17.1.12

Pesta Demokrasi di Taiwan



Selamat datang liburan winter :)) Semester 5 sudah lewat dengan berbagai kesan dan pelajaran baru. Jatuh bangun sudah biasa dan tak perlu dikatakan lagi. Sudah menjadi bagian dalam hidup. Di liburan winter ini adalah waktu untuk 'memberuangkan diri sendiri' hibernasi hingga siang dan melakukan kegiatan menyenangkan yang tidak bisa dilakukan saat hari-hari produktif sekolah.

Pagi ini aku bangun siang lalu mulai melanjutkan kegiatan 'aktif' dengan laptop. Lagu untuk pagi mendung ini adalah Frank Sinatra- I've got you under my skin. Di kota tempat tinggalku di Taiwan, Kaohsiung, musim winter tidak terlalu dingin hanya sekitar 22 derajat-13 derajat itupun kalau malam. Masih bisa pakai tank top dan celana pendek dengan lutut kedinginan.

Mungkin kalian juga tahu selentingan berita pemilihan presiden di Taiwan. Jadi di Taiwan itu mengadakan pemilihan presiden setiap 4 tahun sekali. Kali ini kandidatnya adalah presiden lama, Ma Ying Jiu, (馬英九) berasal dari Partai Kuomintang atau Chinese Nasionalist Party (biru) , Tsai Ying Wen ( 蔡英文) berasal dari Democratic Progressive Party (hijau) dan terakhir adalah James Soong Chu Yu berasal dari partai biru juga. Dari ketiga kandidat ini keluarlah Ma Ying Jiu (presiden lama) dan Tsai Ying Wen yang menjadi jagoan. 

Ma Ying Jiu yang berasal dari partai biru, beliau menggunakan kebijakan bersahabat 'jalinan kasih' dengan China dan menggunkan jalur rundingan untuk bidang ekonomi, perdagangan dan bisnis dengan China. Sedangkan Tsai Ying Wen, apabila beliau naik jadi presiden makan beliau adalah presiden perempuan pertama di Taiwan. Bisa dibilang beliau mempunyai pandangan yang berbeda dengan Ma Ying Jiu. Tsai Ying Wen membuka prespektif baru mengenai hubungan Taiwan dan China. Beliau melihat bahwa Taiwan harus mandiri dari berbagai segi dengan China sehingga Taiwan bisa lepas dari China dan mendapatkan kedaulatan negaranya sendiri tidak hanya menjadi parasit dari China.

Bisa dibayangkan kalau ini merupakan pemilihan presiden yang benar-benar menentukan sebuah nasib bangsa. Dilihat dar visi misi mereka saja sudah berbeda bahkan bertolak belakang. Benar-benar masa depan Taiwan dipertaruhkan dengan pemilihan presiden ini. 

Rakyat jelata

Teman Taiwan saya adalah pendukung Tsai Ying Wen karena menurutnya Ma Ying Jiu terlalu memanjakan China dengan birokrasi bersahabat yang berbelit-belit dan sering kali menyudutkan Taiwan. Bahkan menurutnya Taiwan sudah bagaikan dijajah China karena begitu banyak warga China yang datang ke Taiwan untuk bekerja dan sekolah.

Dia merasa tidak puas dengan kebijakan Presiden Ma di tahun-tahun belakangan ini karena menjalin hubungan kerja sama baik ekonomi, politik dan pendidikan dengan China. Banyak sekali pelajar dari China yang datang ke Taiwan untuk belajar, menurut Presiden Ma ini dilakukan mengingat pelajar China terkenal dengan sikap rajin dan pintar dalam pelajaran, jadi Presiden Ma berharap agar pelajar Taiwan bisa bersaing ketat dengan Pelajar China sehingga dalam bidang pendidikan pun mendapatkan stimulasi yang menguntungkan untuk Taiwan.

