8.12.13

Bahwa untuk menjadi sesuatu yang baru kita harus remuk dan melebur


pic: weheartit.com

Hai. Akhir-akhir ini saya sedang berpikir apakah saya ini sudah mempunyai hidup yang bermakna. Apakah ini hanya saya saja ataukah memang di umur saya yang 22 ini, saya sedang mencari. Karena saya merasa saya kehilangan diri saya. Ada beberapa hal yang krusial yang hilang. 

Apakah semakin kamu dewasa, idealisme itu akan semakin terkikis begitu saja dengan realitas? Apakah segala nilai prinsipil yang kamu anut pelan-pelan bukan sebuah prioritas? Saya rindu dengan saya yang tidak gentar dengan masa depan, saya kangen dengan idealisme polos saya yang berkobar-kobar bahwa saya memiliki suatu api yang masih terjaga. Saya rindu dengan saya yang bermimpi suatu yang besar bahwa suatu hari nanti saya bisa meraihnya. 

Ketika kamu dalam perjalanan meraih apa yang kamu inginkan, rasanya kamu itu sendirian, rasanya perjalanan mengikuti mimpi itu terjal berbatu dan kamu tak jarang menangis sampai tertidur lalu kamu bangun pagi dengan keadaan was-was. Apakah suatu hari kamu akan sampai di sana?

Saya takut jikalau suatu hari nanti saya tidak menjadi seperti apa yang saya impikan sekarang. Saya takut kalau ternyata saya ini tidak akan memiliki hidup yang bermakna yang saya inginkan. Saya rasa apa yang saya alami ini MUNGKIN biasa, mungkin memang harus ini yang saya lewati. Sampailah saya di sebuah fase kebingungan. Saya bingung dengan hidup saya. Rasanya saya berjalan di sebuah lorong gelap dan saya tidak tahu apa yang ada di depan saya. Semua indera saya mati rasa. Pertanyaan besarnya adalah: saya diciptakan untuk apa? Untuk menjadi apa? Karena rasanya mimpi saya semua patah di dahan dan menjadi serpihan.

Kembali saya mengingat akan kisah Alkitab. Nabi Musa harus hidup di padang gurun selama 40 tahun lamanya untuk bisa memimpin umat Israel. Daud harus tinggal 17 tahun di padang gurun sebelum menjadi raja dan Yesus pun dibawa ke padang gurun untuk dicobai iblis saat berpuasa. Mungkin saya sedang dalam fase padang gurun. Padang gurun menjadi sebuah tempat di mana seseorang digodok untuk mengerti apa tujuan hidup dia. Padang gurun menjadi sebuah tempat ujian sebelum kemenangan. 

Masa-masa ini adalah masa sulit yang membutakan seluruh indera saya. Di mana kita akan dimurnikan untuk menjadi 'sesuatu' yang lebih berharga. Pembentukkan karakter yang ternyata memang sakit setengah mati. Untuk menjadi sesuatu yang baru kita ternyata harus remuk dan melebur. Untuk menemukan diri, kita harus mengalami proses kehilangan diri sendiri. 

Manusia tidak pernah mengerti rencana Dia. Otak manusia tidak mampu melampaui pemikiran Nya. Mungkin ada baiknya kita manusia percaya bahwa Tuhan itu baik, kapan pun itu. Bahwa dia adalah Ayah kita di surga yang pasti akan melindungi anaknya. Hingga ketika kamu berjalan di lorong yang gelap dan seluruh inderamu mati rasa, kamu punya koneksi singkat dengan Ayahmu yang Di Atas. Hatimu. Percayalah apapun itu tetap percayalah. Karena Dia mengasihi kita lebih dulu. 

13.9.13

Hari 6: Kabar dari saya

" Hallo apa kabar? Masih suka menikmati sore sambil membaca buku?"

" Saya lagi pilek batuk. Biasa, sakit langganan saya."

"Sudah terbiasa dengan Indonesia. Masih terkadang kangen Taiwan."

" Hei, saya sekarang sudah bisa naek angkot, ojek, bis, kereta api bolak balik kerja loh! Saya bangga sekali dengan pencapaian ini. Sangat bangga. Saya seolah satu step lebih maju untuk jadi perempuan independent seperti yang saya mau."

" Banyak cerita, banyak keputusan yang saya buat 2 bulan ini. Terutama dalam menentukan langkah dan menghargai diri saya sendiri. Bahwa keputusan yang saya ambil adalah pilihan saya dengan matang. Saya senang sekarang saya lebih dewasa."

"Menjadi dewasa itu, sakit. Tapi saya juga sudah muak jadi orang muda yang bego. Saya mau jadi dewasa yang bijaksana dan berjiwa muda."

"Saya masih cupu kalau makan pedas, padahal saya orang Indonesia."

"Masih banyak mimpi yang harus saya kejar. Masih banyak cita-cita yang ingin saya wujudkan. Semoga saya mempunyai hati yang teguh dan semangat yang lebih dari biasanya, ya."

"Hmmmm.... kalau sudah besar saya mau jadi oma-oma yang jago masak untuk cucu-cucunya."

***

30.8.13

Hari 5: Merupa Kangen

pic: pinterest


Jikalau kangen ya sudah. Kangen. Ya sudah. Saya juga tidak pernah tahu kalau akan masih kangen. Mungkin karena belum sibuk jadi ada dua per tiga bagian otak yang masih kangen. Ya sudah. Saya kira saya tidak akan seperti ini. Tapi kangen ini tawar rasanya. Tidak ada gebu ingin bertemu. Sekedar kangen ya sudah. Mungkin karena saya sudah lelah mencari alasan sendiri. Sejuta pertanyaan mengapa? Mengapa tidak bisa? Mengapa tidak cocok? Mengapa tidak bertemu? Ya sudah. Tidak ada jawaban. Auk ah gelap. Mumet. 

Saya kangen. Tapi semoga kita tidak usah bertemu lagi di lain hari. Saya sudah capek dengan perpisahan yang saya lakukan sendirian. Saya sudah capek dengan pertanyaan yang akhirnya saya jawab sendiri. Saya kangen. Ya sudah. Semoga kita tidak bertemu lagi di masa depan. Jikalau ternyata kita harus bertemu di suatu situasi, saya akan mencukupkan diri saya dengan sekedar saling menatap, saling senyum, lalu sibuk dengan diri sendiri. Ya sudah. 


19.8.13

Hari 4: Bahagia itu urusan hati bukan otak

pic: google

Hari ini saat saya sedang menyapu halaman depan, saya setengah berpikir mungkn menjadi bahagia itu adalah sesuatu yang sederhana. Setiap hari kita diberi kesempatan untuk menjadi bahagia. Tapi mengapa kita seolah sulit sekali untuk menjadi bahagia. Bahkan ada beberapa orang yang ketika ditanya apa cita-cita kamu maka dia akan menjawab: menjadi bahagia. Jadi untuk masa ini, belum bahagia dan bahagia itu adalah sesuatu yang dicita-citakan dan belum didapatkan? Silahkan jawab sendiri dalam hati.

Definisi bahagia setiap orang itu berbeda-beda, saya pun begitu. Ada banyak definisi bahagia dalam otak saya. Saya akan menjadi bahagia apabila mimpi-mimpi saya bisa tercapai semua, saya mendapatkan pekerjaan yang sesuai dengan passion saya, saya bisa membahagiakan orang-orang yang saya cintai, saya bisa keliling dunia, dan lain-lain, dan seterusnya tak habis-habis. Mengapa untuk menjadi bahagia saya membuat begitu banyak syarat, seolah otak saya mendikte hati saya begini, "Kamu boleh bahagia apabila kamu bisa mendapatkan A, B, C, D..., baru boleh bahagia." Mengapa untuk menjadi bahagia seolah banyak syarat yang harus kita capai? Tidak bisakah kita bahagia dengan sederhana bukankah menjadi bahagia itu sendiri adalah hal yang sederhana? Mengapa hal yang sederhana selalu tidak sesederhana itu? Pusing yah saya tanya terus? Saya juga.

Apabila kita lihat kembali, benarkah kebahagiaan itu diukur oleh sesuatu yang sifatnya measurable seperti hal-hal keduniawian? Atau adakah arti lain dari bahagia itu sendiri? Pernahkah kita berpikir kembali, jikalau saya sudah mendapatkan segala syarat-syarat bahagia saya, benarkah itu akan jadi jaminan kalau saya akan serta merta bahagia?

Menjadi bahagia itu adalah sebuah kekayaan batiniah yang tidak ada harganya dan tidak bisa diukur oleh apa pun. Pada akhirnya yang menjadi syarat utama dalam menjadi bahagia adalah hidup yang mengacu pada 'kekinian', masa kini. Hidup yang present. Memandang hidup bukan dari hari kemarin yang sudah berlalu atau dari hari esok yang belum tiba, melainkan hari ini. Sekarang. Detik ini juga. Bahagia itu sekarang. Dibutuhkan sebuah kemampuan untuk bisa berkontak dengan masa sekarang dan tinggal dalam situ juga.

Bahagia itu bukan sesuatu yang dipikir-pikir tapi sesuatu yang dirasa. Menjadi bahagia itu sederhana, ada di setiap kesempatan, setiap harinya, karena bahagia itu di mana-mana. 

15.8.13

Hari 3: Tuhan tahu tapi menunggu


pic: thenuliya blog


Saya suka sekali dengan kutipan di atas, 'Tuhan tahu tapi menunggu'. Kutipan itu milik Leo Tolstoy seorang penulis besar dari Rusia. Kutipan itu rasanya selalu menyentuh hati di masa-masa yang kelabu yang tidak tahu kepastian.

Saya selalu benci apabila harus menunggu. Menunggu itu membosankan dan menyebalkan karena kita seolah diombang ambing pada sebuah keputusan yang tidak bisa kita kontrol. Kita harus sabar menunggu berharap agar pihak yang memberi keputusan bisa segera menjawab: ya atau tidak. Bukankah itu menyebalkan? 

Tapi tidakkah kamu merasa kalau dalam hidup manusia kita terus-terusan menunggu? Sedari dalam perut ibu, kita harus menunggu 9 bulan untuk bisa keluar  ke dunia. Perhatikan deh, dalam setiap fase hidup kita, menunggu menjadi sesuatu yang familiar, adalah sesuatu yang sebenarnya kita lakukan sehari-hari, dari mulai menunggu bis, menunggu teman sampai akhirnya menunggu untuk dipanggil lagi oleh-Nya.

Menurut saya menunggu adalah sebuah situasi sebelah pihak di mana kita berharap agar pihak lainnya segera memberi respon. Namun terkadang, pihak lain ini tidak tahu kalau dia ditunggu. Terkadang si pihak lain ini tidak sadar atau memang blegug siah yang dengan ego sok pentingnya tidak segera memberikan keputusan atau reaksi. Kenapa yah? Siapa yang tahu? 

