23.10.12

Rasa-rasa yang Dirasa

Semakin gencar saya menulis menandakan saya berada pada taraf stress yang makin intens. Saya baru menyadari pola tersebut. Ketika saya mulai merasa semerawut, menulis bisa meredakan segalanya sampai tuntas, layaknya iklan obat pencahar agar buang air besar lebih lancar. Mungkin ini yang orang bilang: selalu ada hikmah dibalik bencana. Yaaaa.... barangkali hikmah dari ini semua adalah blog saya penuh lagi dengan curhatan saya. Yaaaayyy! 

Di tengah aktivitas padat hingga terkadang menarik nafas pun terlupa, saya makin merasa sense saya untuk memperhatikan sesuatu yang sensitif dan detail semakin menumpul. Serasa saya mulai melihat bahwa hidup kita itu yaaa... begini-begini saja, tiga dimensi, tanpa menahu bahwa ada banyak dimensi lain di luar akal sehat kita. Terkadang sesuatu yang terus menerus itu bisa membuat kita terbiasa padahal itu jelas tidak biasa, saudara-saudara!

Jadi ceritanya begini, hari ini hari yang biasa, pagi yang biasa, sarapan yang biasa, dengan perasaan tumpang tindih yang tidak biasa. Membuat saya yang biasanya bangun segar dengan kilauan sinar mata penuh cinta *aseeek*, kini saya letoy tak berjiwa. Sepertinya rutinitas sudah menghianati saya mentah-mentah, memakan jiwa muda saya hidup-hidup tanpa ampun dan kini saya hanya ditinggalkan tulang dan kentut. Bagaikan  dementor yang menghirup kebahagiaan saya, hingga saya bisa merasa lack of love

Efeknya, saya menjalani hari ini sebagai suatu hari biasa bukan sebuah anugerah kalau saya masih diberikan nafas gratis oleh Tuhan. Dan saya kian merasa bahwa saya bangun pagi hari karena sudah layak dan sepantasnya. Saya lupa kalau saya ini manusia biasa yang jiwa dan raganya milik Tuhan hingga saya bisa 'lewat' kapan saja semau Dia.

Lalu yang menarik adalah di hari yang luar biasa 'biasa' ini ada pelajaran sejarah yang super boring malesin. Tapi entah dengan apa dan bagaimana, hari ini topik pembicaraannya sangat menarik yakni: Sebutkan tiga tempat yang kalau kamu ke sana, kamu akan merasa senang bak di surga. Lama saya berpikir dan mengingat-ingat tempat yang mampu memberikan rasa. Akhirnya saya menjawab: rumah, gereja dan perpustakaan. Dalam otak saya mulai mencari-cari apa yang paling menarik dari tempat ini, ternyata jawabannya yang muncul dari pemikiran saya adalah ada sebuah 'rasa'. Tempat-tempat ini selalu muncul di fase kehidupan saya dan mengambil andil yang cukup besar dalam pertumbuhan pribadi seorang Metta. 

Rumah 

Di mana tinggal orang-orang tercinta; keluarga saya. Di mana saya dibesarkan dengan penuh cinta. Di mana saya selalu bisa pulang kembali dan pintu rumah selalu terbuka lebar menerima saya. Rasanya ada perasaan aman, ketika kita tahu bahwa ada suatu tempat yang selalu menerima kita untuk kita pulang dari pergi jauh.

Gereja

Di mana tanpa Dia tentu tidak akan ada saya yang sekarang. Bahwa saya ini hanya kecil di tengah keluasan Dia, bahwa saya ini terbatas tapi Dia tetap ada di manapun saya berada. Dia yang selalu bisa dicari dan ditemui di kedalaman hati dan selalu setia setiap saat seperti di iklan Rexona

Perpustakaan

Di mana saya duduk ansos dari dunia luar dan asyik tenggelam dengan buku-buku. Berkomunikasi searah antara hati dan otak, yang kerap kali bertengkar. Di mana saya mampu berjam-jam duduk membaca sambil berpikir ini dan itu, menerawang jauh ke depan.

Lalu si Bapak Guru menjelaskan, suatu tepat yang memberikan 'rasa' pada kita akan selalu kita ingat dan tersimpan sadar atau tidak. Seberapa pun lamanya itu. Karena bagi manusia bahasa perasaan itu bahasa yang paling mudah disampaikan dan dicerna. Hingga terkadang saat kita pergi ke suatu tempat baru dan ternyata kita menemukan kembaran rasa dengan tempat familiar yang kita sukai, sudah pasti kita akan jatuh cinta dengan tempat itu. Apalagi apabila tempat itu memiliki bau yang sama. Lima indera kita mempunyai andil yang besar untuk perasaan kita. Itulah gunanya dan pentingnya indera.