Terdapat perbedaan yang signfikan di masyarakat Taiwan saat mereka memilih presiden untuk negara mereka. Mereka begitu bersemangat untuk memilih presiden. Itulah satu kesan yang bisa kubaca. Sampai-sampai menjadi sebuah pembicaraan hot di kelas siapa menjagokan siapa. Kebetulan di kotaku, Kaohsiung, mereka memilih Tsai Ying Wen, kebetulan pendukung Tsai Ying Wen berada di bagian selatan dan pendukung Ma Ying Jiu berada di daerah utara. Sempat terdengar kabar burung bahwa saat-saat pemilihan ini akan menjadi hari-hari yang agak menakutkan di Taiwan. 

Pandangan Anak Imigran 

Sebagai anak imigran di Taiwan, aku cukup terkejut dengan fakta pemilihan presiden di Taiwan ini. Aku merasa terdapat perbedaan yang cukup jelas terpampang pemilihan presiden di Taiwan dan di Indonesia. Di Indonesia jujur aku tidaklah terlalu antusias untuk memilih presiden. Memilih yaaa...memang karena sudah dapat kartu coblos, kalau tidak dapat ya sudah ya tidak ada ruginya juga. Sedangkan di sini 200.000 orang Taiwan yang berada di luar negeri bela-belain pulang ke Taiwan, ke kampung halaman mereka untuk memilih presiden mereka. Dan aku mendengar kabar ini di berita hanya bisa 'nganga sampe bego'. Ada lagi berita di teve, ada seorang kakek berumur 80 tahun, berjalan menuju ke tempat pemilihan presiden dan karena badannya sudah tua renta, beliau tidak sengaja terjatuh dan terluka. Aduuuhh... please deh! Melihat berita seperti ini terkadang membuat aku tertampar pipi kiri dan kanan. Si kakek tua ini yang bisa dibilang sudah 'bau tanah' beliau masih peduli dengan kelangsungan negarnya, dengan masa depan negaranya! Gilaaaa bener hah! 

Betapa mereka begitu antusias dengan pemilihan presiden ini. Mereka seolah benar-benar mempunyai harapan yang nyata pada masa depan negaranya. Mereka berharap presiden baru mereka bisa membawa Taiwan ke 4 tahun ke depan yang lebih baik lagi, mereka berpartisipasi secara nyata dengan tujuan mulia. Generasi tua dan muda bersama-sama terlibat aktif dalam pemilihan. 

Aku terkadang jadi sedikit merasa malu dengan diriku sendiri yang sering merasa pesimis dengan masa depan Indonesia. Aku malu pada orang Taiwan, suatu bangsa yang meski kecil namun mereka berjuang dan peduli dengan kemajuan bangsanya. Aku malu karena aku muda dan belum bisa berbuat apa-apa untuk negaraku. Bahkan terkadang  sempat aku merasa rendah diri karena aku adalah orang Indonesia, karena negaraku Indonesia, negara yang kaya raya namun dikelola oleh orang-orang yang salah. Terkadang aku malu, menjelaskan pada mereka bahwa di Indonesia korupsi bukanlah hal yang aneh di badan pemerintahan, bahwa rakyat Indonesia sudah tidak percaya pada pemerintahnya sendiri. Bahwa kita kehilangan harapan dan kepedulian pada Indonesia. 

Cinta dan benci 

Seperti kata sebuah pepatah: cinta dan cinta itu beda tipis. Mungkin itu yang bisa aku gambarkan rasaku untuk Indonesia. Aku cinta Indonesia. Sangat. Tapi di lain sisi aku juga benci. Benci dengan 'orang-orangnya' yang kadang menurutku sudah kehilangan pegangan moral dan berpikiran sempit. Meributkan hal-hal yang tidak penting, itu-itu saja. Haduh...ini malah sibuk meributkan pemugaran gedung yang sama sekali tidak rusak, bocor atau hampir rubuh. Pleaseee...deh bapak-bapak, ibu-ibu itu coba yah dilihat masih banyak orang yang tinggal di bawah kolong jembatan, rumah reyot di pinggir kereta. Itu coba dananya disalurkan ke pendidikan atau ke mana deh yang bisa menyejahterakan bangsa kita ini. 