Ketika kita menunggu, belum tentu pihak tersebut benar-benar akan merespon sesuai dengan apa yang kita harapkan, bisa saja dia sebenarnya menolak atau lupa. Lalu kita yang menunggu? Akan terus menunggu tanpa tahu jawaban. Menurut kalian ketika kita menunggu haruskah kita mengetahui kepastian apakah pihak lain yang kita tunggu ini sebenarnya akan memberi reaksi atau menjawab semua penungguan kita? Sepertinya kecil sekali kemungkinannya akan adanya kepastian itu. Maka itu terkadang saat menunggu kita membuat deadline sendiri, sampai tenggang waktu kapankah kita bersedia menunggu. 

Menunggu itu adalah sebuah proses akhir, ketika segalanya sudah kita kerahkan sudah kita usahakan semaksimal mungkin. Menunggu itu menanti akan sesuatu yang diharapkan agar bisa terwujud. Bisa saja kita menunggu hanya 1 jam atau bahkan bisa sampai bertahun-tahun. 

Sebenarnya apa yang membuat seseorang betah menunggu? Yak. Itu adalah harapan. Ketika harapan itu ada, ada suatu dorongan energi dari hati kita untuk mencoba, meski harapan itu hanya 1% jumlahnya namun ketika harapan itu ada, seolah kinerja untuk mewujudkannya pasti akan berlipat-lipat jumlahnya.

Ada kalanya ketika menunggu kita malah menemukan hal lain yang lebih baik dari yang kita tunggu. Bahwa menunggu adalah proses pemurnian kita untuk melihat ulang lagi dan memeriksa keseluruhannya. Proses menunggu ini terkadang malah sebuah pembelajaran untuk lebih mengenal diri dan melihat situasi lebih dalam lagi, lebih dekat lagi, bukan hanya permukaan dan ecek-ecek saja.

Ketika kita menunggu yakinlah bahwa ada sesuatu yang sifatnya besar akan datang, yang pasti kita sedang disiapkan untuk momen tersebut. Bahwa dalam hidup manusia itu harus sabar dan nrimo kalau kita ini bukan siapa-siapa yang bisa mengatur segalanya. Bahwa semata-mata ada Yang Lebih Besar dari kita yang juga menunggu momen yang pas karena segala sesuatu ada masanya.

***

Rancangan-Ku adalah rancangan damai sejahtera dan bukan rancangan kecelakaan, untuk memberikan kepadamu hari depan yang penuh harapan. (Yer 29:11)

14.8.13

Hari 2: Perlukah ucapan selamat tinggal?

pic: google

Menurut kamu, ketika kita akan pergi ke sebuah tempat lain dan meninggalkan tempat yang lama perlukah kita mengadakan sebuah perayaan perpisahan dan ucapan selamat tinggal? Perlukah kita menangis dan berpelukan perpisahaan seolah kita tidak akan bertemu lagi suatu hari nanti?

Bagi saya itu perlu. Saya adalah tipe manusia yang sangat lekat dengan sesuatu dan seseorang. Bahwa apa yang saya punya di sekitar saya seolah adalah milik saya yang tidak bisa saya lepaskan begitu saja tanpa adanya sebuah prosesi yang dinamakan perpisahan.

Saya mulai memperhatikan hati saya sendiri ketika ada tiba saatnya saya akan berpisah dengan sesuatu. Saya selalu menjadi seseorang yang paling berat meninggalkan sesuatu dan maju ke sebuah tahap lainnya. Padahal masa-masa itu sudah berakhir dan memang sudah kadaluarsa sehingga harus diganti dengan sesuatu yang baru. Saya rasa masalah saya ini adalah hati saya selalu takut dan ngeri melepaskan segala sesuatu yang saya miliki dan apa yang sudah familiar untuk saya.

Ada seorang teman yang mengatakan bahwa ketika tiba saatnya untuk berpisah maka dia akan menjadi seseorang yang tidak menangis dan bersedih, justru dia merasa bersyukur karena sudah bisa melewati momen yang special ini dan semakin tersadar bahwa dia memiliki sesuatu yang berharga dalam hidup dia. Saya rasa prespektif dia sangat bagus dan dia sangat optimis dalam melihat suatu keadaan. Lalu dia pun berkata bahwa dia ada sebuah keyakinan dalam dirinya bahwa suatu hari nanti pasti akan bertemu kembali.

Saya seharian berpikir mungkin saya ini tipe orang yang pesimis. Bahwa saya selalu tidak bisa melihat sebuah kesempatan yang ada di masa yang akan datang; jikalau kita akan bertemu kembali. Bisa saja ketika kita akan bertemu kembali, saya bukanlah seseorang yang sama dengan saya yang sekarang, bisa saja kita berubah menjadi pribadi yang lain yang saya sendiri tidak bisa bayangkan. Lalu pasti momen itu berbeda dan berubah. Ya kan?

Saya merasa bahwa ketika sesuatu itu berubah, maka dia tidak akan bisa kembali seperti semula. There's no way back. Tidak ada suatu perubahan yang akan kembali menjadi sedia kala seperti pertama kali. Saya mempunyai sebuah pemikiran kalau ketika masa itu berakhir maka itu akan berakhir. Titik. Hal-hal yang tertinggal adalah kenangan dan momen-momen yang akan selalu tersimpan di labirin otak kita. Itu yang kita punya.

Sehingga mungkin itulah alasan mengapa setiap kali saya berada di suatu masa perpisahan, saya akan menangis sekeras-kerasnya karena adanya rasa takut kehilangan akan apa yang saya punya sekarang. Bahwa tetap saja perpisahaan itu penting bagi saya dan ucapan selamat tinggal selalu merupakan momen di mana saya membawa sedikit hati orang-orang yang saya tinggalkan untuk menjadi milik saya dan saya bawa.

Saya belajar benar bahwa perpisahan akan selalu kita temui di setiap hidup kita. Ada yang sifatnya sementara dan mungkin bisa bertemu kembali atau bahkan dan sifatnya permanen, selamanya. Sehingga menurut saya tetap saja perpisahaan itu penting, biarpun pasti sedih namun momen perpisahan secara baik-baik itu jauh lebih membuat hati kita ayem,dan kita bisa memanfaatkan semua kesempatan waktu yang ada untuk tetap menjaga relasi. Kita berkenalan baik-baik, perpisahan pun harus baik-baik.

Saya akui sampai sebesar ini I can’t find the good in goodbye. Tapi ya… itu adalah cara saya dan prespektif saya dalam menghadapi perpisahan. Toh tiap orang berbeda-beda, kebetulan saya ini adalah orang cengeng yang terlalu lekat dengan ini itu. Ya…itu adalah kelemahan saya, kelekatan pada sesuatu, melihat segala sesuatu sebagai sesuatu yang berharga hingga ada rasa saying untuk meninggalkan.

Dengan adanya perpisahan kita jadi makin diingatkan kembali bahwa dalam hidup ini segala sesuatu ada waktunya, ada masanya, ada limitnya, ada tenggang waktunya. Seperti  yang pernah ditulis di kitab suci; tidak ada yang abadi di bawah langit ini, tidak ada siapa memiliki siapa dan apa, karena kita ini hanyalah titipan.


13.8.13

Hari 1: Mari kita bicara tentang ketidakpastian


pic: google


Untuk orang yang super hiperaktif seperti saya, untuk duduk diam dan mengamati sekeliling adalah sebuah penyiksaan. Saya sudah jelas bukanlah seorang observer sejati. Tapi bukan berarti saya tidak mengamati, saya mengamati, dengan cara saya sendiri. 

Saya sudah kembali ke Indonesia for good, dan yang namanya balik ke negara asal dan berusaha untuk memulai ini itu dari awal itu sulit. Saya tidak pernah nyangka kalau ternyata akan sesulit dan se-tough ini keadaannya. Kalau saya rasanya harus adaptasi dari awal lagi, kalau saya ini masih kaget dengan situasi Indonesia. Tepatnya saya harus membereskan hati saya yang juga masih tertinggal sedikit di Taiwan dan belum berfungsi maksimal. Dalam otak saya, saya masih berpikir: Ini benar tidak yah, keputusan saya untuk kembali lagi ke Indonesia dan memulai lagi dari awal? Kalau ternyata salah keputusan bagaimana? Kenapa rasanya belum terbiasa, belum betah dan rasanya keputusan pulang ke Indonesia ini salah total? 

Astaga. Pertanyaan itu seperti muter-muter di otak saya dan saya jadi ketakutan sendiri dengan masa depan. Entah kenapa rasanya seperti masa depan itu menakutkan sekali dan saya jiper dengan ini itu, dengan mimpi-mimpi saya yang kini terlihat besaaaaaaaaaaarrrr sekali di mata dan tinggiiiiiiiii sekali di luar jangkauan tangan saya. Gila. Saya jadi kesal sendiri dengan sebuah kalimat mutiara: Raihlah cita-citamu setinggi langit. Buset! Tangan gue panjangnya gak setinggi langit kali! Itulah pikiran keparat dari sisi pesimis saya.

Ketika kita mau mengejar mimpi kita, betapa banyak hal yang harus kita relakan untuk ditinggalkan, betapa kenyamanan dengan situasi yang familiar itu ternyata sebenarnya tidak akan membawa kita ke mana-mana. Betapa banyak hal yang harus kita korbankan dan lepaskan, karena semata-mata itu sudah tidak pas lagi untuk hidup kita dan kita perlu ke level yang lebih tinggi dari sekedar hal yang itu-itu saja.

Saya akui sih saya masih sering kok, mengingat-ingat masa-masa menyenangkan kuliah dan ber-haha-hihi bersama teman dan seolah pada masa itu, mimpi-mimpi saya, akan dengan mudahnya digapai di tangan. Seolah saat itu prespektif saya akan menggejar mimpi dan cita-cita itu amat mudah dan seolah saya optimis sekali kalau saya akan sampai ke sana suatu hari nanti. Saya rindu dengan sosok seorang saya yang yakin bahwa saya pasti akan bisa sampai ke sana. Bukannya terus menerus doubting akan skill apa yang saya punya dan tetek bengek lainnya. 

Saya pikir mungkin ini adalah state saya di mana ketidakyakinan dengan diri sendiri itu ada, ketika saya sedang terus menerus mempertanyakan diri sendiri, apakah saya betul-betul cocok dan pantas untuk bermimpi? Lalu saya pun kembali berpikir apakah selama ini mimpi ini yang benar-benar saya mau? Ataukah ini hanya sekedar pemikiran selewat saja? Apakah hati saya mendapatkan panggilan untuk mimpi ini? Sesuatu yang tidak pasti membuat kita berpikir berulang-ulang bukan?

 Lalu saya juga membaca sebuah quote bagus milik Descartes: In order to determine whether there is anything we know with certainty, we first have to doubt anything. Mungkin ketidakpastian dan ketidakyakinan itu sebenarnya penting untuk kita agar kita tidak sombong-sombong amat, bahwa kita juga musti ingat kalau ada beberapa hal yang di luar jangkauan kita yang must kita tilik lebih dalam lagi dari hati dan doa-doa panjang yang tidak putus. Bahwa terkadang tidak yakin mengajarkan kita untuk melihat lebih dalam lagi akan apa yang kita mau dan mengkaji ulang dengan hati. 

