16.6.13

Perempuan: Jika menjadi cantik itu artinya....

Saya punya cerita yang menarik sekali untuk diperbincangkan. Jadi begini ceritanya, akhir-akhir ini sering kali saya memperhatikan perlakuan teman-teman saya, baik yang laki-laki maupun perempuan. Saya jadi sadar bahwa kecantikan perempuan itu selalu saja menjadi bahan pembicaraan tapi dengan sudut pandang yang berbeda. Bagi teman-teman laki-laki saya kecantikan perempuan itu sebagai objek, sedangkan bagi teman perempuan saya kecantikan perempuan itu menjadi subjek. 

Kenapa yah, menjadi suatu kebutuhan terpendam bagi perempuan (termasuk saya) untuk dibilang cantik dan diakui kecantikannya oleh laki-laki? Kenapa coba? Saya makin gerah dengan kebutuhan 'penting' ini. Dan kenyataan itu melekat hadir di kehidupan sehari-hari. Seolah itu menjadi suatu ego yang musti ditanyakan terus menerus tidak ada habis-habisnya. Sebenarnya adakah yang lebih penting selain menjadi cantik?

Seharian ini saya berpikir, mengapa kecantikan perempuan itu diukur dari sudut pandang laki-laki yang akhirnya lalu dijadikan sebagai tumpuan nilai 'cantik' di masyarakat. Bahwa yang cantik itu yang begono begini, lalu jika misalnya perempuan ini tidak begono dan begini bagaimana? Lalu akhirnya di otak perempuan tersimpan sebuah gambaran kalau 'nilai cantik' itu yang putih mulus, rambut panjang lurus, mancung, kurus, berpayudara besar, berpantat bulat dan sebagainya. Gawatnya lagi, kalau media, seperti televisi, majalah, dan iklan yang mulai memasarkan definisi cantik ke masyarakat, padahal maksud lain media itu adalah memasarkan prodak mereka agar bisa laku di pasaran. Wahai perempuan sekalian, kita dijebak mentah-mentah!

Misalnya yah, saat itu ada perempuan cantik sedang jalan, lalu dia menyenggol teman laki-laki saya dan teman saya ini kaget karena dia sedang bawa gelas minum teh yang nyaris tumpah. Lalu serta merta teman laki-laki saya nyeletuk: "Untung cantik, kalo enggak udah gua maki-maki." Saat itu sih saya ketawa-ketawa aja, tapi dalam hati saya berpikir: Oh jadi harus jadi cantik dulu yah biar dimaklumin kalo gak sengaja nyenggol? 

Inikah yang diinginkan perempuan untuk menjadi cantik agar bisa mendapat pemakluman yang sering kali didapatkan oleh 'si cantik-cantik' ini? Hingga tanpa kita sadari, kita perempuan hanya ingin menjadi cantik saja tanpa ingin keinginan-keinginan lain yang kiranya lebih ke karakter dan talenta. Kalau seandainya benar begitu. Kasihan. 

Pernah ada sebuah tulisan yang kebetulan saya baca di CNN. Saya juga bukan penggemar gembira CNN yang selalu mengikuti setiap beritanya tapi kebetulan saya suka liat-liat cepat dan menemukan sebuah opini bagus mengenai gender. Ditulis kalau si penulis ini seorang ayah yang prihatin dengan pola didik sekolah yang  membeda-bedakan jenis kelamin. Kalau laki-laki diberi penghargaan yang sifatnya skill seperti pemain terbaik sepakbola, sedangkan perempuan diberi penghargaan yang sifatnya penampilan seperti best dress. Mengapa ada perbedaan yang nyata di sini? Mengapa pria mendapatkan penghargaan karena keahlian dan talenta yang dia punya, sedangkan perempuan diberikan penghargaan karena penampilan dia. Penampilan dan perempuan sepertinya masih melekat sampai sekarang. Tidak bisa dipisahkan.