Aku iri dengan orang Taiwan yang bisa sebegitu optimis dengan kelanjutan bangsa dan mendukung pemerintahannya. Semua kandidat benar-benar meyakinkan dan dipercaya oleh rakyatnya. Apa lagi sih yang lebih berharga untuk seorang pemimpin selain dipercayai 100% oleh rakyatnya? Betapa kharisma dan karakter mereka 'menyedot' rakyat untuk terus mendukung mereka tanpa ragu. Aku juga ingin rasanya mempunyai pemimpin bangsa yang benar-benar bisa membawa kita, Indonesia ke stage yang lebih baik lagi. 

Aku merasa Indonesia, si bangsa besar, harus belajar banyak dari Taiwan yang bahkan wilayah kekuasaannya pun tidak sebesar Pulau Jawa, mereka yang masih harus berjuang melepaskan diri dari China dan mendapatkan pengakuan atas eksistensinya di depan mata dunia. Keantusiasan kita pada negara kita dan tanggung jawab para 'orang-orang besar di atas' agar bisa membawa Indonesia  ke masa yang stabil dan lebih baik lagi. 

Celetuk teman Indonesiaku yang sepertinya sudah terlanjur pesimis  dengan Indonesia: '' Mending  gue tinggal di luar ajalah. Cari penghidupan yang lebih baik. Kalo gue balik ke Indo dengan niat membangun bangsa...haduh..mereka yang 'di atas' aja geje padahal ada wewenang, gimana gue yang rakyat jelata, mau membangun Indonesia seorang diri. Matik aja gue!'' 


Malam ini aku sedang berpikir, jangan-jangan memang aku saja yah yang 'anget-anget taik ayam' sok nasionalisme, cinta Indonesia, tanpa melakukan tindakan yang sekiranya lebih dinilai aktif. Malu aku pada diriku sendiri. Hey,..aku orang muda Indonesia yang siap sedia berdiri buat Indonesia.  Tapi yang pasti malam ini aku kepanasan, ditengah udara dingin 19 derajat celcius di Taiwan.

Kalau kamu? 

6.1.12

Perempuan dan Pendidikan

            Membangun sebuah negara makmur dan berbudi baik haruslah dimulai dari pendidikan. Pendidikan merupakan sebuah manifesto yang berkualitas tinggi dan sifatnya kekal. Tidak bisa dicuri dan hilang. Dengan adanya manusia yang berpendidikan maka mampulah sebuah bangsa menjadi bangsa yang beradab. 
             Sejak dini diharapkan manusia sudah dididik dengan nilai-nilai luhur. Pendidikan dini didapatkan anak dari keluarga, terutama ibu. Mengapa ibu? Karena tidak bisa dipungkiri bahwa ibu mengambil peranan penting dalam pengasuhan anak sehingga seorang anak bisa tumbuh menjadi pribadi yang baik.  Betapa menjadi seorang ibu harus mengemban sebuah misi yang mulia yakni masa depan dirinya dan anaknya dipertaruhkan. Hingga akhirnya kehidupan seorang ibu menjadi sesuatu yang mikro sekaligus makro. Mikro karena keseharian ‘hanya’ berkutat dengan anaknya dengan pekerjaan dan urusan yang itu-itu lagi dan makro karena ada sebuah tujuan mulia dibalik dari urusan kecil yang itu-itu saja yakni mendidik anaknya untuk menjadi manusia yang berbudi baik dan berakhlak.
            Ketika sebuah dunia besar berada di pundak ibu, pentingnya sebuah peranan perempuan dalam mempersiapkan generasi baru bangsa Indonesia, sudah seharusnyalah perempuan mendapatkan pendidikan yang baik dan berkualitas. 

