21.8.12

Lip Service


Menurut thefreedictionary.com, lip service itu termasuk noun (kata benda) dengan arti: verbal expression of agreement or allegiance, unsupported by real conviction or action, atau kalau ditranslate bebas ke Bahasa Indonesia menjadi: keramahan di mulut saja alias NATO; No Action Talk Only

Awalnya, saya diperkenalkan dengan istilah lip service ini oleh bapak saya ketika memberikan wejangan bahwa menurutnya saya ini masih terlalu naif dan dungu dengan keadaan dunia luar yang katanya kejam. Bisa dibilang saya itu orang yang mudah percaya dengan bibir orang lain tanpa menyaring, apakah orang ini bisa dipercaya atau tidak. Padahal jika saya cukup pintar harusnya omongan orang itu dikaji terlebih dahulu baru diterima. Nyatanya saya ini kok ya... bebal otak ber-IQ jongkok sehingga apa yang saya lihat dan dengar, ya saya terima apa adanya tanpa pertahanan.

Baca Hati

Beberapa waktu lalu saya membuat janji dengan teman lama untuk bertemu dan melepas kangen, setelah satu tahun tidak bersua. Waktu sudah ditentukan dan cocok, tempat sudah dipesan. Harusnya beres dong, tidak ada halangan, tinggal bertemu, duduk santai dan ngegosip. Simple dan mudah. Namun sayang, saya ini tidak terlalu memperhatikan apakah teman lama saya ini mempunyai hati yang tulus dan niat yang sama dengan saya untuk saling temu kangen. Kenyataannya didalam hatinya, keinginan kami untuk bertemu itu timpang sebelah.

Di hari H kita bertemu, tiba-tiba saja dia pergi ada janji lain dan mengundur jam pertemuan jadi agak malam, lalu ternyata dia pun memberikan alasan lain bahwa pagi harinya dia sudah ada janji dengan orang lain. Intinya pertemuan kami gagal dan saya jadi sadar mungkin sebenarnya dari jauh hari kita sudah tidak 'klik' lagi. 

Kenapa juga yah saya sebagai teman lama kurang peka dengan perubahan dan gerak gerik teman lama ini? Toh satu tahun kami nyaris bisa dihitung jari saat-saat kami chatting dan ngobrol. Pada akhirnya saya baru tersadar bahwa terkadang ada beberapa hal yang orang lain tidak bisa ungkapkan dengan verbal. Ternyata tak peduli seberapa pun kita mengenal orang tersebut, kita tidak akan pernah tahu apa yang sebenarnya dia pikirkan dan rasakan.

Seperti sebuah pepatah: Dalamnya lautan bisa diukur, tapi dalamnya hati manusia siapa yang tahu. Ternyata banyak orang, termasuk saya, melakukan sikap ini, perbuatan dan kata hati yang beda jauh. Bisa jadi wajah tersenyum namun hati menaruh yang tidak-tidak.

Mari menolak

Manusia mana sih yang sanggup menerima penolakan dengan lapang dada dan langsung ikhlas? Pasti saja kita harus dihadapkan dengan perasaan sedih, tidak siap dan mungkin kalau lebay gaungnya bisa berhari-hari. Maka itu, ada beberapa orang yang tidak tega untuk menolak orang lain dan akhirnya lip service alias manis dimulut  pun dilancarkan. 

Kenapa juga yah kita harus tidak enakkan menolak sesuatu yang tidak kita suka atau tidak sanggup untuk kita lakukan? Untuk apa membebani hati yang sudah enggan? Hingga akhirnya kita terpaksa tidak jujur pada diri sendiri, mending  kalau kita melakukannya, lha kalau malah hanya lip service, bermanis-manis di mulut namun ngomong ora tekan ati, tidak tulus. Apa berkatnya, apa untungnya?

Apa susahnya menolak sesuatu yang tidak kita sukai dan tidak sanggup untuk dikerjakan? Toh kita punya mulut untuk berbicara tentang hati dan pikiran kita, mengapa tidak digunakan sesuai fungsinya? Apabila takut dicap orang lain sebagai orang yang tidak sopan dan frontal, toh pada akhirnya orang lain akan melabeli diri kita ini dengan penilaian mereka sendiri. Hari gini masih dengerin kata orang, apa gak capek tuh? 

Padahal mungkin orang yang menjadi target penolakan kita itu tidak keberatan apabila kita beri tahu dari awal akan pemikiran dan alasan kita sendiri. Sehingga dua belah pihak sama-sama enak, komunikasi lancar tanpa ada modus ini itu. 

