29.4.13

Tidak Ada Eskapisme dalam Hal Menerima


pic: tumblr


"Tau kan apa itu eskapisme?" 
" Kehendak atau kecenderungan menghindar dari kenyataan dengan mencari hiburan dan ketentraman di dalam khayal atau situasi rekaan." 
" Kamu udah kayak kamus berjalan saya."
" Emang kenapa kamu tanya-tanya arti?"
" Saya sedang dalam fase itu."
"Oh."
"Oh doang?"
" Oh ...ya?"
"Iya."

***

Ada hari-hari di mana sepi dan sendiri itu lebih baik dari pada bergerombol dan membicarakan hal-hal yang menyebalkan di kuping. Lalu dalam hati berkutat dengan seribu jarum yang nyelekit dan kau tetap tersenyum riang. Namun binar matamu tidak pernah bisa bohong karena ia relevan dengan hatimu. Karena kata orang mata adalah cerminan hati. Kau pun mulai malas bersuara hingga menoleh pun enggan.

Ketika sesuatu yang kau rasakan bukanlah sebuah penjelasan karena kau tahu bahwa perasaanmu tidak seberapa penting dibandingkan dengan perasaan orang lain. Bahwa kau ketakutan sendiri jikalau menyakiti perasaan orang lain dan berkewajiban penuh untuk tetap menjaga perasaan orang lain meski akhirnya ada saatnya kau tidak tahan lagi hingga harus menangis diam-diam sampai ketiduran. Lalu pagi hari kau terbangun dengan mata sembab. Kau berterima kasih dengan sepenuh hati pada kekuatan make up: eyeliner dan eye shadows karena menyamarkan keganjilan. Hingga kau bisa tersenyum lagi meski tanpa binar mata. Binar mata tidak bisa dibeli. Sayang sekali. 

Kau lelah harus terus menerus takut berhadapan dengan ketakutan sendiri yang sebenarnya mungkin hanya sebuah pikiran. Kau kecewa dengan tulus, sakit hati yang datang sendiri dan kau tidak memberontak menerimanya  karena kau tahu mungkin saja itu salahmu bukan salah orang lain. Lalu kau menyalahkan dirimu sendiri karena kau tak sanggup. Karena kau tidak cukup kuat, menjadi pengecut dan aroma kerja kerasmu kurang berkarat, lalu darah yang timbul dari lukamu kurang anyir dan berbau. 

Kau tidur sendirian dengan mimpi yang berloncat-loncatan mengejekmu seakan kau tidak akan ada jalan ke sana. Menjalar ke sulur api cita-citamu yang serta-merta padam dihembus angin tanpa memberi kesempatan pada semangat. Rasakan! Baui! Bahwa kau bersedih di momen ini dengan segala rasa pahit di tenggorokanmu lalu kau menyalak dengan sarkasme dan mulai menertawakannya. 

Hingga kau sampai pada sebuah pemikiran sendiri bahwa terkadang menerima kesedihan dan kecewa itu lebih mudah dari pada melawannya. Bahwa kau berlapang dada, seluas-luasnya pada rasa sedih yang tidak bisa kau halangi sendiri. Kau kecewa karena berharap orang lain bisa melakukan sesuatu hal untukmu dan bisa mengerti perasaanmu lalu layak untuk dicintai. Kau ngeri sekali saat tiba harinya, hatimu amburadul di tengah orang banyak dan gelak tawa. 

Kau kecewa sendiri karena orang yang kamu percaya sepenuh hati tidak selamanya bisa kau andalkan karena kembali lagi kalau kita ini hanyalah manusia yang tidak bisa mengontrol semua situasi. Kau makin menyadari bahwa kebahagiaanmu itu memang kamu yang punya dan atur. Bukan siapapun. 

Ada baiknya kalau kau menerima saja semuanya bulat-bulat, sejelas-jelasnya, sepahit-pahitnya lalu telan. Menghadapi dengan tegar bukannya lari dan menghindar. Ada saatnya kau harus berusaha untuk kuat bukan demi siapapun tapi semata-mata demi harga diri dan demi dirimu sendiri. 

Lalu saatnya nanti kau melompat terbang dengan kakimu sendiri. 





4 comments: