Day #19: Mati Telanjang



Kapankah waktu itu?
Kupastikan ku tak meratap, tak menangis, tak menyanyi
Tak perlu meraut kata-kata indah
Mencoba membuat memoar
Menempel di kalbu

Biar tubuh-tubuh bisu yang bicara
Bicara tentang nafas, aliran darah, denyut nadi, geliat tubuh…
Menggosipkan mentari yang jatuh hati pada segulung malam
Menari-nari di atas biasan warna pelangi
Membicarakan segenggam harapan

Semua mengendap
Aku dijemput
Jam menggenang, waktu pun kehilangan alur
Ini waktuku.
Aku berlepasan.
Tercerabut.

Aku lahir tiada berbaju, tiada bawa apa-apa
Aku pun ingin mati tiada berbaju, tiada bawa apa-apa
Telanjang.
Cukup menggotong perburuan makna hidupku
Cukup memboyong ziarah batinku
Cukup berbekal cintaku

Aku ingin mati telanjang.
Tanpa baju penutup aurat
Tanpa nafsu
Tanpa dosa
Tanpa keduniawian
Meninggalkan sengkarut tubuh usang nan laknat ini

Layakkah aku Tuhan?


BSD, 2007 

Comments

Popular Posts