comments:

Post a Comment