Kembali lagi, dengan pernyataan klasik: hidup ini adalah perjalanan bukan tujuan. Kita akan selalu mencari terus menerus, sebenarnya mau di bawa ke mana kita saat ini dan kita akan kembali lagi  pada sebuah pertanyaan awal: Siapakah kita ini? 


16.6.13

Perempuan: Jika menjadi cantik itu artinya....

Saya punya cerita yang menarik sekali untuk diperbincangkan. Jadi begini ceritanya, akhir-akhir ini sering kali saya memperhatikan perlakuan teman-teman saya, baik yang laki-laki maupun perempuan. Saya jadi sadar bahwa kecantikan perempuan itu selalu saja menjadi bahan pembicaraan tapi dengan sudut pandang yang berbeda. Bagi teman-teman laki-laki saya kecantikan perempuan itu sebagai objek, sedangkan bagi teman perempuan saya kecantikan perempuan itu menjadi subjek. 

Kenapa yah, menjadi suatu kebutuhan terpendam bagi perempuan (termasuk saya) untuk dibilang cantik dan diakui kecantikannya oleh laki-laki? Kenapa coba? Saya makin gerah dengan kebutuhan 'penting' ini. Dan kenyataan itu melekat hadir di kehidupan sehari-hari. Seolah itu menjadi suatu ego yang musti ditanyakan terus menerus tidak ada habis-habisnya. Sebenarnya adakah yang lebih penting selain menjadi cantik?

Seharian ini saya berpikir, mengapa kecantikan perempuan itu diukur dari sudut pandang laki-laki yang akhirnya lalu dijadikan sebagai tumpuan nilai 'cantik' di masyarakat. Bahwa yang cantik itu yang begono begini, lalu jika misalnya perempuan ini tidak begono dan begini bagaimana? Lalu akhirnya di otak perempuan tersimpan sebuah gambaran kalau 'nilai cantik' itu yang putih mulus, rambut panjang lurus, mancung, kurus, berpayudara besar, berpantat bulat dan sebagainya. Gawatnya lagi, kalau media, seperti televisi, majalah, dan iklan yang mulai memasarkan definisi cantik ke masyarakat, padahal maksud lain media itu adalah memasarkan prodak mereka agar bisa laku di pasaran. Wahai perempuan sekalian, kita dijebak mentah-mentah!

Misalnya yah, saat itu ada perempuan cantik sedang jalan, lalu dia menyenggol teman laki-laki saya dan teman saya ini kaget karena dia sedang bawa gelas minum teh yang nyaris tumpah. Lalu serta merta teman laki-laki saya nyeletuk: "Untung cantik, kalo enggak udah gua maki-maki." Saat itu sih saya ketawa-ketawa aja, tapi dalam hati saya berpikir: Oh jadi harus jadi cantik dulu yah biar dimaklumin kalo gak sengaja nyenggol? 

Inikah yang diinginkan perempuan untuk menjadi cantik agar bisa mendapat pemakluman yang sering kali didapatkan oleh 'si cantik-cantik' ini? Hingga tanpa kita sadari, kita perempuan hanya ingin menjadi cantik saja tanpa ingin keinginan-keinginan lain yang kiranya lebih ke karakter dan talenta. Kalau seandainya benar begitu. Kasihan. 

Pernah ada sebuah tulisan yang kebetulan saya baca di CNN. Saya juga bukan penggemar gembira CNN yang selalu mengikuti setiap beritanya tapi kebetulan saya suka liat-liat cepat dan menemukan sebuah opini bagus mengenai gender. Ditulis kalau si penulis ini seorang ayah yang prihatin dengan pola didik sekolah yang  membeda-bedakan jenis kelamin. Kalau laki-laki diberi penghargaan yang sifatnya skill seperti pemain terbaik sepakbola, sedangkan perempuan diberi penghargaan yang sifatnya penampilan seperti best dress. Mengapa ada perbedaan yang nyata di sini? Mengapa pria mendapatkan penghargaan karena keahlian dan talenta yang dia punya, sedangkan perempuan diberikan penghargaan karena penampilan dia. Penampilan dan perempuan sepertinya masih melekat sampai sekarang. Tidak bisa dipisahkan.

Manusia itu tidak hanya tubuh tapi juga ada akal budi, ada jiwa, ada hati dan ada talenta. Tubuh itu sifatnya fana. Tapi akal budi, jiwa, hati dan talenta itu yang akan manusia bawa sampai liang kubur. Itu yang menjadi sebuah 'alat' di kehidupan untuk bisa menjadi manusia yang bebas dan berguna bagi manusia yang lain. Bahwa jika hanya ada tubuh saja itu mati. Dan ketika menjadi cantik saja tanpa akal budi, jiwa, hati, dan talenta itu kosong. 

Sekarang pertanyaannya apakah menjadi cantik itu salah? Menurut saya itu tidak salah. Saya juga 'seneng-seneng aja' kalau dibilang cantik. Namun kembali lagi pada sebuah pertanyaan perspektif: menjadi cantik seperti apa yang saya inginkan? 

Saya ogah menjadi cantik kalau pada akhirnya saya harus mengikuti keinginan masyarakat bahwa cantik itu begono begini. Karena percayalah saudara-saudara, nilai-nilai yang ada di masyarakat itu kadang hilang kemanusiannya dan entah otaknya di mana. Saya ogah menjadi cantik jikalau saya sebagai pribadi hanya dinilai dari penampilan saja dan saya harus manut dengan opini mereka: bahwa pekerjaan perempuan adalah menjadi cantik. Saja. 

Saya ingin menjadi cantik, jikalau saya tidak perlu mengikuti keinginan laki-laki untuk mengubah ini itu di tubuh saya hanya karena menurut dia itulah definisi cantik. Saya ingin menjadi cantik, jikalau saya tidak perlu memikirkan penampilan saya melulu dan saya bisa dihargai karena pemikiran saya dan karya saya. 

Hingga akhirnya saya sampai pada pemikiran bahwa terkadang perempuan harus sadar dengan keperempuanannya bahwa menjadi cantik melulu tidak akan membawa perempuan ke mana-mana karena perempuan bukan objek seksual dan sekali lagi perempuan harus sadar bahwa tubuhnya adalah miliknya, bukan milik society. Hingga society tidak punya hak untuk menghakimi tubuh perempuan. Dan menurut saya perempuan harusnya berani untuk mau dan mampu mempertanyakan ke-eksistensinya sebagai manusia:  Kalau kamu hidup sebenarnya untuk apa? 

13.6.13

Etalase Hati

Pernah jalan-jalan ke pusat perbelanjaan kan? Pasti pernah dong! Suka window shopping? Sebatas lihat-lihat saja, tanpa membeli dan mengagumi sesuatu dari kejauhan dan terdapat jarak antara barang dan mata. Karena terhalang oleh 'si kaca' yang melindungi barang yang kita inginkan itu. 

Barang tersebut sebatas sebuah tontonan yang belum tentu bisa didekati dan kalau mau didekati pun harus menimbulkan effort lebih yakni, masuk ke toko, bertanya pada mbak-mbak penjaga toko, melihat-lihat, mencoba dan biasanya pasti kita 'agak gengsi' kalau tidak membeli. Sudah terlanjur, katanya.

Sekat dan jarak

Sesuatu yang bersekat dan berjarak itu sifatnya fragile dan terlindungi dari apa pun. Dia sengaja ditaruh di sana untuk dilihat, dinikmati dan sewaktu-waktu  dikunjungi tapi itu jarang sekali. Kalau kita melihat di toko-toko barang pecah belah, kita akan melihat sesuatu yang mudah pecah belah itu akan diletakkan sendirian, dikunci dan kalau perlu ditempel tulisan besar-besar: Awas, jangan disentuh! Pecah berarti membeli! Dilihat boleh ,dipegang jangan! Hati-hati mudah pecah! Dan peringatan-peringatan sadis dilengkapi tanda seru yang tidak cukup sekali.

Mengapa harus dijaga? Pastinya karena seseorang melihat kalau barang itu sangat berharga dan mahal, sehingga amit-amit sekali kalo seandainya barang tersebut pecah, remuk menjadi serpihan. Dia pasti tidak punya nyali yang cukup untuk melihat barang tersebut berserakan dan akhirnya harus turun kasta ke tong sampah. Daur ulang atau ketok magic sepertinya tetap meninggalkan bekas dan tidak dianjurkan. 

Seperti misalnya, barang pecah belah ibu saya. Semenjak kami kedatangan adik kecil yang sekarang sedang hobi pegang sana sini, alhasil semua barang-barang beling yang imut lucu di rumah terpaksa disingkirkan. Kosong ludas dari rak-rak di rumah. Tidak ada secuil pun vas milik ibu yang 'nongkrong santai' di rak atau meja. Kami terlalu takut akan terjadi peperangan sana sini oleh si adik kecil yang maksudnya hanya penasaran ingin memegang tapi alhasil jadi 'melempar'. 

Ada baiknya memang kita ini memisahkan dan menyembunyikan sesuatu yang sifatnya mudah pecah. Entah disingkirkan dengan jarak, pergi jauh-jauh atau justru tetap ditempat tapi diberi sekat, dimasukkan ke sebuah kotak yang aman dan tentram. Tapi apakah selamanya barang tersebut akan disimpan baik-baik dan disingkirkan terus menerus? Apa faedahnya?

Kita yang terlalu takut

Manusia itu diciptakan dengan hati. Sebuah tempat di mana perasaan dan emosi muncul. Dan terkadang si hati ini sangat fragile tidak ketulungan dan dibutuhkan beberapa pelindung, salah satunya sekat dan jarak. Kita melindungi hati kita ini dengan segala kekuatan otak yang kita punya. Padahal pada akhirnya, siapa tahu sebenarnya hati itu kegunaannya untuk disakiti? Agar kita lebih eling dengan kehidupan. 

Bahwa mungkin saja kalau sebenarnya hati itu terlalu manja dan pemalu, sehingga suka sembunyi-sembunyi dan pelan-pelan merasa suatu perasaan. Manusia-manusia sekarang akhirrnya berubah jadi makhluk yang keras dan kuat. Mereka tidak lagi menggunakan hati meraka, mereka menumpulkan hati mereka, mengkebiri hati mereka, hingga akhirnya jadi mandul tidak berbuah.

Saya menyadari sendiri bahwa saya ini juga sering ketakutan sendiri untuk menjadi seseorang yang terlalu perasa dan melulu menggunakan hati. Terkadang saya sering mendisfungsikan hati saya agar saya jadi orang tidak usah pedul-peduli amat dengan orang lain. Kalau saya sering kali menutup hati saya rapat-rapat dari pengaruh luar dan situasi. Kalau saya tidak menerima segala situasi yang membuat saya jadi 'lemah dan rentan'. 

Apa salahnya menjadi 'lemah'? 

Dunia selalu menjagokan dia yang kuat dan tangguh bak gatot kaca, tulang besi otot baja. Tapi apakah yang kuat ini melulu baik dan hebat? Belum tentu. Karena saudara-saudara, dengan sepenuh hati ingin saya katakan bahwa, menjadi lemah adalah kekuatan. Menjadi lemah membiarkan kita menerima apa yang harusnya diterima oleh hati dan tidak memberontak. Seperti air yang mengalir dan menerima apapun jenis wadahnya, apapun jenis medianya, beradaptasi. 