Apabila kita terus menerus melakukan praktik lip service ini, tidak ada bedanya dong kita dengan koruptor penebar janji manis palsu. Mungkin kalau  sinetron Hidayah masih ada, niscaya pasti kalau mati mayatnya nanti digerogoti belatung, bibirnya dower lalu arwahnya dimasukan ke neraka yang penuh kretak gigi. Amit-amit yee bo! 

Maka itu pada malam harinya saya jadi mikir, jangan-jangan sebenarnya saya ini juga sering melakukan praktik lip service itu, berkoar sana sini sampai mulut berbusa, meracau tak jelas persis wong edan. Masalah klasik yah? 

13.8.12

Antri dong!


“Antrilah di loket untuk beli tiket siapkan dompet, awas ada copet, antrilah semua … biar disiplin. Meski pala pusing, betis varises…antri dong ah!” (Project P- Antri Dong)

Masih segar diingatan saya akan sebuah lagu nyeleneh dari Project P ini.  Maklum untuk anak angkatan 90’an seperti saya ini pastilah familiar dengan lagu-lagu yang kocak dan aneh ini. Apa sebenarnya korelasi lagu ini dengan tulisan saya kali ini? Mengenai budaya antri kita yang sepertinya harus dikaji ulang dan mulai digalakkan lagi.

Sebenarnya budaya antri itu sebuah budaya tua dan sudah diajarkan sedari kecil. Coba silahkan dibuka lagi buku PPKN zaman SD pasti ada. Budaya antri itu bagaikan budaya yang ‘tau sama tau’ dalam artian elu tau dan gue tau, budaya dasar yang merupakan anak pinak dari bentuk disiplin. 

Peristiwa 1

Kejadian yang menurut saya lucu adalah ketika saya pergi retret pribadi. Kebetulan karena sudah tiga tahun lamanya saya tidak ikut kegiatan yang sifatnya rohani, akhirnya saya didaftarkan secara paksa oleh ibu saya untuk ikut retret pribadi dengan peserta sekitar 400 orang. Sejujurnya saya sih malas ikut retret ini karena saya sendirian dan tidak kenal siapa-siapa. Saat keberangkatan pun saya sudah bisa bayangkan bahwa untuk empat hari tiga malam kedepan saya pasti akan garing luntang luntung sendirian. Namun berkat kemampuan adaptasi yang cepat karena dikarbit oleh keadaan terpaksa, akhirnya saya pun berkenalan dengan berbagai macam orang di sana, senang sih dapat kenalan baru yang umurnya jauh lebih tua dari pada saya.

Secara keseluruhan acara retret ini sangat menarik dan menambah pengetahuan mengenai relasi saya dengan Tuhan dan mengenai adanya karunia bahasa roh. Saya juga menjadi tersadar bahwa ternyata umat Katolik itu banyak sekali, ada perasaan senang bisa bertemu dengan saudara seiman dan berkumpul bersama-sama untuk bisa mengenal dan memuji Tuhan.

Mungkin karena begitu banyaknya manusia yang ikut dalam retret ini sehingga  terkadang kami terpaksa harus berebut untuk mendapatkan fasilitas yang kami mau. Tidaklah usah jauh-jauh mari kita lihat saat waktu makan dan snack. Banyak orang berdesak-desakkan lupa dengan kepentingan dan hak orang lain yang juga mempunyai perut yang sama-sama lapar. Saya sebenarnya agak heran saja gitu sepertinya kita bisa dibilang beruntung untuk bisa makan tiga kali atau lebih di rumah dengan kenyang dan enak, kenapa juga di tempat retret ini semua orang nampak bar-bar sikut sana sini, serobot sana sini. Itu yang tidak saya mengerti. Logikanya, kalau kita sudah bayar untuk menjadi peserta di retret ini pastinya pengurus tempat retret ini juga sudah bisa memperkirakan seberapa besar jumlah konsumsi yang harus dia siapkan untuk peserta retret. Kenapa juga harus bersikap seperti tidak pernah bertemu nasi selama ratusan hari? Toh dibawah ada kantin dan tukang jualan lainnya. Tapi yaa…harus bayar lagi lah hehe.

Kalau saya kaji lagi, sebenarnya tujuan kita datang ke retret ini untuk bertapa, menjauh dari segala yang enak-enak yang biasa kita dapatkan di rumah secara mudah. Kapan lagi coba kita berdoa dingin-dingin dengan perut yang agak kelaparan ingin makan nasi goring tektek yang lewat depan rumah? Tuhan Yesus saja puasa 40 hari lamanya sampai digoda setan tidak terpengaruh kenapa kita tidak bisa menunggu beberapa saat dengan sabar untuk antri tanpa perlu nyerobot sih? Mungkin  inilah contoh kecil bahwa  keinginan daging itu lebih besar dari pada roh.  Ternyata kita harus lebih banyak belajar untuk bisa sabar dan tidak melulu harus saya dan saya.

