27.11.11

Si Bajaj: Ngeles dan Ngebul

Pic: google

Bajaj, identik dengan dua kata yakni ngeles dan ngebul. Ngeles karena keahlian sopir bajaj salip kanan kiri dan ngebul karena terlalu banyak gas hitam yang mengepul dari knalpot. Orang Jakarta mana coba yang belum pernah naik bajaj? Kasian deh lo! Aku aja yang tinggal di BSD pernah naik bajaj hehe. Menurutku naik bajaj itu enak karena bergetar dan membahagiakan. Kalau bicara dalam bajaj harus super kuencengggg to the max supaya bisa mengalahkan suara dahsyat si bajaj ini. Namun lain halnya kalau kita bukan sebagai penumpang bajaj pasti kita sibuk menutup hidung dan mulut karena asap hitam yang tidak toleransi pada paru-paru sekitar. Sebel kan?!

Dalam sebuah penbicaraan lama dengan seseorang, kami mengambil sebuah perumpamaan asal-asalan bahwa ada beberapa tipe manusia yang bisa kita sebut dengan si Bajaj. Dari karakteristik yang aku sebutkan di atas bisalah yah kira-kara mengerti apa yang aku maksudkan. 

Entah kita bertemu spesies Si Bajaj ini di sekolah, rumah, kantor, kuliah, atau mungkin sebenarnya kita sendiri adalah Si Bajaj itu. Si Bajaj ini tidak bisa disalahkan kalo memang sudah dari sananya bebal dan toak. Sudah dari sananya tidak punya filter asap knalpot sehingga yang keluar malah sesuatu yang membahayakan kehidupan sekitarnya dan membuat polusi. Ohhh...Si Bajaj juga tidak bisa disalahkan sepenuhnya toh dari sananya sudah begitu 'keluarannya'. Semua orang harus tahu diri dan memahami bahwa Si Bajaj ini memang hobi salip sana salip sini, berkelit dan ngeles sana sini. Jadi pilihan kita ada dua yakni entah menghindar jangan dekat-dekat Si Bajaj ataukah kita menjadi penumpang Si Bajaj jadi setidaknya bisa ikut gembira bergetar dengan alunan melodi tretetetetet.

Si Bajaj ini bukan makhluk langka atau unlimited edition seperti Mercedes Benz. Ah lain kualitasnya! Tidak usah dibicarakan lah Si Benz ini. 

Bagaimana coba caranya agar kita bisa menjauh dari Si Bajaj ini? Mungkin pada akhirnya kita yang waras ngalah dan senyum-senyum saja dari jauh. Terkadang memang kita tidak perlu berkata-kata dengan tipe yang semacam ini. Kalau kata Aga, anggap saja dia semacam bisul di pantat. Sakit sih tapi besok juga mateng dan meledak. Satu lagi. Setidaknya kita harus menarik usus kita lebih panjang lagi dan melebarkan pantat kita untuk tipe-tipe Si Bajaj ini. SABAR! 

No comments:

Post a Comment