Begitu juga dengan hati. Hati yang hidup tanpa tameng, tanpa perlindungan menjadi lemah namun dia jadi bertumbuh, dia jadi berpengalaman dan kaya. Hati jadi tersadar bahwa kegunaan dia sesungguhnya bukan buat disimpan, ditaruh dan dilindungi, tapi menjadi kekuatan dalam menjalani hidup. 

Akhir-akhir ini saya merasa kalau ada baiknya jika menghadapi ketakutan-ketakutan itu baiknaya dihadapi saja tanpa perlu embel-embel 'perlindungan'. Bahwa mungkin baikknya hati ini yang kini jadi kekuatan saya untuk tetap terbuka, waspada dan belajar. Melihat sesuatu bukan hanya sekedar melihat tapi juga memahami  sepenuhnya, kalau perpisahan, perubahan hidup yang besar , ketakutan untuk tumbuh dan kelekatan itu adalah isu-isu yang harus dihadapi hati berulang-ulang kali. Terus menerus dengan dosis yang berbeda.

Suara hati

Jangan tuli dan jangan pura-pura dungu dengan suara hati karena hati itu adalah Rumah Tuhan, di mana kita bisa bluetooth-an dengan Tuhan dan berkoneksi singkat dengan Tuhan. Kalau jiwa kita itu adalah jiwa yang juga berasal dari Tuhan. Hingga fatal akhirnya kalau kita jadi 'bolot abis' dengan suara hati ini. Dengarkan dan kenali lagi. 

Jangan kau taruh hatimu di etalase mana pun karena bukan itu fungsi dari hati. Hatimu itu kuat lebih kuat dari apa pun yang kamu punya. Hati itu hanya ingin bertumbuh dan terus berbuah. Biarkan dirimu bisa jatuh hati berulang-ulang kali pada hidup. Itulah yang membuat hidup manusia lebih beresensi. 


***


“To love at all is to be vulnerable. Love anything and your heart will be wrung and possibly broken. If you want to make sure of keeping it intact you must give it to no one, not even an animal. Wrap it carefully round with hobbies and little luxuries; avoid all entanglements. Lock it up safe in the casket or coffin of your selfishness. But in that casket, safe, dark, motionless, airless, it will change. It will not be broken; it will become unbreakable, impenetrable, irredeemable. To love is to be vulnerable.”

C.S. Lewis



3.6.13

Bersedih itu tidak setiap hari


pic: tumblr


Ada beberapa hal yang kita tidak mengerti mengapa harus terjadi. Mengapa tidak sesuai dengan apa yang kita inginkan? Mengapa nampaknya sulit sekali, meski sudah mencoba namun rasanya tidak sampai-sampai? Atau mungkin salah tujuan?

Ada saatnya kita mencoba dengan sekuat tenanga tapi hasilnya tidak sebesar apa yang diusahakan. Salah siapa? Tidak ada. Mungkin timing yang kurang pas. Otak yang berpikir mungkin saja sebenarnya menunggu waktu yang pas itu omong kosong. Karena tidak ada yang namanya 'waktu yang tepat' itu. Itu cuman kata-kata penghiburan saja. 

Benar begitu? Mungkin tidak.

Seperti yang sering ditulis di alkitab: Segala sesuatu ada masanya. 

Tidak selamanya saya bersedih terus menerus dan tidak selamanya juga saya senang-senang terus. Semua harus balance. Biar normal.

Sesuatu yang menyedihkan itu tidak melulu harus dihindari dan alangkah baiknya kalau kita mengaku pada diri sendiri jika kita memang sedang dalam tahap kesedihan itu sendiri. Berikan waktu pada hati kita untuk membersihkan dirinya sendiri karena selama ini sudah sesak dan membeludak. Kalau terkadang hati juga tidak selamanya harus berpura-pura berani dalam menghadapi realitas yang tidak sesuai dengan apa yang kita mau.

Bahwa ada baiknya kalau kita mengakui bahwa: 'Saya sedih, saya kecewa, saya patah hati, saya muak, saya capek, saya kapok.' Bahwa perasaan-perasaan itu ada baiknya kalau mengalir saja demikian tanpa harus 'sok tegar' dengan pedihnya hati. Bahwa sebenarnya hati itu masih ada rasa. Dan berterima kasihlah bahwa kamu masih punya perasaan. Kalau kamu bukan makhluk berdarah dingin; kalau kamu juga ada perasaan.

Mungkin ada baiknya kalau saya bersedih saja dahulu. Melegakan hati yang cengeng dan basah. 

Saya memilih untuk tidak melewati proses-proses pemulihan hati ini. Saya mau pelan-pelan saja membalut luka dan meneteskan betadine. Lalu merawatnya. Bahwa yang saya butuhkan hanya waktu saja. 


26.5.13

Perikop

        

  A rose dreams of enjoying the company of bees, but none appears. The sun asks:
" Aren't you tired of waiting?"
"Yes," answered the rose, "but if I close my petals, I will wither and die."

           And yet, even when Love does not appear, we remain open to its presence. Sometimes, when 
loneliness seems about to crush everything, the only way to resist is to keep on loving. 

Manuscript Found in Accra- Paulo Coelho

29.4.13

Tidak Ada Eskapisme dalam Hal Menerima


pic: tumblr


"Tau kan apa itu eskapisme?" 
" Kehendak atau kecenderungan menghindar dari kenyataan dengan mencari hiburan dan ketentraman di dalam khayal atau situasi rekaan." 
" Kamu udah kayak kamus berjalan saya."
" Emang kenapa kamu tanya-tanya arti?"
" Saya sedang dalam fase itu."
"Oh."
"Oh doang?"
" Oh ...ya?"
"Iya."

***

Ada hari-hari di mana sepi dan sendiri itu lebih baik dari pada bergerombol dan membicarakan hal-hal yang menyebalkan di kuping. Lalu dalam hati berkutat dengan seribu jarum yang nyelekit dan kau tetap tersenyum riang. Namun binar matamu tidak pernah bisa bohong karena ia relevan dengan hatimu. Karena kata orang mata adalah cerminan hati. Kau pun mulai malas bersuara hingga menoleh pun enggan.

Ketika sesuatu yang kau rasakan bukanlah sebuah penjelasan karena kau tahu bahwa perasaanmu tidak seberapa penting dibandingkan dengan perasaan orang lain. Bahwa kau ketakutan sendiri jikalau menyakiti perasaan orang lain dan berkewajiban penuh untuk tetap menjaga perasaan orang lain meski akhirnya ada saatnya kau tidak tahan lagi hingga harus menangis diam-diam sampai ketiduran. Lalu pagi hari kau terbangun dengan mata sembab. Kau berterima kasih dengan sepenuh hati pada kekuatan make up: eyeliner dan eye shadows karena menyamarkan keganjilan. Hingga kau bisa tersenyum lagi meski tanpa binar mata. Binar mata tidak bisa dibeli. Sayang sekali. 

Kau lelah harus terus menerus takut berhadapan dengan ketakutan sendiri yang sebenarnya mungkin hanya sebuah pikiran. Kau kecewa dengan tulus, sakit hati yang datang sendiri dan kau tidak memberontak menerimanya  karena kau tahu mungkin saja itu salahmu bukan salah orang lain. Lalu kau menyalahkan dirimu sendiri karena kau tak sanggup. Karena kau tidak cukup kuat, menjadi pengecut dan aroma kerja kerasmu kurang berkarat, lalu darah yang timbul dari lukamu kurang anyir dan berbau. 

Kau tidur sendirian dengan mimpi yang berloncat-loncatan mengejekmu seakan kau tidak akan ada jalan ke sana. Menjalar ke sulur api cita-citamu yang serta-merta padam dihembus angin tanpa memberi kesempatan pada semangat. Rasakan! Baui! Bahwa kau bersedih di momen ini dengan segala rasa pahit di tenggorokanmu lalu kau menyalak dengan sarkasme dan mulai menertawakannya. 

Hingga kau sampai pada sebuah pemikiran sendiri bahwa terkadang menerima kesedihan dan kecewa itu lebih mudah dari pada melawannya. Bahwa kau berlapang dada, seluas-luasnya pada rasa sedih yang tidak bisa kau halangi sendiri. Kau kecewa karena berharap orang lain bisa melakukan sesuatu hal untukmu dan bisa mengerti perasaanmu lalu layak untuk dicintai. Kau ngeri sekali saat tiba harinya, hatimu amburadul di tengah orang banyak dan gelak tawa. 

Kau kecewa sendiri karena orang yang kamu percaya sepenuh hati tidak selamanya bisa kau andalkan karena kembali lagi kalau kita ini hanyalah manusia yang tidak bisa mengontrol semua situasi. Kau makin menyadari bahwa kebahagiaanmu itu memang kamu yang punya dan atur. Bukan siapapun. 

Ada baiknya kalau kau menerima saja semuanya bulat-bulat, sejelas-jelasnya, sepahit-pahitnya lalu telan. Menghadapi dengan tegar bukannya lari dan menghindar. Ada saatnya kau harus berusaha untuk kuat bukan demi siapapun tapi semata-mata demi harga diri dan demi dirimu sendiri. 

Lalu saatnya nanti kau melompat terbang dengan kakimu sendiri. 





23.4.13

Sudah Congkak, Gengsian Pula

pic: google


Saya punya teman laki-laki, anak Taiwan yang menurut perkiraan saya, untuk 10 tahun ke depan pasti dia jadi executive muda yang sukses dan kaya raya. Bagaimana tidak? Dia ikut bejibun acara sekolah dengan pengalaman internship yang segudang hingga sampai internship ke Jerman! Intinya dia sudah mencuri seribu langkah maju di depan saya, dan meninggalkan  saya yang cuman bisa melihat dia dengan tatapan kagum sekaligus iri. Sambil berkata: Gila itu orang! 

Orang yang seperti DIA ini nih yang ....

Di kelas tadi, dia bercerita tentang salah satu internship dia di kapal pesiar Jerman yang sedang mampir ke Kaohsiung (kota saya). Dia bercerita tentang bagaimana dia menjadi penerjemah, jadi juru bicara Jerman-Mandarin. Kesulitan-kesulitan yang dia hadapi dan pengalaman-pengalaman menarik yang bisa dipelajari dari internship itu. Menurut saya menarik sekali mendengar pengalaman orang lain dan mengetahui sudut pandang seseorang tentang suatu hal karena pasti berbeda. 

Ada satu cerita yang menarik yang agak menggelitik saya. Di kapal cruise ini dia bertemu dengan pasangan oma opa orang Jerman. Lalu teman saya ini menjadi penerjemah pasangan oma opa bule Jerman ini, namun dia menemukan kendala, yakni kenyataan bahwa pasangan oma opa bule Jerman ini tidak mengerti apa yang  sedang teman saya bicarakan. Pasangan oma opa bule Jerman ini mengkritik teman saya bahwa bahasa Jermannya kurang jelas dan tidak ada 'melodi' nya sehingga sulit untuk dimengerti. Kemudian pasangan oma opa bule Jerman ini pun malah sibuk mengajari teman saya cara berbicara yang benar dengan 'melodi' yang tepat dan cantik. 