Manusia itu tidak hanya tubuh tapi juga ada akal budi, ada jiwa, ada hati dan ada talenta. Tubuh itu sifatnya fana. Tapi akal budi, jiwa, hati dan talenta itu yang akan manusia bawa sampai liang kubur. Itu yang menjadi sebuah 'alat' di kehidupan untuk bisa menjadi manusia yang bebas dan berguna bagi manusia yang lain. Bahwa jika hanya ada tubuh saja itu mati. Dan ketika menjadi cantik saja tanpa akal budi, jiwa, hati, dan talenta itu kosong. 

Sekarang pertanyaannya apakah menjadi cantik itu salah? Menurut saya itu tidak salah. Saya juga 'seneng-seneng aja' kalau dibilang cantik. Namun kembali lagi pada sebuah pertanyaan perspektif: menjadi cantik seperti apa yang saya inginkan? 

Saya ogah menjadi cantik kalau pada akhirnya saya harus mengikuti keinginan masyarakat bahwa cantik itu begono begini. Karena percayalah saudara-saudara, nilai-nilai yang ada di masyarakat itu kadang hilang kemanusiannya dan entah otaknya di mana. Saya ogah menjadi cantik jikalau saya sebagai pribadi hanya dinilai dari penampilan saja dan saya harus manut dengan opini mereka: bahwa pekerjaan perempuan adalah menjadi cantik. Saja. 

Saya ingin menjadi cantik, jikalau saya tidak perlu mengikuti keinginan laki-laki untuk mengubah ini itu di tubuh saya hanya karena menurut dia itulah definisi cantik. Saya ingin menjadi cantik, jikalau saya tidak perlu memikirkan penampilan saya melulu dan saya bisa dihargai karena pemikiran saya dan karya saya. 

Hingga akhirnya saya sampai pada pemikiran bahwa terkadang perempuan harus sadar dengan keperempuanannya bahwa menjadi cantik melulu tidak akan membawa perempuan ke mana-mana karena perempuan bukan objek seksual dan sekali lagi perempuan harus sadar bahwa tubuhnya adalah miliknya, bukan milik society. Hingga society tidak punya hak untuk menghakimi tubuh perempuan. Dan menurut saya perempuan harusnya berani untuk mau dan mampu mempertanyakan ke-eksistensinya sebagai manusia:  Kalau kamu hidup sebenarnya untuk apa? 

13.6.13

Etalase Hati

Pernah jalan-jalan ke pusat perbelanjaan kan? Pasti pernah dong! Suka window shopping? Sebatas lihat-lihat saja, tanpa membeli dan mengagumi sesuatu dari kejauhan dan terdapat jarak antara barang dan mata. Karena terhalang oleh 'si kaca' yang melindungi barang yang kita inginkan itu. 

Barang tersebut sebatas sebuah tontonan yang belum tentu bisa didekati dan kalau mau didekati pun harus menimbulkan effort lebih yakni, masuk ke toko, bertanya pada mbak-mbak penjaga toko, melihat-lihat, mencoba dan biasanya pasti kita 'agak gengsi' kalau tidak membeli. Sudah terlanjur, katanya.

Sekat dan jarak

Sesuatu yang bersekat dan berjarak itu sifatnya fragile dan terlindungi dari apa pun. Dia sengaja ditaruh di sana untuk dilihat, dinikmati dan sewaktu-waktu  dikunjungi tapi itu jarang sekali. Kalau kita melihat di toko-toko barang pecah belah, kita akan melihat sesuatu yang mudah pecah belah itu akan diletakkan sendirian, dikunci dan kalau perlu ditempel tulisan besar-besar: Awas, jangan disentuh! Pecah berarti membeli! Dilihat boleh ,dipegang jangan! Hati-hati mudah pecah! Dan peringatan-peringatan sadis dilengkapi tanda seru yang tidak cukup sekali.

Mengapa harus dijaga? Pastinya karena seseorang melihat kalau barang itu sangat berharga dan mahal, sehingga amit-amit sekali kalo seandainya barang tersebut pecah, remuk menjadi serpihan. Dia pasti tidak punya nyali yang cukup untuk melihat barang tersebut berserakan dan akhirnya harus turun kasta ke tong sampah. Daur ulang atau ketok magic sepertinya tetap meninggalkan bekas dan tidak dianjurkan. 

