AKu Mencari Tuhan di Sekitar Rumahku


Dalam hatiku sudah kuteriakkan jelas-jelas dalam otakku. "Ada yang tidak beres denganku!" Rasanya aku hilang arah. Rasanya aku tersedot. Rasanya aku lelah. Semua cepat, semua terjadwal, dan aku mulai hilang inti. Semua yang mudah jadi susah, semua yang susah jadi keluh kesah. Rasanya aku ada disebuah medan magnet negatif. Aku capek. Ini kenapa?

Aku rasa dengan umurku yang 19 tahun ini aku masih jaaauhh,,,dari sebuah kata 'dewasa'. Aku ingat saat ulang tahunku yang ke 19 ditulis: semoga bisa lebih dewasa. Namun nyatanya dewasa itu adalah perjalanan panjang manusia sampai liang kubur. Maksudku, aku merasa untuk menjadi sosok dewasa itu butuh pembelajaran lebih. Kalau ada kursusnya aku ikutan deh. Sayangnya kita hidup di dunia ini gak ada training. Seperti kalau kita mau kerja. Sayangnya hidup ini gak ada workshop-nya dulu. Jadi kita meraba-raba hingga kadang tak sedikit yg bertanya hidup itu apa?

Kalau udah mentok begini, lebih baik mundur dulu senjenak. Aku memulai perbincangan dengan diri sendiri. Akhir-akhir ini aku jadi sering terkaget-kaget dengan apa yang tiba-tiba ada lewat depan hidupku. Lalu aku pun terpana sebentar terpesona sebentar. Bego sendiri. Pernah gak kamu kayak gitu? Terus tiba-tiba kamu saking terpananya kamu jadi hilang arah dan lupa. Kamu lupa mau ngapain. Kamu terpesona dalam satu helaan nafas. Ibaratnya kamu jadi 'mati terpesona'. Aku sedang merasa hal yang seperti itu. Aku terpesona hingga membuat aku jadi bingung. Aku tidak fokus. Lalu aku kini pun baru sadar dari sebuah momen aku menganga-nganga. Aku sudah ketinggalan jauhhhhh,,,,banget! Kampret!

Kemudian aku mulai mengatakan pada diriku sendiri, ayo Metta,,,lanjut Metta. Namun kamu tahu yang kamu pikirkan hanya satu dan hati kamu cuman mendengungkan kata penasaran 'KENAPA?' Hingga tingkatan mati kamu bukan 'mati terpesona' namun beralih jadi 'mati penasaran'. Oke, serem. Aku penasaran, aku ingin tahu, aku mencari, tapi malah kepentok-pentok, kejeduk-jeduk.

Aku harus bangkit ini dari 'mati penasaran' ini. Aku mulai mencari-cari Tuhan. Aku mulai bertanya mengapa aku mentok. Mengapa aku musti mengalami hal ini, yang membuat aku jadi bingung terpesona pada yang nyata namun semu. Yang berakhiran pada sebuah pertanyaan " Tuhan Engkau di mana aku ingin bertanya, mengapa hidup begini? Kenapa aku harus merasakan hal ini?" Aku tahu rasanya aku kurang ajar banget kalau aku bertanya seperti itu.

Berdialog singkat dengan diri sendiri bukanlah sesuatu yang menyengkan. Namun untuk yang satu ini aku tidak ingin berdialog dengan orang lain. Hingga terjadilah monolog pribadi. Inilah yang aku dapatkan. Aku ingat sebuah sajak yang ditulis oleh penyair India, 1861-1941, Rabindranatah Tagore di bukunya Gitanjali. Beliau menulis:

Janganlah aku berdoa agar diluputkan dari bahaya tetapi agar berani untuk menghadapinya.

Janganlah aku bermohon untuk dihindarkan dari kepedihan tetapi agar mampu menaklukannya.

Janjikanlah padaku agar aku tidak menjadi seorang pengecut: Tidak hanya sanggup merasakan keagunganMu dalam keberhasilanku tetapi juga dapat merasakan genggamanMu di dalam kegagalanku.


Itu kata Tagore. Aku setuju dengan beliau. Aku kadang berdoa: Tuhan berikanlah jawabanMu secepat-cepatnya jangan sampai terlambat. Jangan sampai aku bego berkepanjangan. Lalu aku mulai sibuk sendiri dengan sebuah pertanyaan mengapa hidup begini, mengapa hidup begitu, mengapa aku tidak memiliki ini, atau kenapa aku begitu.

Kita manusia terkadang memang punya waktu di mana kita 'memiliki hak sendiri untuk menjadi keterlaluan.' Bersyukurlah kita punya Tuhan yang asyik. Mungkin sebenarnya Dia pun tertawa perlahan setiap kali kita mempertanyakan keberadaanNya. Lalu Dia berkomentar, "Metta, Gue di sini, please deh!." Atau kadang kita dicolek oleh Nya karena saking bolotnya kita. Tidak apa-apa. Tuhan mengerti kalau umatnya budi; budek dikit.

Hingga akhirnya pencarian makna hidup kembali lagi dengan Yang Punya Kehidupan. Hidup itu pengalaman bukan penjelasan. Perjalanan bukan tujuan.


Terima kasih,
aku bisa merasakan sesuatu yang mempesonakan. Sekarang aku mengerti.





Ajarkanku menyelinap dalam gelap

namun tidak lenyap
Terjaga dalam mimpi
Namun tidak pergi.



Comments

Popular Posts