Apakah kalian melihat apa yang menarik? Teman saya ini orangnya terbuka sekali dengan kritik dan tidak gampang sakit hati seperti saya. Dia malah melihat itu sebagai suatu pendapat yang paling jujur tentang skill dia dalam bahasa Jerman dan cepat tanggap dengan menyadari: "Oh, skill bahasa Jerman saya sampai sini toh, oh kekurangan saya di sini toh. Oke saya terima kritik anda, terima kasih. Bisa tolong ajarkan bagaimana cara bicara yang benar?" Astaganaga! Saya salut dengan orang yang seperti ini. Karena saya sendiri belum sampai ke pemahaman belajar yang seperti ini, saya ini terlalu congkak dan gengsian orangnya. 

Orang seperti SAYA ini yang .... 

Saya rasa mental seperti saya ini yang membutuhkan perbaikan mental. Dalam artian saya ini sudah congkak, gengsian pula , sudah begitu punya nyali kecil lagi. Saya takut untuk mencoba hal-hal baru yang pasti diluar kontrol saya. Saya tidak tahu medan, lalu saya ciut di belakang dan berakhir jadi jago kandang doang! Harusnya saya ini sering-sering ditantang dengan sesuatu yang menantang biar tidak sombong.

Pemahaman pembelajaran saya ini sebatas saya menyadari saya ini pintar di kelas dan membantu teman saya yang memerlukan. Bukannya pergi ke luar dan memasukkan diri saya ke 'kandang macan bule Jerman lalu bergelut di sana'. Saya masih saja duduk-duduk manis di kelas, berbosan-bosan menunggu jam kelas selesai sambil senyum-senyum. Sudah. 

Lain halnya dengan teman saya, bahwa dia berani untuk membawa semua kemampuan yang dia punya dengan segala kerendahan hatinya untuk belajar sesuatu yang baru. Saya ini takut dikritik dan tidak suka dikritik. Kalau kata orang kritik itu adalah komentar yang membangun, saya melihatnya sebagai sesuatu yang menyakitkan dan menunding bahwa saya ini tidak sampai level standard. "Idih... Si Metta lemah sekali yee,  gitu aja sakit hati, dasar mental tempe!" Iya memang. 

Saya rasa mental-mental tempe seperti saya ini sebenarnya banyak dan kalau terlalu lama seperti ini dengan berat hati saya tegaskan: Anda tidak akan bisa ke mana-mana, saudara-saudara. Serius.

Jangan lebay

Kalau kata Bapak saya, saya ini sudah congkak, gengsian pula! Saya gengsi untuk menjadi pihak yang salah dan bodoh. Padahal untuk mencapai sesuatu yang baik dan bagus pastilah dimulai dari pemula, yang pastinya masih naif, digoblok-goblokin, bodoh, diketawain, dikritik dan seterusnya dan seterusnya. Saya ini terlalu congkak untuk belajar dari orang lain yang lebih mengerti karena menganggap saya ini sudah cukup dan bisa sendiri. Padahal skill saya ini masih level ya gitu deh.

Ada baiknya sih, agar kita ini tidak terlalu lebay dalam menghadapi kritik dan kegagalan yang pasti akan kita banyak jumpai  di kehidupan ke depannya. Bahwa kita ini ya sama-sama belajar karena hidup ini adalah panggung sandiwara, bedanya hidup kita ini tidak ada gladi resiknya semua langsung perform. Dan sayangnya, tidak ada stuntman  atau pemeran pengganti yang bisa jadi back up kita jikalau ada adegan-adegan yang berbahaya dan meregut nyawa.  Semua itu ya kita yang hadapi sebagai lakon utamanya. 

Jadi, sudahkah kita cukup berani untuk menjadi rendah hati dalam belajar dan mengambil resiko? 

22.4.13

'Life must go on', katanya


pic: google

Sebenarnya tidak ada yang harus saya takutkan. Bahwa pada akhirnya kita itu memang harus maju dan melangkah ke tempat yang lebih dalam lagi. Ada beberapa hal yang sepertinya saya hadapi berkali-kali dan selalu berat rasanya. Bahwa terkadang untuk keluar dari comfort zone itu susah sekali. Kurang dari tiga bulan lagi saya sudah resmi lulus kuliah. Dan saya rasanya ketar ketir dengan berbagai hal yang akan saya hadapi setelah ini.

Saya ngeri sendiri sebenarnya untuk back for good ke Indonesia. Bukan karena saya gak cinta gak sayang lagi sama Indonsia, tapi saya terlalu takut untuk mulai dari awal dan adaptasi lagi. Sesuatu yang baru dan saya gak punya ide sama sekali akan seperti apa kelanjutannya. 

Kadang saya malu sendiri kenapa saya pengecut sekali untuk sekali-kali tidak perlu khawatir dan mencoba lalu jalani saja apa yang kamu punya sekarang. Terkadang memang kenyataannya tidak semudah itu. Kalau saya takut sendiri dengan mimpi-mimpi dan harapan saya ke depannya. Bahwa sebenarnya saya juga ingin ikut andil dalam masyarakat, bisa menginspirasi orang lain dan punya hidup yang berarti. Lalu di lain pihak  rasanya mimpi yang saya untuk jadi jurnalis jauh sekali.

Mungkin sesuatu yang saya harapkan  ini tidak akan pernah mudah, perjalanan masih panjang mungkin butuh waktu lama untuk sampai ke sana. Namun saya juga tidak sampai hati untuk menyerah pada diri saya sendiri. Tidak sekarang. Itu saja. 


9.4.13

Nona Kecil dan Bianglala



photo: claudi


Mari saya kenalkan pada seorang nona. Nona ini bernama Nona Kecil. Dia pemberani dan bukan 'cewek cemen', dia tangguh dan kritis pada keadaan sekitarnya. Terkadang dia ceroboh dan cerewet. Oh iya satu lagi dia agak kelebihan energi, terlalu hiperaktif dan tidak bisa duduk terlalu lama dan berdiri diam tidak berbuat apa-apa.

Akhir-akhir ini Nona Kecil sedang merasa bosan dengan kehidupan yang begini-begini saja. Akhirnya Nona Kecil pun melangkah masuk ke sebuah ruang tertutup di hatinya yakni: Gudang Rasa Takut. Nona Kecil berjalan pelan-pelan masuk dan mulai memperlajari rasa takutnya terhadap sesuatu. Banyak sekali pilihannya : dari takut pelajaran Matematika, takut badut, takut petasan, takut petir, dan takut ketinggian. Akhirnya Nona Kecil memilih salah satu ketakutan itu untuk diuji ulang kembali. Kita tidak pernah tahu kan apakah kita masih takut pada sesuatu hal yang sama seperti kita saat umur 5 tahun? Kita jelas berubah, namun apakah ketakutan itu masih sama? Ya.

Nona Kecil menguji ketakutannya, mencari limit, mencari batas, mencari suatu alasan apakah ketakutan ini cukup masuk nalar kah? Memang rasa takut itu adalah sebuah rasa yang membuat pergerakan jantung kita lebih kencang keras dari biasanya. Membuat kita akhirnya menyerah pada rasa takut karena tidak nyaman itu tadi. Bahwa sebenarnya manusia itu mudah merasa nyaman pada sesuatu, bahwa terkadang manusia itu sulit untuk melepaskan sesuatu yang nyaman. Melekat. Ada baiknya jika kita tidak terlalu 'lekat' pada sesuatu. Karena percayalah dunia ini fana dan kita hanyalah ilusi-ilusi yang tercipta dengan waktu kadaluarsa.

Nona Kecil mencoba semua permainan ketinggian. Takut tapi penasaran, penasaran tapi takut. Permainan itu menguji adrenalin, menguji ketahanan untuk tetap diam dan pasrah namun tetap bebas mengekspresikan dengan teriakan sumpah serapah. Suatu yang bebas, suatu yang meledak-ledak, sesuatu yang dinamis, sesuatu yang ekstrem dan sesuatu yang menantang. Nona Kecil suka. 

Lalu Nona Kecil memutuskan dengan kebulatan tekadnya bahwa dia akan mencoba sesuatu yang tinggi tapi tenang. Semua orang santai, semua orang senang, semua orang ceria, semua orang berkata itu romantis. Nona Kecil penasaran. Seperti biasa, selalu terbujuk dengan rasa penasaran dan tertantang. 

Nona Kecil mencoba bianglala. 

Suasana malam, kemerlip lampu warna-warni, wangi semprotan parfum, teman-teman dekat, pemandangan indah di luar. Pas. 

Namun entah kenapa Nona Kecil ini khawatir, takut, was-was. Seolah kapan saja dia bisa jatuh ke bawah dan mati kapan saja. Seolah pemandangan dari kaca transparan itu bias dan Nona Kecil mulai membayangkan kaca tersebut pecah dan berhamburan lalu Nona Kecil jatuh seiring gravitasi. Nona Kecil takut, pucat pasi, kaku, ngeri, khawatir dan terdiam. 

Bianglala itu berjalan naik dengan perlahan-lahan, pemandangan semakin indah, lampu kerlap-kerlip berada di belakang jendela, semilir angin menggoda rambut Nona Kecil. Indah, cantik. Nona Kecil terkesima, terkejut sendiri dan ngeri.

Ada apa dengan Nona Kecil? Bukankah semua orang itu suka naik bianglala dan melihat pemandangan kemerlip lampu indah? Namun mengapa Nona Kecil mempunyai gejala-gejala yang berbeda. Di permainan ketinggian lain dia sungguh berani dan lepas, tapi kini ceritanya beda.

Mungkin Nona Kecil memang takut ketinggian, tapi Nona Kecil tahu betul bahwa sesuatu yang tinggi itu mengasyikan, menyenangkan dan menantang. Namun Nona Kecil suka ketika ketinggian itu saking tingginya sampai benar-benar lepas. Dengan energi dan bebas mengekspresikan apa saja. Bahwa tinggi itu menjadi sebuah morfin yang membuat senang dengan pacuan adrenalin karena Nona Kecil suka sesuatu yang menantang dan adu nyali, karena Nona Kecil tidak suka dibilang 'cemen'. 

Hubungan Bianglala dengan Nona Kecil ini rasanya, hubungan yang aneh. Bianglala ini tinggi, anggun, rupawan, bersinar, cantik, indah dengan kemerlipnya. Nona Kecil suka memandangnya dari kejauhan, terpesona sendiri dengan keindahannya dengan cahaya bias di langit malam. Bianglala ini saking anggunnya, dia berjalan pelan-pelan, terkadang tidak terasa bahwa dia berjalan, bahwa dia bergerak. Nona Kecil tidak terbiasa dengan sesuatu yang halus dan lembut menelusup hingga dia tidak tahu apa-apa. Nona Kecil  terbiasa dengan sesuatu yang mudah dilihat, mudah ditebak gerak-geriknya, hingga bisa diekspresikan. Bukan sesuatu yang membuat lumpuh dan hanyut. Nona Kecil adalah manusia dinamis yang penuh energi hingga tersiksa setengah mati dengan sesuatu yang tenang, perlahan, pelan......pelan.... sedikit....sedikit....naik.... pelan...pe----lan...p....e....l....a....n. Membuat gelisah.