Ternyata selama ini saya tersedot oleh lingkaran rutinitas yang menumpulkan rasa-rasa. Saya pikir ada bagusnya bagi kita untuk bisa lebih perasa dalam rasa-rasa. Karena sekalinya kita membuka hati pada berbagai rasa dalam hidup, dijamin tiap hari akan berbeda dan jauh dari kata 'biasa'. Lalu sampai titik tertentu, kita bisa mundur kembali dari kesibukan kita dan bersyukur karena hati kita tidak disfungsi dengan keindahan di sekitar kita. Boleh nih dicoba!  :))

20.10.12

Gadis dalam Cermin

Ini saya saja yang terlalu perasa atau memang ini adalah perasaan yang harus dirasa-rasa? Semakin saya bergelut mesra dengan skripsi saya, saya makin merasa bahwa masalah perempuan itu pelik dan jelimet. Sudah diputar-putar dan dikaji ulang, lalu hasilnya? RUMIT. Mungkin benar kata seseorang bahwa pikiran dan hati perempuan itu hanya Tuhan yang tahu. 

Di skripsi saya ini, saya menulis tentang dampak media terutama televisi pada remaja perempuan Indonesia . Saya baru sadar kalau sebenarnya perspektif perempuan pada program televisi di Indonesia itu minim sekali. Televisi itu adalah media yang paling dekat di hidup kita, siapa sih yang tidak mempunyai televisi di rumah? Pasti hampir semua orang mempunyai paling tidak satu televisi di rumahnya. Jadi sudah seharusnya dong kalau program televisi itu lebih memperhatikan isi dari programnya dan tidak semata-mata hanya menayangkan acara musik-musik disertai audience yang diharapkan untuk berpartisipasi menari 'kucek-kucek-jemur-jemur'? 

Televisi kini tidak menampilkan apa yang remaja perempuan butuhkan namun hanya kebutuhan kapitalis yang mengeruk keuntungan dari prodak-prodaknya. Mencuci otak remaja putri agar terobsesi oleh gaya hidup tertentu atau pada pencitraan yang diciptakan oleh iklan: kurus, berambut lurus, berkulit putih, tanpa bulu, harum, dst. Padahal televisi adalah sarana yang mudah untuk mengedukasi masyarakat. Televisi seharusnya memberikan pendidikan lewat program-programnya untuk semakin mengenal tubuhnya, alat reproduksinya, seks dan mengenal hak-haknya. 

Cantik menurut siapa? 

Semalam saya berolahraga di tempat fitness universitas saya. Sambil saya berlari di treadmil, saya berkaca di kaca super jumbo di depan saya. Saya melihat bayangan saya di cermin dan mulai mengoreksi ini itu dari badan saya. Saya mulai mengkritiki badan saya tanpa memberikan kesempatan diri saya untuk membela diri. Saya kurang tinggi, rambut saya frizzy padahal saya maunya lurus jatuh, saya kurang kurus, lengan saya besar, pantat dan pinggul yang besar, saya tidak puas dengan ukuran payudara saya, saya jerawatan, saya tidak seksi, saya jelek, dan seterusnya, dan sebagainya, dan lain-lain, terus, terus, terus dan terus. Saya berlari sampai terengah-engah dengan energi negatif yang berloncatan. 

Apakah benar peryataan bahwa perempuan yang cantik dan seksi itu apabila memiliki tubuh yang bagus? Apakah hanya dengan paras cantik, kulit yang putih dan mulus, rambut panjang dan lurus, kaki jenjang dan tinggi, payudara bulat padat berisi dan bokong ala Beyonce sudah pasti dikatakan cantik? 

Merupakan  tantangan untuk kita dan saya untuk tetap bisa nyaman di tubuh kita sendiri. Apakah kita sudah termakan dengan 'cantik' yang dicitrakan dan dinyatakan di televisi? Apakah itu menjadi sebuah tolak ukur kita untuk seperti yang ada di televisi? Sampai akhirnya hampir sebagian besar perempuan pasti pernah menjalankan program diet menguruskan badan. Bahkan anak perempuan berumur lima tahun pun sudah tahu apa itu konsep diet. 

