Day #29: Perihal Api yang Harus Terus Terjaga


puisi untuk diri

bukan waktunya untuk terus-terusan menulis sajak wangi
di belakang halaman menikmati semburat jingga senja di kornea mata,
cantiknya memabukkan dan mematikan
jangan terkecoh dengan cangkir romantisme manis
karena kita tahu itu ilusi hati cengeng

barangkali memang benar bahwa kita jangan naif
pada sebuah paranoid laten atas realitas
ada baiknya memang kita hanya tersenyum
pada sebuah pembicaraan basa basi tidak berkualitas

bahwa ada benarnya bahwa belajar itu dari sesuatu yang sakit
agar sedikit jadi sakit jiwa dan psikopat
agar darah mengalir segar dan kau tertawa-tawa
agar kau terpuaskan bahwa sakit itu nikmat
dan kau mulai tergoda nagih
di sekujur tubuhmu berteriakan meminta

kau sudah lelah dengan doa-doamu yang panjang
berusaha membius tuhanmu dengan satu permintaan yang kamu damba
semakin kau tersadar bahwa selama ini permintaanmu sudah ditolak mentah-mentah
bahkan sebelum terpikir di otakmu, sebelum kehendakmu meruap

bahkan kau makin tersadar bahwa ada beberapa saat
kamu ambigu
kamu tidak beridentitas
kamu hilang sendiri di dalam otakmu yang penuh tahi
berbau, mengendap sekaligus bonus lalat berterbangan

rupanya kau mengada-ada dengan imajinasimu
lalu kau menangis diam-diam pada sebuah sepi yang menjengkelkan
lalu kau bosan dan jijik
karena lemah dan kacangan

belakangan, kau tersadar bahwa kau sedungu itu
lalu kau sadar bahwa ada yang alpa, hatimu
hingga kau haru sendirian
bahwa api mesti terjaga dalam hati
biar dia terus terbakar
dan kau hidup punya arti
hingga raga kau mati.


Kaohsiung, 2013







Comments

Popular Posts