Nona Kecil takut dan takjub dengan bianglala ini sendiri, dia ngeri dengan kecantikannya. Mengapa sesuatu yang rupawan itu terkadang mengerikan? Cukup dilihat dari jauh. Namun penawaran bianglala ini memang menguntungkan. Cantik, tinggi, pelan, pasti, tenang, romantis, ngeri, tidak usah banyak bicara, tidak terbaca, cerdas, mendebarkan, dan pas. 

Akhirnya Nona Kecil menemukan limit ketakutannya dan sesuatu yang melumpuhkannya: sesuatu yang pelan, tegas, tenang, ngeri, anggun, mendebarkan, tidak terbaca, dan cerdas. Bianglala. 


27.3.13

Manusia Kini Tidak Menunggu Senja


Sudah berapa kali senja yang kau lewatkan tanpa duduk santai, membaca buku, menyilangkan kaki, menikmati suara burung gereja dan memandang langit sore. Sementara kau sibuk sendiri dengan alat elektronikmu mencari eksistensi diri di dunia maya, mencari pembenaran dari orang lain dan pengakuan bahwa kamu itu ada. Bahwa faktanya kamu jadi malu sendiri karena sebenarnya teman-teman dekatmu adalah alat elektronikmu.

Lalu kamu duduk untuk minum kopi dengan temanmu tapi kamu malah tidak berbicara tapi malah asyik menyentuh layar ajaib dan memeriksa jejaring sosial temanmu berharap agar kamu terhubung, padahal untuk ngobrol santai dan menjadi manusia yang kehadirannya 'kini' saja kamu tidak bisa. Atau mungkin ini hanya saya saja yang gaptek dan ketinggalan zaman serta terlalu perasa dengan keadaan sekitar saya.

Kenapa yah generasi kita jadi generasi instan yang maunya semua serba cepat dan terburu-buru? Semakin mudah dihubungi, digapai, sampai kadang beberapa alasan tidak dihiraukan. Jika kamu message saya, email saya, entah mengapa harus segera dibalas, padahal kamu juga tidak bakalan mati kalau saya balasnya nanti-nanti saja. Kita ini terburu-buru dan tidak bisa menunggu. Mengapa semuanya harus cepat?

Kita lupa menikmati sekitar kita dan terlalu sibuk dengan apa yang menjadi ambisi pribadi kita. Kita bukan lagi manusia yang menunggu senja dan menikmati langit oranye dan berubah turun menjadi hitam. Tanpa kita sadari sebenarnya hidup kita ini bukanlah persoalan 'menjadi' tapi 'mencari' siapa kita ini. 

15.3.13

Menulis Tuhan karena Dia di Mana-mana


tumblr

Satu hal yang saya pelajari akhir-akhir ini adalah ketika kita menjauh dari Tuhan, kita pun semakin sulit  untuk mempunyai relasi baik dengan sekitar kita. 

Sampai suatu malam yang sumpek, saya berpikir dan menulis di buku jurnal saya: Kenapa yah rasanya akhir-akhir ini susah sekali untuk bersyukur?  Saya merasa bahwa apa yang saya punya ini tidak cukup. Apa yang saya kerjakan tidak seperti yang saya harapkan. Saya merasa tidak cukup pintar dan cerdas untuk bisa dilepas di dunia kerja dan itu membuat saya gerogi saat mulai mengingat-ingatnya.

Saya tetap rajin ke kapel di sekolah saya untuk misa mingguan setiap hari Sabtu jam 8 malam, saya tetap rutin berdoa, namun entah mengapa ada yang hilang. Ada esensi yang hilang saat saya ke gereja dan saat saya berdoa, saya tidak merasa 'haus' atau 'rindu', yang saya rasakan adalah itu merupakan sebuah rutinitas. Entah mengapa kehidupan rohani saya menjadi sebuah rutinitas bukan sebuah kebutuhan jiwa saya. Layaknya kalau saya tidak mandi maka saya akan cepat-cepat mandi, atau layaknya kalau saya belum makan maka saya akan cepat-cepat makan.

Saya merasa perasaan seperti ini sungguh 'membunuh' saya perlahan. Saya jadi jumpalitan, saya merasa rungsing sekali dengan ini itu. Dan menurut saya ketika saya menjauh saya pun jadi sulit untuk dekat lagi, seolah rasanya jauuuuuuuuh sekali. Sama saja seperti sudah lama tidak bertemu dengan teman, ketika bertemu lagi maka saya akan canggung untuk berbicara, canggung untuk menyapa, lalu akhirnya berakhir dengan senyum-senyum bingung saja. Saya selalu merasa pdkt saya dengan Tuhan tersendat-sendat karena saya yang malaaaaaasssssss untuk sekedar menyapa: Hallo, Tuhan, apa kabar?

Dosa berulang itu dosa yang tidak kreatif

Hari ini di kapel ada pengakuan dosa sebelum Paskah. Saya merasa saya butuh sekali mengaku dosa karena rasanya dosa-dosa saya sudah berbau anyir menusuk. Saya mengaku bahwa saya adalah anak Tuhan yang durhaka karena meminta ampun terus-terusan tapi dosa saya dari tahun ke tahun berulang-ulang terus, gak kreatif.

Saya itu layaknya medusa dengan rambut tebal saya yang penuh ular berbisa hingga akhirnya otak saya isinya racun semua. Saya selalu lupa untuk bersyukur bahwa saya masih bisa hidup sampai hari ini tanpa kekurangan apa pun, bahwa Tuhan tetap memelihara saya sampai sekarang walaupun saya suka ngeyel dan pura-pura lupa kalau mau doa lalu akhirnya ketiduran bagaikan babi. Saya lupa bersyukur bahwa orang-orang di sekitar saya yang selalu setia dan mendukung saya. Pokoknya intinya, lupa bersyukur itu adalah sebuah kesalahan fatal dalam hidup yang akan membuat sudut pandang kita tentang dunia dan  hidup jadi- gelap-gelap-gimana-gitu lalu berpangkal pada kegelisahan berlanjut galau. Kalau sudah begitu, panjang buntutnya.

Kenapa yah saya itu berdosa tapi berulang, berdosa tapi tidak kreatif? Kenapa sih punya hobi kok remedial? Kayak pas SMA dulu, hobi saya ulangan remedial matematika. Matematika saya pasti merah di rapot dan masalah saya itu-itu melulu. Kenapa yah saya itu selalu mengulang kesalahan yang sama? Apakah manusia itu  adalah makhluk dungu yang kalau belajar harus diulang-ulang dulu baru dia mengerti? Kalau saya jadi tuhan, sudah capek hati saya melihat kelakuan manusia seperti saya ini, super bolot, diajarin susah. 

Lalu saya pun tersadar, apabila saya remedial terus-terusan dengan dosa yang sama, itu tandanya saya belum bisa menguasai materi, ya kan? Saya masih belum bisa mengerti hingga maaf-maaf saja, pembelajaran pun diulang-ulang. Mungkin begitu juga dengan situasi ini, otak dan hati saya belum lebar-lebar amat untuk bisa terus menerus bersyukur atas apa yang saya punya sekarang. Bahwa terkadang halaman rumah tetangga saya rumputnya hijau-hijau subur semua, tapi saya mustinya bisa tetap bersyukur karena meskipun rumput di halaman rumah saya tidak tumbuh hijau subur cantik, tapi saya pelihara kambing yang unyu bukan main di halaman rumah saya. Ya kan?

Hati kita lebih dari ini 

Pastor tadi berkata bahwa berdoa itu adalah nafas dalam hidup kita. Tidak perlu kata-kata panjang dengan doa hafalan. Cukup ungkapan dalam hati dan yakin bahwa Tuhan itu hadir di setiap langkah kita dan hari-hati kita.

Tuhan itu ada di mana-mana, maka di mana-mana itu ada ciptaan-Nya, sehingga seharusnya kita bisa lebih dekat dengan Dia. Ada Tuhan di setiap helai daun, ada Tuhan di setiap senyum, ada Tuhan di setiap semut yang berbaris rapi, ada Tuhan di udara, dan ada Tuhan di setiap hati.


Saya itu mempercayai konsep bahwa hati manusia tidak akan pernah bisa 100% penuh terisi. Hati manusia itu tidak akan pernah bisa kepenuhan, maka itu dia tidak akan pernah bisa puas. Dan jikalau Tuhan itu bisa dilihat, diraba dan ada wujudnya seperti makhluk hidup nyata di dunia, itu tandanya memanjakan indera manusia. Apabila indera manusia dimanjakan maka dia akan segera terpuaskan dengan apa yang sudah mereka ketahui dan mengerti. Sedangkan Tuhan itu Maha dan wujud Beliau pun diluar jangkauan indera dan nalar akal sehat manusia. Karena itulah kita manusia berusaha mengerti Tuhan yang ternyata tidak sanggup manusia mengerti dan akhirnya manusia terus-terusan mencari Tuhan yang manusia kira 'tidak ada di mana-mana itu.' 

Saya dengan otak secuil ini pun mulai mengira-ngira sendiri, mungkin Tuhan itu sengaja membuat hati kita ada ruang kosong yang tidak akan pernah terisi. Ruang itu adalah bilik hati yang penuh misteri dan kadang rasa kosong itu berasal dari situ. Maka itu manusia akan terus mencari-cari potongan hati mereka yang hilang entah di mana, dengan harapan ruang kosong itu hangat dan penuh terisi. Padahal sebenarnya tempat bilik kosong itu adalah tempat Tuhan sendiri untuk berdiam dalam hati kita, karena tubuh kita adalah Bait Allah. Mungkin benar kata orang-orang zaman dulu, apabila ingin mencari Tuhan, carilah di kedalaman jiwa, di dalam hati kita. 



23.2.13

Karena Lensa Mata Hati Kita Semua Berbeda




Rasanya saya sudah butuh beli kacamata atau contact lens. Penglihatan saya udah mulai siwer-siwer dari jauh, jadi kalau liat objek dari jarak jauh matanya harus minceng-minceng dan mengeluarkan mimik nyengir-nyengir aneh. Jelek? Oh... sudah biasa itu. 

Mengapa saya mulai menyerah dan butuh kacamata? Karena tulisan mandarin itu menyiksa mata dan batin saya. Sudah tulisannya kecil-kecil, jelimet lagi. Pokoknya saya mau menjadikan tulisan mandarin sebagai kambing hitam atas bertambahnya minus mata saya. Titik. Kini saya sudah mulai susah lihat orang dari jarak jauh dan baru sadar kalau ternyata ini orang sudah senyam-senyum dari jauh ke saya, namun saya cuekin. Kalau begini terus bisa membuat pergaulan saya jadi terhambat dan disangka sombong. Padahal saya mah ramah orangnya, suer deh! Belum lagi sering kali saya salah liat. Saya kira saya kenal eh taunya...enggak. Sebel kan? Terperdaya penglihatan sendiri? 