Diskriminasi pendidikan

              Dahulu, melalui budaya patriarkal, perempuan menjadi sebuah objek hiburan dan sebuah ‘barang’ kepemilikan.  Seperti misalnya dalam cerita Mahabaratha ketika Yudistira kalah besar-besaran bermain dadu dengan Duryodhana. Segala kerajaan, harta dan abdi sudah hilang termakan taruhan. Hingga akhirnya istrinya,  Drupadi pun ikut dijadikan taruhan, padahal Drupadi adalah perempuan terhormat dan istri teladan yang lahir dari Dewa Api. Yudistira kalah bermain dadu dengan Para Kurawa dan menyerahkan Drupadi sebagai barang taruhan. Dari cerita singkat ini terasa betapa kerasnya pengaruh laki-laki atas hak-hak perempuan. Seolah perempuan tidak mempunyai hak atas hidup dan tubuhnya. 
Namun seiring dengan berkembangnya zaman di kota-kota besar, perempuan mampu mempunyai kesempatan lebar untuk berkembang dan bereksplorasi. Dapat dilihat dari banyaknya perempuan yang mulai berkarya mengaktualisasi dirinya. Ketika perempuan dapat mencecap pendidikan dengan mudah karena adanya fasilitas, kembali muncul masalah kursial lainnya dalam pendidikan yakni skala prioritas yang diterapkan untuk kaum marginal. Hingga akhirnya menurut nilai budaya patriarkal, prioritas pendidikan  ini akan diberikan lagi untuk anak laki-laki di keluarga tersebut.  
             Betapa ternyata bagi perempuan pendidikan masih merupakan barang mewah dan langka, sesuatu yang ‘mahal’ untuk bisa dinikmati. Masih kuatnya anggapan bahwa perempuan harus beraktivitas sekitar dapur, bermain dengan panci, penggorengan dan sapu; menjadi sebuah alasan utama perempuan tidak diprioritaskan untuk mencecap pendidikan. Kecenderungan ini masih bisa kita lihat dalam masyarakat, ketika anak perempuan mereka sudah akil baliq akan cepat-cepat dijodohkan lalu menikah meskipun usia mereka masih belasan tahun. Padahal menurut ilmu kesehatan, pada umur belasan rahim perempuan belum cukup kuat untuk mengandung hingga akhirnya banyak sekali peningkatan angka keguguran dan kematian saat melahirkan. Di lain kondisi terdapat pula kasus perempuan yang ‘terpaksa’ dijadikan tulang punggung keluarga karena himpitan ekonomi dan biasanya pada kasus ini berkaitan erat dengan trafficking.
              Fenomena pilu ternyata masih ada di zaman kini dan menjadi sesuatu yang ironis ketika banyak perempuan lain yang bisa mendapatkan fasilitas yang memadai plus pendidikan yang layak untuk masa depan.  Namun, di lain sisi masih banyak perempuan yang tidak dapat mencecap pendidikan yang layak.


Kartini masa kini

             Sosok yang paling dikenal berkat festival kostum di setiap tahunnya baik di kalangan orang dewasa maupun  anak-anak adalah Ibu Kartini.  Kartini merupakan pejuang emansipasi wanita yang suaranya sangat kencang digaungkan hingga sekarang. Ide-ide beliau yang cemerlang untuk  membebaskan belenggu kebodohan perempuan di masa itu dengan tujuan jangka panjang yaitu pembebasan perempuan dari ketidakadilan menjadi sesuatu titik tolak untuk perubahan kaum perempuan. Kartini mampu membuka sebuah pintu pemikiran akan pentingnya pendidikan bagi perempuan.
            Akan sangat disayangkan apabila di masa yang modern dan serba ada ini, masih saja ada banyak perempuan yang buta aksara dan minim pengetahuan. Padahal jelas-jelas pendidikan adalah milik semua. Catatan  yang paling penting adalah pendidikan tidak hanya pendidikan formal di bangku sekolah saja, melainkan juga  pendidikan informal yang tak kalah pentingnya. Alasannya karena dalam pendidikan informal ini diajarkan keterampilan dan pengetahuan yang relevansinya lebih dekat dengan kehidupan sehari-hari. 
               Konsep Kartini untuk mencerdaskan perempuan Indonesia merupakan langkah awal untuk mendidik generasi mendatang yang cerdas dan berbudi baik. Pendidikan merupakan hal dasar yang harus dimiliki oleh perempuan sebagai bekal menjadi guru pertama dan utama bagi anak-anaknya, calon penerus bangsa. Oleh karena itu perempuan harus dibekali pendidikan sedini mungkin untuk melaksanakn perannya dalam keluarga dan masyarakat. 

