Ketika menjadi Ibu

Jumpa lagi di bumi Taiwan. Hari ini Taiwan lagi hujan besar-besaran. Digunjang-ganjing oleh taifun. Seolah alam ingin memberitahukan pada kita ada Yang Besar dibanding manusia, yakni Sang Pencipta.

Setelah sekian lama aku menikmati liburan 1 bulan di Indonesia yang sungguh menyenangkan, aku harus kembali lagi untuk memulai sebuah perjuangan kembali. Mulai bertempur kembali dengan diri sendiri. Hal yang ingin aku bahas sekarang adalah mengenai 'kelekatan'. Apa sih kelekatan itu? Menurut sebuah blog: http://gerejastanna.org/cinta-dan-kelekatan/ , kelekatan adalah musuh cinta. Semakin kita melekat semakin dangkal kita mencinta. Karena cinta itu haruslah membebaskan. Seperti yang dikatakan oleh Kahlil Gibran.

Dengan kembalinya aku ke Taiwan menjadi sophomore, gak bisa aku pungkiri aku nangis lebih keras dari pada saat aku pertama kali ke Taiwan. Aku merasakan suatu kenyamanan berada di keluargaku lagi. Merasakan kehangatan keluarga, enaknya ke gereja bareng sekeluarga, bercerita dan curhat satu keluarga. Kembali di tengah keluarga merupakan sebuah energi positif untukku. Betapa pulang ke rumah merupakan sebuah hadiah terbesarku setahun ini. Rumah bagiku ibarat sebuah charger. Aku mengisi baterai ku kembali dengan energi positif dan hawa rumah. Aku merasa 'kelekatan' dengan keluarga sungguh besar. Kurasa kelekatan itu sungguh manusiawi. Setiap orang pasti memiliki kelekatan masing-masing yang suatu saat harus dilepaskan bukan karena tidak cinta namun karena sudah waktunya. Ada yang dalam proses pelepasan kelekatan ini sakit namun ada juga yang merelakan. Dan suatu saat memang kita harus merelakannya. Berkembang menjadi sebuah pribadi yang bebas dan menggantungkan diri kita sepenuhnya pada Tuhan bukan manusia.

Aku belajar banyak dari ibuku. Menjadi seorang ibu tentu sulit. Mengapa? Karena beliaulah
yang melahirkan dan membesarkan kita. Aku melihat perjuangan ibuku dalam membesarkan adikku yang masih 52 hari itu. Terbangun untuk menyusui, untuk membersihkan berak dan pipis, untuk meninabobokan anaknya. Dan itu terus menerus setiap hari. Hidup seorang ibu benar-benar untuk anaknya. Aku melihat dengan mata kepalaku sendiri. Keseluruhan. Sampai suatu hari ibuku berkata:
"Menjadi seorang ibu itu membuat dunia menjadi mikro sekaligus makro. Mikro karena seluruh waktu dan perhatian diberikan pada sebuah 'dunia kecil' yakni anaknya. Dan menjadi makro karena tanggung jawab sebuah 'dunia besar' sebuah masa depan titipan Tuhan ada di tangan kita."

Tentu akan menjadi sulit pula ketika anaknya akan pergi untuk belajar dan memulai sebuah perjalanan baru. Ibuku cerita bahwa saat aku pergi dia merasakan sebuah kesepian yang sangat. Pasti itu yang dirasakan oleh semua ibu di seluruh dunia ketika harus melepaskan anaknya. Setiap hari menurut ibuku dia menelfon nenek, ibunya untuk sekedar curhat mengenai pelepasan kepergianku ke Taiwan. Kurasa suatu hari nanti aku pun akan merasakan hal yang sama saat nanti anak-anakku beranjak dewasa dan harus pergi dari sisiku untuk berkembang menjadi lebih baik.

Oh iya, ada lagi satu hal yang bagiku ini merupakan sebuah nasehat yang bagus untuk semua perempuan yang ada di dunia ini. Aku dan ibuku bisa dibilang saling terbuka, bahkan ketika aku diajak nonton film porno aku pun cerita pada beliau. Lalu ibuku pun bilang: Nonton mah nonton aja, asal jangan ketagihan. Kamu harus lihat dunia luar, Metta. Itulah kenyataannya.

Pesan yang menurutku penting itu diberi tahukan padaku saat aku sedang menjaga adikku yang sedang tidur. Ibuku sedang ganti baju sehabis mandi. Dia pun menunjukkan padaku luka bekas operasi cesar-nya. Ngeri banget. Ibu menunjukkan kepadaku jahitannya dan perubahan perutnya yang menjadi menggembung, kulit yang menjadi keriput dan sedikit kendor. Menurutnya masa-masa nifas (pasca melahirkan) adalah masa-masa pemulihan tubuh seorang perempuan yang paling sulit. Karena pada saat itulah dihadapkan bahwa tubuh perempuan tidak bisa kembali normal 100% sehat seperti dahulu kala. Misalnya terkadang jahitan cesar ibuku suka nyeri sedikit. Pemulihan itu bisa dibilang sangatlah lama bisa jadi 1 tahun menurut dokter. Betapa kita sebagai perempuan membawa sebuah tanggung jawab yang besar yakni membawa sebuah individu lain yang akan tumbuh 9 bulan di dalam rahim kita. Bersatu dalam tubuh, pikiran, dan emosi.

Ibuku pun berkata kepadaku bahwa selama masa-masa hamil adikku Ibu mulai mengimani kembali setiap fase kehamilan sampai kelahiran. Betapa organ reproduksi wanita itu dibuat sempurna oleh Tuhan. Hingga munculah sebuah rahmat Tuhan yakni individu baru yang mungil dan lucu. Sebuah kehidupan baru yang dibentuk dalam sebuah cinta. Sebuah pembentukkan sperma dan sel telur, suatu karya Allah yang besar.

Ibuku pun berpesan, sebuah pesan yang penting untuk perempuan:
Jagalah tubuhmu, alat reproduksimu dengan baik. Janganlah bermain-main dengan alat kelaminmu. Karena setiap jengkal tubuhmu dibuat sempurna oleh Tuhan. Jagalah karena tubuhmu adalah Bait Allah. Hingga saatnya tiba. Dengan orang yang tepat, waktu yang tepat, tempat yang tepat, dan dengan cinta yang tepat. Semuanya indah pada waktunya.

Aku memahami dengan sungguh menjadi seorang ibu adalah sebuah anugerah yang diberikan Tuhan. Diusia ibuku yang 46 tahun dan ayahku yang berumur 55 tahun mereka diberkahi seorang anak laki-laki yang sehat, sempurna, lucu, mungil, dan pintar. Di sanalah Dia berkarya.


Comments

Popular Posts