Halusinasi

Pada suatu malam saat sedang winter break, sesudah saya mandi dan bermain-main tak sengaja melihat jendela kamar. Lalu dari kejauhan saya melihat menara Eiffel. Cantik, anggun dengan lampu kemerlip kekuningan. Hati saya pun langsung nyess seketika, padahal jelas-jelas otak saya yang seuprit ini tahu bahwa keberadaan saya ini di Taiwan bukan di Paris. Dan di Taiwan sini tidak ada Eiffel, adanya Taipei 101 itu pun di Taipei bukan di Kaohsiung. Tapi entah mengapa saya suka sekali melihat ke luar jendela dan memandang 'lampu menara Eiffel' yang sebenarnya berwujud plang toko sepatu berwarna kuning.

Nyaris setiap malam setelah saya mandi saya berdiri sejenak untuk menikmati menara Eiffel jadi-jadian saya. Lalu suatu hari saya memberitahu roommate saya akan pemandangan menakjubkan itu. Namun jelas mereka tidak bisa melihatnya, jelas yang mereka lihat adalah plang toko sepatu berwarna kuning bukan menara Eiffel. Alhasil roommate saya bingung setengah mati dan berusaha mengerti dari mana letak sisi ke-menara-Eiffel-an-nya? Saya jelaskan berkali-kali dari setiap sisi sudut pandang tentang apa yang saya lihat. Tapi rasanya apa yang saya lihat jelas bukanlah apa yang dia lihat dari matanya. 

Jangan salahkan jikalau...

Lalu saya berpikir bahwa sebenarnya bukan salah saya atau salah roommate saya kalau ternyata sudut pandang kita berbeda. Apa yang dia lihat berupa wujud lain dan apa yang saya lihat adalah menara Eiffel. Tidak ada yang salah atau kurang kreatif, itu hanyalah sebuah 'penglihatan' masing-masing yang ternyata berbeda, bahwa mata saya minus sehingga penglihatan saya kurang awas sehingga saya bisa melihat 'yang lain'. 

Saya yakin sebenarnya itu juga sebuah awal di mana setiap orang punya sudut pandang dan pemikiran yang berbeda akan suatu hal. Jangan salahkan apabila seringkali kita berserbangan pendapat dengan orang lain di sekitar kita karena barang kali lensa mata yang mereka pakai berbeda. Jangan salahkan apabila lensa orang tersebut adalah lensa cembung sehingga apa yang dia lihat extra besar sehingga dia bisa melihat dengan detail dan rinci, jangan salahkan juga apabila lensa orang tersebut adalah lensa cekung jadi dia hanya lihat selewat saja, asal gembira, asal senang. 

Begitu juga dengan warna-warna lensa, ada orang yang punya lensa pelangi di matanya sehingga apa yang dia lihat warna warni, ada yang lensa matanya warna hitam sehingga apa yang dia lihat ya... berwarna hitam. Dan lucunya, kalau dua orang itu bertemu dan berdiskusi tentang suatu objek, misalnya bunga mawar lalu mereka mendeskripsikan bunga mawar itu. Si Lensa Pelangi pasti akan berkata: Mawar itu cantik sekali berwarna-warni seperti pelangi. Lalu Si Lensa Hitam berkata: Ah.... itu mawar sudah layu, warnanya hitam. Lalu gawatnya mereka bertengkar dan sibuk meyakinkan satu sama lain bahwa warna mawar itu berdasarkan apa yang dia lihat. Kan bego itu namanya! Wong Si Lensa Pelangi melihat mawar itu warna-warni dan Si Lensa Hitam melihat mawar itu hitam! Tidak ada yang salah, tidak ada yang benar, hanya berbeda saja.

Beda Itu Tidak Jelek 

Sedari kita kecil, kita selalu takut untuk menjadi yang beda. Kita takut dengan menjadi beda maka kita tidak normal. Padahal sebenarnya sedari lahir saja kita sudah 'beda' tidak ada yang sama satu sama lain. Kita selalu ingin sama dengan orang lain agar kita terlihat normal. Begitu juga dengan pikiran dan perasaan. Kita ingin mempunyai pemikiran yang sama agar bisa diterima di masyarakat karena kebetulan masyarakat mempunyai pemikiran yang seragam sehingga jadi harmonis. Tapi kita kan tidak tinggal di negara komunis,  kita bebas, bebas bicara, bebas berpendapat, bebas berekspresi. Kenapa harus sama? Kenapa kita sangat takut dengan pluralitas? Karena takut terpecah-pecah? Eh.... belum tentu. Pluralisme itu indah, beragam, berbeda. Dan hal yang harus kita miliki adalah toleransi bahwa saya berbeda, kamu berbeda, kita berbeda dan kita semua menghargai perbedaan tersebut. Kebayang dong, kalau kita semua sama pasti dunia ini membosankan sekali!

Ketika kita berbeda-beda kita jadi bisa melihat banyak sudut pandang dari orang lain dan itu jelas bisa memperkaya kita menjadi manusia yang lebih baik lagi kan? Kita jadi mengetahui bahwa ada pemikiran gila dan rumit yang dimiliki oleh orang lain dan kita akan terkagum-kagun dengan pemikirn orang yang super simple sehingga hidup dia happy-go-lucky. Bawa perbedaan itu pembelajaran untuk kita menjadi terbuka dan maklum dengan sekitar. 

Kini saya mulai bersyukur dengan pengliatan saya yang rada siwer-siwer ini. Saya bisa melihat sesuatu yang indah yang belum tentu orang bisa lihat, saya bisa membodohi diri sendiri dengan melihat sesuai kemampuan mata saya, meski terkadang saya jadi nubruk-nubruk kalau jalan. Saya rasa saya butuh kacamata secepatnya. Tetep. 





3.2.13

Day #30: Kata Akhir


manusia mencari dan tak akan berhenti
ruang di hati mereka bocor tak berisi

mungkin ruang itu kedap suara
sehingga tidak terdengar

mungkin ruang itu nihil oksigen
maka kita tidak mampu bernafas di dalamnya

mungkin ruang itu tidak berjendela
hanya satu prespektif di mata, membosankan

mungkin saja ruang itu hanya konsep
eksistensinya dipertanyakan

maka itu saya menulis puisi,
ada ruang yang tak beresensi
kadang lupa dinikmati
dan saya selalu tergoda
mencari-cari
lalu kutitipi rasa disetiap puisi

30 hari bersama puisi,
tiba-tiba aku ingin duduk berdua
lalu mengirim rindu setiap potongan
dan belajar menerima yang tak pasti.


Kaohsiung, 2013








Day #29: Perihal Api yang Harus Terus Terjaga


puisi untuk diri

bukan waktunya untuk terus-terusan menulis sajak wangi
di belakang halaman menikmati semburat jingga senja di kornea mata,
cantiknya memabukkan dan mematikan
jangan terkecoh dengan cangkir romantisme manis
karena kita tahu itu ilusi hati cengeng

barangkali memang benar bahwa kita jangan naif
pada sebuah paranoid laten atas realitas
ada baiknya memang kita hanya tersenyum
pada sebuah pembicaraan basa basi tidak berkualitas

bahwa ada benarnya bahwa belajar itu dari sesuatu yang sakit
agar sedikit jadi sakit jiwa dan psikopat
agar darah mengalir segar dan kau tertawa-tawa
agar kau terpuaskan bahwa sakit itu nikmat
dan kau mulai tergoda nagih
di sekujur tubuhmu berteriakan meminta

kau sudah lelah dengan doa-doamu yang panjang
berusaha membius tuhanmu dengan satu permintaan yang kamu damba
semakin kau tersadar bahwa selama ini permintaanmu sudah ditolak mentah-mentah
bahkan sebelum terpikir di otakmu, sebelum kehendakmu meruap

bahkan kau makin tersadar bahwa ada beberapa saat
kamu ambigu
kamu tidak beridentitas
kamu hilang sendiri di dalam otakmu yang penuh tahi
berbau, mengendap sekaligus bonus lalat berterbangan

rupanya kau mengada-ada dengan imajinasimu
lalu kau menangis diam-diam pada sebuah sepi yang menjengkelkan
lalu kau bosan dan jijik
karena lemah dan kacangan

belakangan, kau tersadar bahwa kau sedungu itu
lalu kau sadar bahwa ada yang alpa, hatimu
hingga kau haru sendirian
bahwa api mesti terjaga dalam hati
biar dia terus terbakar
dan kau hidup punya arti
hingga raga kau mati.


Kaohsiung, 2013







2.2.13

Day #28: Jika Kau Dara, Jika Kau Bujang


1.
Jika kau dara
dan masih perawan
bangun tidur tidak boleh siang
celotehan nyinyir: " Anak perawan kok tidur sampai siang!"

Jika kau dara
dan masih perawan
kau pulang malam sendirian
celoteh nyinyir: "Anak perawan pulang malam-malam, ganjen, lonte!"

Jika kau dara
dan masih perawan
buah dadamu besar merekah
pantatmu bulat tinggi
celotehan nyinyir: "Anak perawan aurat ke mana-mana, bispak!"

Jika kau dara
dan masih perawan
gagap masak gagap jahit
celotehan nyinyir: " Anak perawan harus bisa masak jahit, mau kasih makan apa suamimu?"

2.
Jika kau bujang
dan masih perjaka
eh tunggu...
siapa peduli perjaka atau tidak?
selama kau sunat
beres sudah


Kaohsiung, 2013

Day #27: Pada Waktunya



ada waktunya tertawa
ada waktunya menangis
ada waktunya mengejar
ada waktunya menunggu
ada waktunya lahir
ada waktunya mati
ada waktunya halo
ada waktunya sampai jumpa

untuk segala sesuatu ada masanya
kira-kira begitu yang ditulis di Alkitab



Kaohsiung, 2013



31.1.13

Day #26: Waktu,Rungsing, Saya



Djenar pernah menulis: " Waktu semakin terasa seperti ejakulasi dini, berlalu cepat sekali."


Tiktoktiktoktiktok
Detik pongah berdetakkan
Masih angkuh dan sombong
Terburu-buru
Seperti ibu-ibu yang sedang mengambil jemuran saat rintik hujan
Meninggalkan saya yang rungsing
Mempertanyakan: ke-apa-an saya di masa depan

Saya ngeri
Pada dunia sebebas-bebasnya di luar sana.


Kaohsiung, 2013
-saya lagi bingung dinner nanti pakai baju apa ya? 

29.1.13

Day #25: Salah Strategi


Harusnya:
'Jangan pake hati,
pakai otak,
lalu hati ditambah sedikit-sedikit.'

Kalau saya:
'Sudah memakai hati dari awal.'

Ah...strategi saya salah,
mungkin?

27.1.13

Day #24: Ngantuk


pic: tumblr



aku mengantuk,
berton-ton malam di kelopak mataku,
tapi insomnia
karena :
selimut gerimisku teralu basah dan dingin,
bantalku tersesat susah pulang,
gulingku berteleport pulang ke Indonesia,
kasurku dijemur dan berdansa dibawa lari matahari,
aku takut, 
di gorden ada mendung bergelayut hampir menangis,
di kolong tempat tidurku ada monster hijau dan tuyul tanpa kepala. 

aku mengantuk tapi tidak bisa tidur,
aku ingin tidur di selimutmu, bantalmu, gulingmu,kasurmu 
dan di samping kamu saja boleh tidak? 