Peristiwa 2

Masih pada acara yang sama,retret pribadi, tibalah di hari ketiga yakni pengakuan dosa . Mengaku atas dosa-dosa kita terkadang memang mendebarkan. Pintu ruang pengampunan dosa itu dekat mungkin barang hanya 15 langkah dari tempat duduk saya. Namun rasanya dibutuhkan waktu berjam-jam lamanya untuk menuju ke sana. Menunggu giliran untuk mengaku dosa selalu membuat saya agak gelisah. Rasanya jutaan setan sedang berkata-kata ditelinga saya untuk menyerah di antrian panjang ini dan pergi ke ruang makan untuk makan siang. Masih ada 18 orang lagi sebelum akhirnya jatuh ke giliran saya. Rasanya saya sudah tidak sabar dan ingin membeberkan dosa-dosa saya selama enam bulan lalu. Kenapa juga yah menunggu dan duduk diam manis sambil senyum-senyum bukanlah keahlian saya, kenapa juga yah saya ini terlalu hyperactive dan tidak tahan pada sesuatu yang statis, ditambah  sifat dari lahir yang sangat mudah bosan.

Sampai akhirnya saya pun sibuk sendiri memperhatikan orang sekitar saya yang ternyata sama saja dengan saya ‘berpantat panas saat menunggu’ antrian. Bapak ibu disamping saya sedang membicarakan seberapa lama lagi antrian ini akan usai, nampaknya kesamaan nasib dan seperjuangan dapat membuat beberapa orang asing jadi berkenalan dan asyik berbicara satu sama lain. Kali ini sesuai dengan kemampuan kuping saya yang extra sensitive pada gossip, saya mencuri dengar pembicaraan bapak ibu tersebut. Sebenarnya saya agak-agak sedeng juga yah, wong sedang mengantri mengaku dosa bukannya refleksi pribadi tentang dosa-dosa saya, malah sibuk nguping pembicaraan orang lain, lalu ditulis lagi di buku jurnal harian saya, ini siapa yang lebih bejat coba?

Seorang ibu yang sedang duduk tepat dibelakangku berkata:
‘Haduh Ibu Rambut Pendek ini lama sekali yah ngaku dosanya. Dititipin dosa kali yah sama tetangganya! Hihihihi…’ lalu mereka pun tertawa berderai-derai.

 Mengantri itu bukanlah suatu hal yang mudah pun sebenarnya itu sangat simpel. Mengantri suatu giliran ketika semua orang mempunyai kesempatan yang sama, dengan hak yang sama juga nampaknya adalah sesuatu yang wah di zaman sekarang. Tanpa harus mengeluh dan bawel sana sini.  

Jangan hilang harapan

Saya juga pernah membaca sebuah kutipan menarik di sebuah buku: Bersemangatlah ketika menunggu. Bagaimana caranya kita bersemangat saat menunggu? Untuk tetap berdiri menunggu di suatu antrian yang panjang memang sebuah cobaan lahir dan batin. Apalagi kalau kita itu mengantri demi mendapatkan karcis yang jumlahnya terbatas. Kepastian untuk mendapatkan hasil yang kita antri dan tunggu itu belum tentu kita dapatkan. Bagaimana caranya kita untuk bisa bersabar, menarik usus kita untuk lebih panjang lagi.

Sejujurnya saya pun belum sampai ke tahap: Bersemangat ketika menunggu. Saya masih seseorang yang egois dan sering kali jengkel lalu misuh-misuh saat antrian saya diserobot orang. Ya dong…rasanya pengen saya getok kepalanya, saya colok matanya. Wetss…kasar!

Nah, orang-orang yang mempunyai kegemaran nyerobot sana sini dan sikut sana sini, inilah yang seringkali hilang harapan. Cara berpikir mereka adalah: ‘Kalo seandainya gue gak nyerobot udah pasti gak kebagian! Mana antrian panjang, panas pula, mana orang depan gue bau ketek pula!’ Kalau sendainya semua manusia punya pemikiran seperti ini benar-benar bencana karena ketika seseorang kehilangan harapan maka bisa jadi dia berhenti dan mundur atau dia mencari alternative lain yang biasanya ya gitu deh.  

Sering kali saya yang kepalang pasrah dengan keadaan berpikir kenapa juga sih harus grusak-grusuk sana-sini takut tidak dapat jatah, toh kalo memang sudah rezeki tidak ke mana. Ya kan?


Merekam Percakapan Sebuah Kota

Bergulat dengan hidup barangkali salah satunya adalah dengan menolak untuk terus menerus tidur-tiduran ayam di tempat tidur saat se...