Menuntut Tanggung Jawab

Sebenarnya hal ini terjadi pada hari Sabtu kemarin namun aku belom sempat menuliskannya di blog. Ada hal yang menarik buatku. Jadi sebenarnya hari Sabtu ini adalah hari Sabtu biasa. Aku bangun pagi jam setengah enam pagi lalu mandi, sarapan, nunggu embak yang pulang pergi cuci nyetrika lalu aku, Abhi dan ayahku pergi ke tukang sayur (nb: di Indonesia beuuuhh....aku masak macem-macem. Gilaaaa aku jadi hobi masak di sini!).

Itu merupakan hal yang biasa saja karena memang itu hanya aktifitas biasa pergi ke tukang sayur dan membeli bahan-bahan makan siang. Namun ternyata ini bukanlah Sabtu yang biasa karena aku menemukan hal yang menarik.

Jadi saat Abhi sedang heboh memperhatikan seekor kucing belang, pandanganku pun tertuju pada ibu-ibu berumur 30 tahun dengan baju daster dan memakai bando. Dia membawa dua kantong belanjaan yang nampaknya berat, salah satu kantong membawa telur berisi 1,5 kg dan kantong yang lain membawa sayuran dan bungkusan sayur lainnya. Tak hanya itu saja, dia juga membawa anaknya laki-laki yang menurutku baru berumur 3 tahun. 

Lalu hal yang menarik adalah saat ibu dan anak ini mau pulang dan si ibu membawa dua barang belanjaan, tiba-tiba si anak ini ngambek dan tidak mau jalan. Dia jongkok dan tampangnya sedang merajuk. Lalu si ibu berkata "Udah gak usah bawa belanjaan ini berat. Dedek jalan aja!" Namun perkataan anak ini tidaklah membuat si anak berjalan malah nangis. Lalu si Ibu berkata " Tidak usah semuanya berat. Dedek ga kuat nanti." Si Anak keukeh mau bawa belanjaan. Hingga pada akhirnya si ibu menyerah dan mencari kantong pelastik isi cabai merah untuk si anak itu bawa.Lalu tampaklah perubahan wajah dari si anak. Dia langsung menghapus air matanya dan berangkat pulang dengan membawa plastik isi cabai merah ini.

Melihat kejadian ini lalu aku pun berpikir. Betapa anak kecil meminta tanggung jawab dari orang tuanya. Menuntut tanggung jawab untuk dibebani padanya. Dia menginginkan untuk mendapatkan sebuah kepercayaan dari orang tuanya untuk mengemban sebuah tanggung jawab, padahal tanpa itu si anak bisa berjalan dengan lebih leluasa karena tidak usah membawa belanjaan.  Namun si anak ini merajuk menuntut sebuah tanggung jawab yang bisa diberikan padanya.
Gilaa yah! Bahkan kita yang katanya sih sudah dewasa suka lempar-lemparan tanggung jawab. Tidak mau memikul tanggung jawab hanya menuntut hak terus. Sampai tanpa kita sadari  kita belum menyelesaikan tanggung jawab kita sendiri. Kadang kita malah lari dari tanggung jawab atas perbuatan kita. Hidup kita ini tidak sekedar berapa tanggung jawabmu dan berapa hak yang akan kita terima. Lebih dari itu. Kadang kita hanya ingin melakukan tanggung jawab apabila ada sebuah imbalan sebagai embel-embelnya misalkan pujian,uang,ketenaran,harta,cinta,dll. Kapankah kita berani untuk memurnikan setiap tindakan kita tanpa sebuah ambisi keagungan kita sendiri?

Betapa seharusnya kita malu melihat seorang anak kecil berumur 3 tahun menuntut sebuah tanggung jawab untuk diberikan padanya. Pernahkah kita menuntut tanggung jawab untuk diberikan pada kita tanpa imbalan?



Comments

Popular Posts