Kaohsiung, 2013


26.1.13

Day #23: Liar Berterbangan


langit menyala pada sebuah mendung
lembayung memagut bibirnya
lalu ia tersenyum-senyum pada angin
yang membawaku terbang
bersama ilalang ke sana
titip salam,
rindukan aku.


Kaohsiung, 2013



* saya terinspirasi oleh sebait puisi Chairil Anwar- Tak Sepadan


Aku kira
Beginilah nanti jadinya:
Kau kawin, beranak dan berbahagia
Sedang aku mengembara serupa Ahasveros



25.1.13

Day #22: Takut


jembatan
petir
gelap
badut
matematika
menyebrang jalan
petasan
sesuatu yang tinggi
bau rumah sakit
airport
ucapan selamat tinggal


Kaohsiung, 2013

24.1.13

Di dalam Tulisan Ada Cerita Kecil : Keluarga


Satu sore ini aku sibuk membaca lalu menulis lalu membaca lagi lalu menulis lagi. Terus-terusan. Aku baru selesai baca bukunya Mitch Albom berjudul For One More Day. Aku selalu suka dengan tulisannya Mitch Albom, menggelitik, anggun, menggoda dan mistis. Aku gak bisa habis pikir, gimana yah cara orang nulis buku itu? Salut. Menurutku menulis itu layaknya 'mendoktrinasi' pemikiran dan gagasan kita ke orang lain dengan memberikan kebebasan berpikir sebebas-bebasnya. Membiarkan orang lain bisa mampir sebentar duduk di tengah otak kita dan ikutan berpikir. 

Di awal buku ini, Mitch Albom, memulai narasinya begini: 
This is a story about a family and, as there is a ghost involved, you might call it a ghost story. But every family is a ghost story. The dead sit at our tables long after they have gone. 
Dan aku sudah terpesona, kasmaran, jatuh cinta klepek-klepek di awal paragraf.  Gila gak sih? 

Buku ini bercerita tentang seorang pria yang berusaha untuk bunuh diri karena kecewa pada diri sendiri, merasa gagal sebagai seorang ayah, suami dan anak. Lalu bagian yang menarik adalah di masa kritis ini, roh ibunya yang sudah meninggal datang dan mereka melakukan deep conversation dan menguak cerita-cerita lama dan rahasia di keluarga mereka.  

Terkadang ada beberapa hal dalam hidup kita yang rasanya salah, lalu kita menyesal secara berkepanjangan karena adanya rasa bersalah yang terus-terusan datang. Pahitnya,  kita tidak cukup sakti untuk bisa mengulang waktu dan mencegah beberapa peristiwa terjadi dan terkadang peristiwa tersebut terjadi di luar kemampuan kita, tiba-tiba sudah lewat dan terlambat. Di buku ini digambarkan penyesalan Charley karena dia tidak bisa hadir saat ibunya meninggal dan dia merasa gagal sebagai seorang anak.

Terus sebagai pembaca kebanyakkan pikiran, aku jadi ikutan berpikir, aku sebagai seorang anak, sudah cukup membanggakan dan membahagiakan belum yah? Rasanya belum.

Ketika aku masih kecil sering kali aku berandai, "Jikalau aku sudah besar nanti, jikalau aku sudah dewasa nanti....." dan sebagai anak kecil normal aku ingin cepat-cepat dewasa. Tanpa sadar bahwa jikalau aku bertambah dewasa berarti orang tuaku pun bertambah tua. Ibuku pernah berkata  "Sampai selama-lamanya, sepanjang segala abad, amin. Kamu akan tetap menjadi gadis kecil kami berdua. Jadi ketika kamu pulang... ya kamu adalah anak." Hubungan orang tua dan anak itu tidak pernah bisa dipisahkan. Pacar, teman, suami, istri bisa menjadi mantan, tapi mantan anak dan mantan orang tua, belum pernah denger sih aku.

Semakin beranjak kita dewasa pasti ada beberapa hal yang berubah, lalu munculah sang momok menakutkan yang dinamakan: generation gap. Ketika anak dan orang tua sudah mulai gak nyambung saat berkomunikasi. Entah yang muda tidak sabaran dengan yang tua karena tidak kunjung mengerti, atau yang tua marah-marah berkelanjutan karena merasa menjadi alien tidak mengerti zaman lalu tersadar kalau zaman sudah maju dan merasa tertinggal, singkat kata yang tua panik sendiri namun kepayahan untuk catch up. Ini adalah polemik yang sangat biasa terjadi, sangaaaaaaaat biasa dan setiap generasi pasti pernah mengalaminya. 

Lalu, yang menarik adalah, tetap saja yang tua dan yang muda ini sedarah dari bibit yang sama, dari akar yang sama. Mereka tetap satu keluarga, susah senang tetap satu keluarga. Ya... mau gak mau ya toh, karena kita tidak bisa minta tukar keluarga ke Tuhan. Seperti yang di buku ini katakan: 
You have only one family, Charley. For good or bad. You have one family. You can't trade them in. You can't lie to them. You can't run two at one, substituting back and forth. Sticking with your family is what makes it a family. 

Tanpa Sadar 

Kemarin malam aku iseng-iseng berhadiah membuka lagi file-file lama di laptop. Eh... ada satu tulisan kayak upil nyelip-nyelip nyempil di dalam folder. Aku buka, aku baca ulang dan aku syok setengah mati karena aku pernah nulis model beginian. Tadinya, aku malu dan ingin menjadikan tulisan ini konsumsi pribadi saja, tapi aku jadi takut tulisan kecil penting ini hilang, mubazir, ditelan zaman, dimakan rayap dan cacing tanah, jadi aku taruh di blog aja. (hahaha toh blogku kecil ini, gak ada yang baca kecuali ibuku, sang ibunda kepo abad milenium ini :)) Trus, kalau ada pembaca lain yang baca ini, kita diem-diem aja yah, jadi rahasia kita, tos dulu dong mamen.)  Begini ceritanya. Ehem. 

                                                                                       Cerita Kecil 


Pernah suatu kali aku sedang sibuk dalam pekerjaanku, membaca. Aku berubah menjadi pribadi yang berbeda saat aku sedang sibuk membaca. Aku akan menjadi pribadi yang anti social dan tidak akan peduli dengan oran lain di sekitarku.

Sering kali aku malah marah-marah karena sebal diganggu dan ditanya ini itu. Atau mungkin aku akan hanya menjawab dengan anggukan atau senyuman kecil.

Kurasa kebiasaanku ini harus diubah sekaligus dengan bertambahnya aku dewasa tak ada ubahnya aku dengan anak-anak muda lainnya yang sombong dengan sekitar. Baru saja mencecap kehidupan muda, mencecap kebebasan yang seharusnya bisa aku pertanggung jawabkan dengan baik, aku malah mengambilnya dengan cara yang berbeda.

Kenapa juga yah terkadang orang-orang muda suka sok jumawa dengan keadaannya tanpa adanya pengetahuan lebih tentang ini itu.

Hingga suatu kali di sebuah siang yang panas, ketika ayahku sedang menyantap telur mata sapi kesukaannya. Aku sedang tenggelam dalam kesibukanku dengan tokoh-tokoh cerita dalam novelku. Tiba-tiba ayahku sibuk bertanya ini itu tentang soal computer.

Aku yang merasa sebal diganggu akhirnya cukup diam dan mengangguk. Hingga akhirnya timbulah pertanyaan yang menurutku cukup aneh dan konyol. Ayahku bertanya: "Kalo password di computer itu bagaimana carinya?"

Aku pun tak kuasa menahan senyum dan menjawab sekedarnya.

Lalu seperti harga diri yang terluka ditertawai oleh anak-anaknya, ayahku berkata:
"Kamu tahu tidak perbedaan anak bertanya pada orang tua dan orang tua bertanya pada anaknya?"
"Lihat sana Abhimanyu (adikku 2 tahun) tanya ini itu, orang tua menjawab dengan baik, lain halnya dengan orang tua bertanya pada anaknya, dijawab dengan tertawaan dan ejekkan bodoh."

Mendengarnya aku merasa agak tersentak. Apakah benar sikapku seperti itu? Baiklah aku memang mengakui kalau aku berbuat seperti itu karena aku merasa: "Duelah...masa gitu aja gak tahu?"

Apakah itu tandanya aku pun sombong dengan tindakkanku? Apakah itu tandanya aku juga sama dengan anak-anak muda lainnya yang juga kerap kali sok tahu ini itu padahal pengalaman pun kalah jauh dibandingkan orang-orang tua?

Mana tahu.

Sepertinya iya. Aku masih seorang muda yang terlalu sombong merasa dewasa padahal belum tau apa-apa. 

Malu gak sih lo? 

                                                                                          ***

Aku jadi degdegkan sendiri. Tapi bener deh, tulisan ini jadi refleksi kecil seorang Metta, anak durhaka yang sebentar lagi dikutuk jadi batu, nemenin Malin Kundang. 

Pesan moralnya yah, kepada pembaca setia yang makin kece aja, kalau orang tua kita itu tidak selamanya hidup terus-terusan. Mereka akan menjadi tua dan dipanggil Tuhan. Dan itulah kehidupan, tidak ada yang abadi di bawah kolong langit ini, semua akan kembali lagi ke Tuhan. Itu sudah menjadi suratan takdir, bahwa kita manusia pada akhirnya, setakut apapun kita pada kematian, kita akan tiba gilirannya untuk mati. Titik.

Intinya sih satu, sayangilah dan gunakan waktu sebaik-baiknya bersama orang-orang yang kita cinta, sayang dan berarti untuk kita. Jangan sampai kita malah menyesal di kemudian hari namun itu semua sudah terlambat dan kesempatan sudah hilang. Seperti yang ditulis Mitch Albom:
Have you ever lost someone you love and wanted one more conversation, one more chance to make up for the time when you thought they would be here forever? If so, then you know you can go your whole life collecting days, and none will outweigh the one you wish you had back. 

Ordinary People  

Kalau kata John Legend, "We're just ordinary people, we don't know which way to go. Cuz we're ordinary people maybe we should take it slow. This time we'll take it slow."  Kita memang manusia biasa yang punya kelebihan dan kekurangan masing-masing. Tapi kita tetap bisa jadi diri kita yang terbaik. 

Nikmati hari-harimu sekarang dengan keluarga dan orang-orang yang kamu sayangi. Lalu yang terakhir, yang paling nendang dari buku Mitch Albom, For One More Day ini adalah: 
It was so ordinary in so many ways, but you can find something truly important in an ordinary minute.

Jadi, untuk memeluk ayah dan ibumu lebih lama dari biasanya, terdengar cukup beralasan kan? :) 

        

new post

teko teh

hari ini aku minum teh cukup banyak deh, kayanya aku harus batasi konsumsi kaffeinku yang kurasa kayaknya kebanyakan deh lol. bisa gak ya ak...