Bersedih itu tidak setiap hari


pic: tumblr


Ada beberapa hal yang kita tidak mengerti mengapa harus terjadi. Mengapa tidak sesuai dengan apa yang kita inginkan? Mengapa nampaknya sulit sekali, meski sudah mencoba namun rasanya tidak sampai-sampai? Atau mungkin salah tujuan?

Ada saatnya kita mencoba dengan sekuat tenanga tapi hasilnya tidak sebesar apa yang diusahakan. Salah siapa? Tidak ada. Mungkin timing yang kurang pas. Otak yang berpikir mungkin saja sebenarnya menunggu waktu yang pas itu omong kosong. Karena tidak ada yang namanya 'waktu yang tepat' itu. Itu cuman kata-kata penghiburan saja. 

Benar begitu? Mungkin tidak.

Seperti yang sering ditulis di alkitab: Segala sesuatu ada masanya. 

Tidak selamanya saya bersedih terus menerus dan tidak selamanya juga saya senang-senang terus. Semua harus balance. Biar normal.

Sesuatu yang menyedihkan itu tidak melulu harus dihindari dan alangkah baiknya kalau kita mengaku pada diri sendiri jika kita memang sedang dalam tahap kesedihan itu sendiri. Berikan waktu pada hati kita untuk membersihkan dirinya sendiri karena selama ini sudah sesak dan membeludak. Kalau terkadang hati juga tidak selamanya harus berpura-pura berani dalam menghadapi realitas yang tidak sesuai dengan apa yang kita mau.

Bahwa ada baiknya kalau kita mengakui bahwa: 'Saya sedih, saya kecewa, saya patah hati, saya muak, saya capek, saya kapok.' Bahwa perasaan-perasaan itu ada baiknya kalau mengalir saja demikian tanpa harus 'sok tegar' dengan pedihnya hati. Bahwa sebenarnya hati itu masih ada rasa. Dan berterima kasihlah bahwa kamu masih punya perasaan. Kalau kamu bukan makhluk berdarah dingin; kalau kamu juga ada perasaan.

Mungkin ada baiknya kalau saya bersedih saja dahulu. Melegakan hati yang cengeng dan basah. 

Saya memilih untuk tidak melewati proses-proses pemulihan hati ini. Saya mau pelan-pelan saja membalut luka dan meneteskan betadine. Lalu merawatnya. Bahwa yang saya butuhkan hanya waktu saja. 


Comments

Popular Posts