Di tengah nafas yang terengah-engah saya jadi mengingat seorang teman kuliah di sini. Namanya Carol. Saya mengenal dia karena kami sama-sama ambil jurusan yang sama, bahasa Jerman namun kami beda kelas. Saya kenal dia di asrama karena roommate dia orang Indonesia juga. Dia lucu, polos, baik, tomboy, saya suka ngobrol ini itu dan dia gemar sekali memperbaiki nada bahasa mandarin saya yang kacau balau. Kini dia postpone kuliah karena dia tidak kuat untuk kuliah dan aktivitas berat lainnya, karena terlalu kurus. Ternyata dia terkena anorexia karena merasa tidak ideal dan diejek teman. Saat liburan summer kenaikan tahun ke 3 lalu, dia sukses besar menurunkan berat badannya sampai 25 kilo dan tidak tanggung-tanggung semua lemak di tubuhnya sirna tak bersisa. Kulit pucat kekuningan, rambut tipis, mata cekung, baju kelonggaran dan pencernaan yang tidak sanggup mencerna makanan.

Saya sedih karena kehilangan teman di tengah perjalanan di mana ini adalah tahun terakhir saya. Saya sedih karena saya tidak bisa berbuat apa-apa dan semua sudah terlambat untuk mencegah dia diet jor-joran dan tidak ada kesempatan berkata padanya: kamu cantik dan special!

Jadi, cantik menurut siapakah yang harus kita anut? Apakah arti cantik itu sendiri? Haruskah cantik itu menurut sudut pandang televisi yang tidak berprespektif perempuan? Ataukah ukuran perempuan cantik hanya bisa dinilai dari sudut pandang pria? Bingung? Sama. 

Sudah seharusnya kita, perempuan  sebagai konsumen terbesar dari televisi menjadi lebih bijakasana dan dewasa dalam menyikapi fenomena yang tidak bisa dihindari ini. Gadis remaja tumbuh dengan apa yang dipelajarinya, apa yang dilihat dan itu menjadi konsep dalam otaknya. Dibutuhkan orang-orang terdekat untuk bisa membina dan menjelaskan bahwa cantik itu universal dan tidak semata-mata harus putih, kurus, dan berambut panjang.  Menjadi perempuan merdeka yang merasa cantik dan layak tanpa harus ada penilaian timpang dari televisi atau pria. 


Cermin... cermin... di dinding

Masih ingat dengan cerita putri salju yang mempunyai ibu tiri jahat yang terobsesi menjadi yang tercantik di kerajaannya? Pasti masih ingat! Setelah saya pikir-pikir cerita tersebut ada relevansinya dengan kehidupan perempuan sekarang. Ketika seorang perempuan melihat cermin, apakah kamu tidak ingin tahu apa yang dia lihat di cermin tersebut? Apakah dia melihat sosok yang dia inginkan atau dia sedang sibuk mengkritiki tubuhnya? Atau dia sedang sibuk bertanya pada si cermin: Apakah saya cantik? 

Kembali lagi dengan saya yang basah bersimbah keringat dengan muka kucel dan rambut awut-awutan bak singa masai. Lalu terdengarlah lagu Phill Collins berjudul True Colors dari mp4 saya yang saya pasang random. Lyric nya yang 'nendang' sebagai berikut: 


You with the sad eyes 
don't be discouraged 
oh I realize
it's hard to take courage 
in a world full of people 
you can lose sight of it all 
and the darkness inside you 
can make you fell so small 


But I see your true colors
shining through
I see your true colors 
and that's why I love you 
so don't be afraid to let them show 
your true colors 
true colors are beautiful 
like a rainbow 

Show me a smile then 
don't be unhappy, can't remember
when I last saw you laughing
if this world makes you crazy
and you've taken all you can bear
you call me up
because you know I'll be there


***


Lalu saya melihat diri saya sendiri di cermin dan tersenyum.


10.10.12

Di hari kesehatan mental sedunia dan saya yang jauh dari waras

Hallo... puji Tuhan saya masih hidup hingga sekarang ini. Susah sekali yah cari waku untuk sekedar duduk lalu berpikir mau menulis apa lagi yah. Rasanya banyak cerita namun kok tidak sempat untuk dituliskan. Oh iya, by the way mohon maaf apabila makin hari saya makin gagap menulis menggunakan EYD yang baik dan benar. Saya agak 'kagok' dengan perbendaharaan kata bahasa Indonesia. Agak prihatin sebenarnya saya dengan kemampuan bahasa indonesia saya yang makin turun dan berbicara pun jadi 'belibet'. Semoga ibu saya gak baca postingan blog saya ini, karena beliau guru bahasa indonesia yang baik dan benar. Amin. Semoga juga beliau gak iseng dan taruh tulisan ini di komunika, lebih baik jadikan postingan yang satu ini sebagai konsumsi pribadi di blog aja.

