Susahnya Jadi Lelaki

Sudah memasuki semester 5 dan sudah seminggu belajar dan bekerja dengan sepenuh hati. Tapi untuk yang post  kali ini aku sedang tidak ingin membahas mengenai sekolah. Basilah, jek! Biasa... sebuah permulaan di bulan September yang pastinya harus kita lalui dengan awalan yang berat namun menantang. Kali ini aku sedang ingin membahas mengenai laki-laki. Ketika kulihat begitu banyak post atau ungkapan kekesalan terhadap laki-laki karena kemungkinan ulah mereka yang kadang tidak kita mengerti. Ya...karena memang berbeda dari segi sudut pandang mereka dan kita perempuan.

 Hari ini aku  ke Katedral dan aku menemukan begitu banyak hal 'janggal'. Menurut pendapatku setelah 2 tahun hidup di Taiwan,  laki-laki Taiwan itu kurang gentle. Terkadang sesuatu hal kecil yang bisa kita  nikmati di Indonesia, di sini merupakan sesuatu hal yang langka. Dari hal-hal yang sifatnya basic seperti Ladies First atau mengalah di bis kota, membuka pintu, menolong membawakan barang dan hal-hal dasar lainnya hanya bisa dihitung dengan jari.

Misal hal yang dasar di bus kota. Ketika ada beberapa pemuda duduk di bis kota, lalu naiklah  seorang ibu atau oma yang hendak duduk namun ternyata pemuda ini tidak 'lihat' bahwa di situ ada seorang ibu atau oma. Lalu suatu waktu ketika hendak membuka pintu sebuah restauran saat itu ada seorang pemudi yang diserobot oleh seorang pemuda yang nampak sedang terburu-buru, kelaperan kali :S

Oke. Mungkin akan ada beberapa orang berpendapat bahwa aku adalah cewek manja yang terlalu memperhatikan hal-hal kecil seperti itu. Tapi memang aku suka memperhatikan tingkah laku orang lain sekitarku dan reaksi mereka pada sebuah situasi. Semenjak aku di Taiwan aku jadi mulai terbiasa untuk tidak berharap lebih akan sebuah tindakan yang spesial seperti 'Ladies First'. Hingga akhirnya kemarin saat aku pulang ke Indonesia, aku jadi agak sedikit kaget mendapatkan sebuah perlakuan simple yang gentle. Culture shock lagi kali aku. 

Setelah kupikir-pikir susah juga yah jadi laki-laki. Coba deh dipikir! Ketika sedang kelaparan dan mau cepat saja untuk makan namun harus mengalah terlebih dahulu karena ada seorang perempuan yang mau masuk. Lalu misalnya saat di bis kota dan sedang tidak enak badan atau sedang capek harus merelakan bangkunya untuk seorang ibu-ibu. Dan terkadang kita menjatuhkan segala 'tanggung jawab sosial' itu terhadap laki-laki yang sebenarnya mereka pun punya pilihan yang sama asal tidak merugikan orang lain. Lalu kita sebagai perempuan langsung menghakimi mereka karena mereka tidak melakukan hal-hal yang sifatnya adalah kebiasaan dengan berkata bahwa mereka tidak gentle. 

Sebenarnya kala dipikir-pikir, gentle ini sendiri tidaklah menyangkut jenis kelamin. Namun sudah menjadi sebuah kebiasaan yang mendarah daging untuk peduli pada sesama dan yang lebih 'tua' misalnya. Anggap saja kalau kita melakukan suatu hal yang sifatnya mengalah, gentle, pada orang lain sebagai perbuatan baik dan doa kita agar ada seseorang juga di luar sana yang mau menolong dan membantu orang yang kita sayangi di situasi yang sama. Misalnya nenek atau ibu kita yang ingin duduk di bis kota, kerepotan membawa barang dan lainnya. Nggak ada salahnya dong, kita sebagai seorang perempuan untuk bisa menjadi 'gentle' ketika mungkin lelaki di sekitar kita sudah mulai lupa untuk bersikap 'gentle'. Gentle itu universal. 

Tapi tetap sih... aku pribadi suka dengan laki-laki gentle hahahaha :))) 

Comments

Popular Posts