Tahun perempuan

             Banyak orang berpendapat bahwa tahun-tahun belakang ini akan menjadi tahun perempuan. Perempuan mulai bangkit,meneriakan hak-haknya dan mulai berkarya. Hingga sudah seharusnya pemerintah membuat agenda utama sebuah pemberdayaan perempuan dengan berbagai penyuluhan dan pelatihan yang sifatnya menambah pengetahuan dan keterampilan.
             Hal yang tidak boleh diabaikan adalah perempuan berhak atas tubuhnya dan kesehatannya. Perempuan berhak tahu segala sesuatu berkenaan dengan kesehatan tubuhnya. Pengetahuan dasar tentang kesehatan perempuan adalah mengenai organ reproduksinya. Hak perempuan untuk memeriksakan kesehatannya sendiri tanpa harus ada persetujuan wali atau suami. 
          Dengan perempuan yang berpendidikan, negri ini akan mempunyai perempuan yang cerdas dan sehat, hingga pasti akan melahirkan anak-anak yang cerdas dan sehat pula. Perempuan berpendidikan akan sadar betul pentingnya imunisasi, vitamin,  dan makanan bergizi untuk anak dan keluarganya.  Dengan begitu generasi mendatang kita bisa menjadi generasi unggulan untuk Indonesia yang lebih baik lagi. 
    Ada sebuah kutipan yang cukup menyentuh dari Queen Renia: “Ketika kamu mendidik perempuan, kamu mendidik keluarga, ketika kamu mendidik gadis kecil, kamu mendidik masa depan.” Sebagaimana kutipan tersebut akan pentingnya pendidikan untuk perempuan demi melahirkan calon-calon penerus bangsa Indonesia yang berbudi dan cerdas. 
    
Peran masyarakat

            Tidak hanya pemerintah yang mempunyai peran untuk memperhatikan nasib perempuan, masyarakat pun sama memiliki kewajiban untuk memperhatikan ini. Kita tak bisa hanya mengandalkan pemerintah, apa lagi ketika kita tahu seperti apa pemerintah Indonesia sekarang. Kalau kita hanya mengandalkan pemerintah, kita kuatir nasib perempuan dan masa depan bangsa ini akan semakin terpuruk. Oleh karena itu, perlu gerak cepat dari seluruh lapisan dan kalangan masyarakat untuk menyiasati keadaan ini. 
            Seperti kita ketahui Indonesia mempunyai begitu banyak organisasi dan golongan, mulai dari yang bersifat umum sampai yang sifatnya khusus. Karena Indonesia merupakan negara yang agamais, peran para alim-ulama merupakan hal yang diperlukan dalam masalah ini. Sangat diharapkan organisasi keagamaan memberikan pelayanan yang memadai untuk mengedepankan pendidikan kaum perempuan. 
            Kita tahu sekarang ini sudah ada beberapa organisasi yang memperhatikan nasib kaum perempuan. Namun,  itu belumlah cukup untuk mengubah nasib kaum ibu di negri ini. Masih diperlukan sekian banyak tangan terlibat dan hati yang peduli untuk para perempuan ini. 
             Kita yakin kalau semua ikut peduli dan terlibat, maka kaum permepuan akan berubah. Tentunya bangsa ini pun akan terus maju dan bisa berkibar di alam semesta ini dengan penuh kebangaan dan harga diri karena nasib masa depan generasinya ada pada tangan yang tepat. Kita percaya bahwa kemenangan dan kejayaan akan menjadi milik kita bersama bila kaum hawa menjadi prioritas yang utama. 
  
JAYALAH PEREMPUAN, JAYALAH  IBU PERTIWIKU!!!


ps. Sebenarnya tulisan ini untuk lomba essai, namun belum 'nonjok' di hati para juri. Daripada basi lebih baik kutaruh di blog aja yah :) Silahkan bagi yang mau memberi kritik, saran dan masukan sangat diterima dengan tangan terbuka. 
    






Merekam Percakapan Sebuah Kota

Bergulat dengan hidup barangkali salah satunya adalah dengan menolak untuk terus menerus tidur-tiduran ayam di tempat tidur saat se...