Saat ini saya sedang disibukkan dengan yang namanya skripsi!!!! ARGHHH..... tau gak sih buat skripsi itu rasanya kayak bergulat batin dengan diri sendiri, mengalahkan setan-setan jalang dalam tubuh. Dan saya semakin yakin bahwa sebenarnya saya ini adalah ratu setan jalang. Gileeee.... baru duduk dan buka laptop rasanya setan-setan mulai membayangi dan berbisik-bisik nakal : "Metta.... tidak usahlah kau buat skripsi mu sekarang.... nanti saja... toh deadline masih lama." Man!!! Mau selesai kapan ini skripsinya, ya nona Metta! 

Satu lagi ya..... yang namanya buat skripsi itu, kita harus make sure apakah topik yang mau kamu buat itu menarik 10000000% buat kamu apa enggak. Karena walaupun memang kamu cinta mati sama topik skripsi kamu ada kalanya semangat '45 dan kecintaan pada topik kamu akan luntur bak blao di baju putih. Pokoknya rasanya dari skripsi ini saya belajar bagaimana untuk bisa jatuh cinta berkali-kali pada topik skripsi saya ini. Hadoh....sampe' capek nulisnya.

 Dan.... saya baru sadar saja kalau cinta itu butuh mekanisme, dalam artian kita gak bisa cinta pada sesuatu atau seseorang tanpa kita put effort lebih untuk bisa memelihara rasa cinta kita. Cinta tersebut hadir ketika kita berjuang lebih untuk discover: Faktor apa sih yang bisa membuat saya jatuh cinta lagi dan lagi, setiap hari? Gilaaaaaaaaaaaaa... itu susaaaaaaaaaaaaaahhhh banget! 

Nulis skripsi itu tidak seperti nulis makalah lain yang bisa asal jadi, tapi ada berbagai selipan rasa di dalamnya. Misalnya ada perasaan terbebani, karena skripsi adalah kerjaan anak tahun keempat yang sebentar lagi akan meretas ke dunia nyata. Jadi tekanan dalam menulis itu besar, dalam hati berpikiran: 'Masih kuat gak yah gue.... nulis ini skripsi yang tak berujung pangkal ini. Bisa lulus gak yah gue... tahun ini.' Dan saya mulai tidak bisa menikmati liburan-liburan santai leha-leha pasti bayang-bayang skripsi dan rasa bersalah mulai ada. Lalu ada juga perasaan seperti sedang 'hamil' yang gelisah dan was-was seperti apakah rupa 'bayi' saya nantinya ,akankah mirip saya, suami saya atau malah mirip tetangga? Gawat sekali kalau mirip tetangga. 

Selain itu saya juga merasa bahwa skripsi itu sudah bagaikan pacar yang posesif tidak memberikan ruang lebih untuk pasangannya. Pasangan yang over protective dan nguntit ke sana ke mari. Saya merasa dia berada di sekitar saya 24 jam. Seperti lagunya Maya Ahmad dengan ubahan lirik: 

Aku mau makan, ku ingat kamu
Aku mau tidur, ku ingat kamu
Aku mau pergi, ku ingat kamu
Oh skripsi, mengapa semua serba kamu


Aku sedang bingung, ku ingat kamu
Aku sedang sedih, ku ingat kamu
Aku sedang bosan, ku ingat kamu
Oh skripsi, inikah bila ku jatuh cinta


Astaganaga bundooooooo.... ampunilah anakmu yang manis ini.

Di hari kesehatan mental sedunia ini, saya merasa jaaaaaaaaaaaaaaaauuuuuuhhhh dari kata waras. Saya merasa saya gila dan sakit mental, tapi saya bangga kalau saya sakit jiwa dalam artian saya menikmati dan paham betul kalau saya sakit jiwa, stress dengan ini itu dan skripsi dan tetek bengeknya. Tapi saya masih berusaha kuat meski terpincang-pincang. Untuk orang lain yang merasa sakit jiwa dan jauh dari kata waras.... toss dulu dong! Bear it with me! :))



'Misalnya kau masih punya senyum kirimkanlah lewat hujan lewat embun'
-Eka Budianta-




Merekam Percakapan Sebuah Kota

Bergulat dengan hidup barangkali salah satunya adalah dengan menolak untuk terus menerus tidur-tiduran ayam di tempat tidur saat se...