Mantu Idaman Ibu

Aku udah kembali lagi ke Taiwan aaaaaaaaaaaaaaaaa!! Liburan tiga bulanku berakhir sudah dan aku harus memulai lagi sebuah tahun yang baru di semester ke 5 ini. Marilah kita memulainnya dengan semangat yang baru seperti lagunya Sm*sh kalo aku ga salah denger: Cucian lu gue cuci dengan senyuman berprestasi. Nahhhh.... patut aku coba itu haha SENYUMAN BERPRESTASI. Ya ya ya.....

Aduh memang yah yang namanya kembali ke rumah merupakan sebuah obat kangen yang dinanti-nanti. Aku senang di Indonesia bisa bertemu dengan keluarga dan teman-teman. Terus Abhimanyu lucu banget, rambutnya ada jambul dikit kayak Choky Sitohang versi anak balita. Manis deh! 

Ngomong-ngomong Choky Sitohang, ibuku suka tuh sama mas yang satu ini. Rasanya pun dia sudah jadi menantu idaman ibu-ibu nusantara (tapi sekarang dia udah menikah yah kalo gak salah...). Sebelum si Choky Sitohang ini menikah wihhhh.... jadi buah bibir ibu-ibu di acara arisan. Tapi entah mengapa aku ingat sekali pembicaraan ibuku perihal mantu. Padahal aku masih 20 tahun tapi wejangan ibuku poanjaaaaang banget perihal mencari jodoh. Takut kali anaknya di Taiwan mencari pria ugal-ugalan.

'Yah, Met pokoknya Ibu mah nggak minta yang macem-macem. Ibu maunya dia seiman dan beriman. Beriman itu penting, Met! Ibu nggak mau lah yaaa punya mantu gak beriman. Ibu tidak mempermasalahkan kamu mau menikah sama orang sunda kek, jawa kek, taiwan, negro kek tapi ntong anu hideung teuing nyak (tapi jangan yang hitam sekali yah), bule. Bebas. Kalo kamu dapet bule juga Ibu mah gak apa-apa loh yang penting seiman beriman!!'

Pada intinya ibuku maunya yang seiman dan beriman. Amin, Bu. Amin. Bercita-cita mempunyai mantu bule seiman dan beriman itu nggak salah dong? Namun nyatanya mencari seseorang zaman sekarang yang seiman dan beriman itu susah. Belum tentu aku sendiri adalah tipe orang yang beriman. Ya... ampun zaman sekarang iman sudah sebuah barang langka.

Ketika segala sesuatu yang sifatnya akhlak dan berbudi mulai dikesampingkan, dilupakan. Poros hidup manusia bukan lagi pada Tuhan melainkan materi. Materi menjadi sesuatu yang 'panas'. Belum tentu bahagia, belum tentu puas tapi tetap dicari-cari. Segala hal berukuran dangan harta dan materi. Ketika suatu hal ditakar  berbeda bukan dari materi menjadi sesuatu yang aneh dan gila. Ketika seseorang ingin mengejar kebahagiaan sejati yang sederhana malah dianggap 'tidak mempunyai ambisi'. Itulah.

Mungkin selama ini kita terlalu ijo matanya. Buta. Hingga kata 'beriman' ini jarang dipasaran. Kan kalau begini bagaimana aku bisa dapat jodoh yang seiman dan beriman sesuai kriteria ibuku dong? Haha tetep! 




Comments

  1. dan di tanah rantau,nyari yg punya iman aja susah met... =.= semangaaaaat :)

    ReplyDelete
  2. hahaha bener banget deh fer aku setuju sama kamu :D kamu juga semangat yah!!

    ReplyDelete

Post a Comment

Popular Posts