12.4.11

Kiamat Hati


Hallo sudah ribuan tahun lamanya aku tidak menulis dan bergulat dengan kotak kecil putih kosong di blog. Menulis dan berusaha merangkai kata-kataku agar terorganisasi dengan baik. Akhir-akhir ini aku sedang disibukkan dengan berbagai kegiatan salah satunya yang terpenting adalah pada bulan Mei ini aku akan test Zertifikat Deutsch!! AAAAAAA...mamak! Ya sudahlah hal-hal tersebut gak terlalu penting untuk dibicarakan lebih baik dilakukan, bukan? :))
Melewati sepanjang malam merenung yang panjang aku pun bisa menyimpulkan bahwa dalam sebuah komunikasi begitu banyak faktor yang perlu diperhatikan. Salah satunya adalah faktor bahasa yang digunakan. Apabila dua pihak atau lebih menggunakan bahasa yang sama 'diharapkan' keduanya bisa saling mengerti. Mari kita menghilangkan 'faktor lemah otak atau disfungsi pendengaran' karena menurutku faktor itu terlalu mendeskriditkan individu.
Kembali lagi ke 'bahasa'. Pada awal kedatanganku ke Taiwan yang bahasa kesehariannya adalah mandarin. Aku bisa mengatakan bahwa kesamaan bahasa yang digunakan merupakan faktor utama dalam sebuah komunikasi. Namun ternyata faktor tersebut ditolak mentah-mentah lewat kejadian-kejadian yang aku lihat, dengar, rasakan, alami. Bahasa merupakan sebuah alat untuk berkomunikasi. Namun bukan sebagai faktor utama yang menunjang kelancaran suatu informasi. Ada berbagai macam bahasa yang bisa kita pakai apabila dua pihak tidak mengerti bahasa satu sama lain, kita bisa menggunakan bahasa patokan internasional atau bahasa tubuh. Setidaknya setiap manusia pasti memiliki kepandaian menebak bahasa tubuh dan mimik. Jadi dari pemikiran ini aku bisa cari jodoh orang luar aja kalo gitu hahaaha :)) woooo

Faktor kedua adalah cara pandang seseorang. Untuk faktor yang ini menurutku cukup berperan penting dalam kelancaran komunikasi. Pastinya suatu komunikasi akan berjalan dengan lancar apabila kedua pihak atau lebih memiliki cara pandang dan pola pikir yang sama. Itu pasti akan lebih memudahkan. Namun satu yang harus aku tekankan di sini, bahwa kita tidak bisa menyalahkan cara pandang orang itu bersebrangan dengan kita , toh otaknya pun berbeda-beda. Nah loh, makin bingung hahaha :D

Menurut penulis favoritku, Dewi Lestari. Dia berkata bahwa cara pandang seseorang itu bisa diumpamakan dengan lensa kacamata yang berwarna warni. Hingga pastilah cara pandangnya berbeda.
Misalnya; A dia berkata pada B bahwa kambing itu berwarna hijau. Lalu B marah-marah berkata bahwa kambing itu berwarna merah. Setelah selidik punya selidik, ternyata lensa kacamata A itu hijau sehingga segala yang dia lihat berwarna hijau. Lalu B teryata mempunyai lensa kacamata berwarna merah, sehingga semua yang dia lihat berwarna merah. Lalu datang C dan berkata bahwa kambing itu berwarna pink dan ungu. Oh ternyata lensa kaca mata dia pink dan ungu. Mungkin saja setiap orang itu memiliki lensa kacamata yang berbeda-beda, ada yang ijo kuning ada yang abu-abu monyet, atau mungkin ada yang berwarna pelangi. Sulit untuk bisa merubah kacamata orang lain. Lalu siapa yang bisa disalahkan mengenai perbedaan cara pandang dan pemikiran? Tidak ada! Toh kacamatanya berbeda-beda.
Bingung? Sama. Di sini juga bingung.

Setelah kupikir-pikir sebelum tidur malam dan berdialog pribadi. Kurasa aku mendapatkan jawabannya yang membuatku puas. Faktor yang terakhir adalah hati. Satu hal yang diciptakan sama oleh Tuhan adalah hati. Hati yang sama dari lahir dengan berbagai bumbu yang terselip di dalamnya, meski penjahat yang paling kejam sekali pun pasti dia memiliki hati. Faktor yang ini penting sekali dalam komunikasi di mana adanya moral dan emosi manusia ada di sini. Sebenarnya inilah yang dinamakan sesuatu yang sederhana biasanya sulit untuk dilakukan. Di sinilah bisa kita melihat sampai di manakah moral kita selama ini. Bagaimana cara kita menyampaikan pemikiran kita dengan perkataan yang bisa diterima oleh orang lain atas keuntungan bersama bukan atas kehendak keras pribadi.

Dengan hati kita bisa mengerti bahwa setiap orang memiliki kacamata yang berbeda dan berusaha untuk mendengar dari sudut pandang pihak lain tanpa adanya perasaan 'miliku paling benar' dan tidak perlu menyamakan dan membandingkan dengan diri sendiri dengan orang lain. Sudah pasti tidak sama. Inilah yang sering kita lupakan dalam sebuah komunikasi, hati. Apabila memang hati tidak lagi ikut andil dalam komunikasi, apa yang terjadi??
Aku terdiam lama di tempat tidurku. Dan satu suara pun berkata menghardik: ' Kiamatlah, bego lu Met!'

Iya mungkin benar yang orang katakan kiamat sudah dekat dan berawal dari kita sendiri. Kiamat hati.
Lalu aku pun tidur.

No comments:

Post a Comment