Seperti misalnya, barang pecah belah ibu saya. Semenjak kami kedatangan adik kecil yang sekarang sedang hobi pegang sana sini, alhasil semua barang-barang beling yang imut lucu di rumah terpaksa disingkirkan. Kosong ludas dari rak-rak di rumah. Tidak ada secuil pun vas milik ibu yang 'nongkrong santai' di rak atau meja. Kami terlalu takut akan terjadi peperangan sana sini oleh si adik kecil yang maksudnya hanya penasaran ingin memegang tapi alhasil jadi 'melempar'. 

Ada baiknya memang kita ini memisahkan dan menyembunyikan sesuatu yang sifatnya mudah pecah. Entah disingkirkan dengan jarak, pergi jauh-jauh atau justru tetap ditempat tapi diberi sekat, dimasukkan ke sebuah kotak yang aman dan tentram. Tapi apakah selamanya barang tersebut akan disimpan baik-baik dan disingkirkan terus menerus? Apa faedahnya?

Kita yang terlalu takut

Manusia itu diciptakan dengan hati. Sebuah tempat di mana perasaan dan emosi muncul. Dan terkadang si hati ini sangat fragile tidak ketulungan dan dibutuhkan beberapa pelindung, salah satunya sekat dan jarak. Kita melindungi hati kita ini dengan segala kekuatan otak yang kita punya. Padahal pada akhirnya, siapa tahu sebenarnya hati itu kegunaannya untuk disakiti? Agar kita lebih eling dengan kehidupan. 

Bahwa mungkin saja kalau sebenarnya hati itu terlalu manja dan pemalu, sehingga suka sembunyi-sembunyi dan pelan-pelan merasa suatu perasaan. Manusia-manusia sekarang akhirrnya berubah jadi makhluk yang keras dan kuat. Mereka tidak lagi menggunakan hati meraka, mereka menumpulkan hati mereka, mengkebiri hati mereka, hingga akhirnya jadi mandul tidak berbuah.

Saya menyadari sendiri bahwa saya ini juga sering ketakutan sendiri untuk menjadi seseorang yang terlalu perasa dan melulu menggunakan hati. Terkadang saya sering mendisfungsikan hati saya agar saya jadi orang tidak usah pedul-peduli amat dengan orang lain. Kalau saya sering kali menutup hati saya rapat-rapat dari pengaruh luar dan situasi. Kalau saya tidak menerima segala situasi yang membuat saya jadi 'lemah dan rentan'. 

Apa salahnya menjadi 'lemah'? 

Dunia selalu menjagokan dia yang kuat dan tangguh bak gatot kaca, tulang besi otot baja. Tapi apakah yang kuat ini melulu baik dan hebat? Belum tentu. Karena saudara-saudara, dengan sepenuh hati ingin saya katakan bahwa, menjadi lemah adalah kekuatan. Menjadi lemah membiarkan kita menerima apa yang harusnya diterima oleh hati dan tidak memberontak. Seperti air yang mengalir dan menerima apapun jenis wadahnya, apapun jenis medianya, beradaptasi. 

Begitu juga dengan hati. Hati yang hidup tanpa tameng, tanpa perlindungan menjadi lemah namun dia jadi bertumbuh, dia jadi berpengalaman dan kaya. Hati jadi tersadar bahwa kegunaan dia sesungguhnya bukan buat disimpan, ditaruh dan dilindungi, tapi menjadi kekuatan dalam menjalani hidup. 

Akhir-akhir ini saya merasa kalau ada baiknya jika menghadapi ketakutan-ketakutan itu baiknaya dihadapi saja tanpa perlu embel-embel 'perlindungan'. Bahwa mungkin baikknya hati ini yang kini jadi kekuatan saya untuk tetap terbuka, waspada dan belajar. Melihat sesuatu bukan hanya sekedar melihat tapi juga memahami  sepenuhnya, kalau perpisahan, perubahan hidup yang besar , ketakutan untuk tumbuh dan kelekatan itu adalah isu-isu yang harus dihadapi hati berulang-ulang kali. Terus menerus dengan dosis yang berbeda.

