Sudah Congkak, Gengsian Pula

pic: google


Saya punya teman laki-laki, anak Taiwan yang menurut perkiraan saya, untuk 10 tahun ke depan pasti dia jadi executive muda yang sukses dan kaya raya. Bagaimana tidak? Dia ikut bejibun acara sekolah dengan pengalaman internship yang segudang hingga sampai internship ke Jerman! Intinya dia sudah mencuri seribu langkah maju di depan saya, dan meninggalkan  saya yang cuman bisa melihat dia dengan tatapan kagum sekaligus iri. Sambil berkata: Gila itu orang! 

Orang yang seperti DIA ini nih yang ....

Di kelas tadi, dia bercerita tentang salah satu internship dia di kapal pesiar Jerman yang sedang mampir ke Kaohsiung (kota saya). Dia bercerita tentang bagaimana dia menjadi penerjemah, jadi juru bicara Jerman-Mandarin. Kesulitan-kesulitan yang dia hadapi dan pengalaman-pengalaman menarik yang bisa dipelajari dari internship itu. Menurut saya menarik sekali mendengar pengalaman orang lain dan mengetahui sudut pandang seseorang tentang suatu hal karena pasti berbeda. 

Ada satu cerita yang menarik yang agak menggelitik saya. Di kapal cruise ini dia bertemu dengan pasangan oma opa orang Jerman. Lalu teman saya ini menjadi penerjemah pasangan oma opa bule Jerman ini, namun dia menemukan kendala, yakni kenyataan bahwa pasangan oma opa bule Jerman ini tidak mengerti apa yang  sedang teman saya bicarakan. Pasangan oma opa bule Jerman ini mengkritik teman saya bahwa bahasa Jermannya kurang jelas dan tidak ada 'melodi' nya sehingga sulit untuk dimengerti. Kemudian pasangan oma opa bule Jerman ini pun malah sibuk mengajari teman saya cara berbicara yang benar dengan 'melodi' yang tepat dan cantik. 

Apakah kalian melihat apa yang menarik? Teman saya ini orangnya terbuka sekali dengan kritik dan tidak gampang sakit hati seperti saya. Dia malah melihat itu sebagai suatu pendapat yang paling jujur tentang skill dia dalam bahasa Jerman dan cepat tanggap dengan menyadari: "Oh, skill bahasa Jerman saya sampai sini toh, oh kekurangan saya di sini toh. Oke saya terima kritik anda, terima kasih. Bisa tolong ajarkan bagaimana cara bicara yang benar?" Astaganaga! Saya salut dengan orang yang seperti ini. Karena saya sendiri belum sampai ke pemahaman belajar yang seperti ini, saya ini terlalu congkak dan gengsian orangnya. 

Orang seperti SAYA ini yang .... 

Saya rasa mental seperti saya ini yang membutuhkan perbaikan mental. Dalam artian saya ini sudah congkak, gengsian pula , sudah begitu punya nyali kecil lagi. Saya takut untuk mencoba hal-hal baru yang pasti diluar kontrol saya. Saya tidak tahu medan, lalu saya ciut di belakang dan berakhir jadi jago kandang doang! Harusnya saya ini sering-sering ditantang dengan sesuatu yang menantang biar tidak sombong.

Pemahaman pembelajaran saya ini sebatas saya menyadari saya ini pintar di kelas dan membantu teman saya yang memerlukan. Bukannya pergi ke luar dan memasukkan diri saya ke 'kandang macan bule Jerman lalu bergelut di sana'. Saya masih saja duduk-duduk manis di kelas, berbosan-bosan menunggu jam kelas selesai sambil senyum-senyum. Sudah. 

Lain halnya dengan teman saya, bahwa dia berani untuk membawa semua kemampuan yang dia punya dengan segala kerendahan hatinya untuk belajar sesuatu yang baru. Saya ini takut dikritik dan tidak suka dikritik. Kalau kata orang kritik itu adalah komentar yang membangun, saya melihatnya sebagai sesuatu yang menyakitkan dan menunding bahwa saya ini tidak sampai level standard. "Idih... Si Metta lemah sekali yee,  gitu aja sakit hati, dasar mental tempe!" Iya memang. 

Saya rasa mental-mental tempe seperti saya ini sebenarnya banyak dan kalau terlalu lama seperti ini dengan berat hati saya tegaskan: Anda tidak akan bisa ke mana-mana, saudara-saudara. Serius.

Jangan lebay

Kalau kata Bapak saya, saya ini sudah congkak, gengsian pula! Saya gengsi untuk menjadi pihak yang salah dan bodoh. Padahal untuk mencapai sesuatu yang baik dan bagus pastilah dimulai dari pemula, yang pastinya masih naif, digoblok-goblokin, bodoh, diketawain, dikritik dan seterusnya dan seterusnya. Saya ini terlalu congkak untuk belajar dari orang lain yang lebih mengerti karena menganggap saya ini sudah cukup dan bisa sendiri. Padahal skill saya ini masih level ya gitu deh.

Ada baiknya sih, agar kita ini tidak terlalu lebay dalam menghadapi kritik dan kegagalan yang pasti akan kita banyak jumpai  di kehidupan ke depannya. Bahwa kita ini ya sama-sama belajar karena hidup ini adalah panggung sandiwara, bedanya hidup kita ini tidak ada gladi resiknya semua langsung perform. Dan sayangnya, tidak ada stuntman  atau pemeran pengganti yang bisa jadi back up kita jikalau ada adegan-adegan yang berbahaya dan meregut nyawa.  Semua itu ya kita yang hadapi sebagai lakon utamanya. 

Jadi, sudahkah kita cukup berani untuk menjadi rendah hati dalam belajar dan mengambil resiko? 

Comments

Popular Posts