Suara hati

Jangan tuli dan jangan pura-pura dungu dengan suara hati karena hati itu adalah Rumah Tuhan, di mana kita bisa bluetooth-an dengan Tuhan dan berkoneksi singkat dengan Tuhan. Kalau jiwa kita itu adalah jiwa yang juga berasal dari Tuhan. Hingga fatal akhirnya kalau kita jadi 'bolot abis' dengan suara hati ini. Dengarkan dan kenali lagi. 

Jangan kau taruh hatimu di etalase mana pun karena bukan itu fungsi dari hati. Hatimu itu kuat lebih kuat dari apa pun yang kamu punya. Hati itu hanya ingin bertumbuh dan terus berbuah. Biarkan dirimu bisa jatuh hati berulang-ulang kali pada hidup. Itulah yang membuat hidup manusia lebih beresensi. 


***


“To love at all is to be vulnerable. Love anything and your heart will be wrung and possibly broken. If you want to make sure of keeping it intact you must give it to no one, not even an animal. Wrap it carefully round with hobbies and little luxuries; avoid all entanglements. Lock it up safe in the casket or coffin of your selfishness. But in that casket, safe, dark, motionless, airless, it will change. It will not be broken; it will become unbreakable, impenetrable, irredeemable. To love is to be vulnerable.”

C.S. Lewis



3.6.13

Bersedih itu tidak setiap hari


pic: tumblr


Ada beberapa hal yang kita tidak mengerti mengapa harus terjadi. Mengapa tidak sesuai dengan apa yang kita inginkan? Mengapa nampaknya sulit sekali, meski sudah mencoba namun rasanya tidak sampai-sampai? Atau mungkin salah tujuan?

Ada saatnya kita mencoba dengan sekuat tenanga tapi hasilnya tidak sebesar apa yang diusahakan. Salah siapa? Tidak ada. Mungkin timing yang kurang pas. Otak yang berpikir mungkin saja sebenarnya menunggu waktu yang pas itu omong kosong. Karena tidak ada yang namanya 'waktu yang tepat' itu. Itu cuman kata-kata penghiburan saja. 

Benar begitu? Mungkin tidak.

Seperti yang sering ditulis di alkitab: Segala sesuatu ada masanya. 

Tidak selamanya saya bersedih terus menerus dan tidak selamanya juga saya senang-senang terus. Semua harus balance. Biar normal.

Sesuatu yang menyedihkan itu tidak melulu harus dihindari dan alangkah baiknya kalau kita mengaku pada diri sendiri jika kita memang sedang dalam tahap kesedihan itu sendiri. Berikan waktu pada hati kita untuk membersihkan dirinya sendiri karena selama ini sudah sesak dan membeludak. Kalau terkadang hati juga tidak selamanya harus berpura-pura berani dalam menghadapi realitas yang tidak sesuai dengan apa yang kita mau.

Bahwa ada baiknya kalau kita mengakui bahwa: 'Saya sedih, saya kecewa, saya patah hati, saya muak, saya capek, saya kapok.' Bahwa perasaan-perasaan itu ada baiknya kalau mengalir saja demikian tanpa harus 'sok tegar' dengan pedihnya hati. Bahwa sebenarnya hati itu masih ada rasa. Dan berterima kasihlah bahwa kamu masih punya perasaan. Kalau kamu bukan makhluk berdarah dingin; kalau kamu juga ada perasaan.

Mungkin ada baiknya kalau saya bersedih saja dahulu. Melegakan hati yang cengeng dan basah. 

Saya memilih untuk tidak melewati proses-proses pemulihan hati ini. Saya mau pelan-pelan saja membalut luka dan meneteskan betadine. Lalu merawatnya. Bahwa yang saya butuhkan hanya waktu saja. 


Merekam Percakapan Sebuah Kota

Bergulat dengan hidup barangkali salah satunya adalah dengan menolak untuk terus menerus tidur-tiduran ayam di tempat tidur saat se...