31.3.10


aku lagi suka sebuah puisi. Karya Eka Budianta. Tapi aku lupa judulnya apa. Liriknya juga lupa-lupa ingat. Aku ingat puisi ini, karena sebuah musikalisasi puisi yg bagus.

Mestinya aku mendengarkan Kamu
Mestinya aku mendengarkan kata hati
Sudah jauh dari mana-mana
Tak bisa melihat, tak bisa bicara

Kini aku bergerak dalam kebanjiran
Batang-batang pohon berubah bentuk
Ke padang pasir
Ke lumpur luas

Misalnya Kau masih punya senyum
Kirimkanlah lewat hujan, lewat embun
Siapa tahu aku dapat mencuci tangan
Membersihkan badan dan luka-lukaku
Lalu pelan-pelan kembali padaMu
Lalu pelan-pelan menyusup lagi ke dalam rahimMu yg tentram

Mestinya aku mendengarkan Kamu
Supaya tidak tersesat supaya aman
Supaya hangat dalam pelukan
Untuk selalu dekat denganku
Namun kini mereka terbang mencariku
Mencelupkan kepalaku ke darah
Sekujur badanku
Kotor belepotan

Misalnya Kau masih punya senyum
Kirimkanlah lewat hujan, lewat embun
Siapa tahu aku dapat mencuci tangan
Membersihkan badan dan luka-lukaku
Lalu pelan-pelan kembali padaMu
Lalu pelan-pelan menyusup lagi ke dalam rahimMu yg tentram


1 comment:

  1. Mestinya Pulang - Eka Budianta

    Mestinya aku mendengarkan Kamu
    Mestinya aku mendengarkan kata hati
    Sebab jauh dari mana-mana
    Aku tak bisa melihat, tak bisa bicara
    Duniaku bagai lahan kebanjiran
    Batang-batang pohon tanpa bentuk
    Dataran pasir dan lumpur luas

    Mestinya aku mendengarkan Kamu
    Supaya tidak tersesat supaya aman
    Supaya hangat dalam pelukan
    Dulu unggas selalu dekat denganku
    Tapi kini mereka terbang mencarimu
    Melaporkan kepalaku berdarah
    Sekujur badanku
    Kotor belepotan
    Misalnya Engkau masih punya senyum
    Kirimkanlah lewat hujan, lewat embun
    Siapa tahu aku dapat mencuci tangan
    Membersihkan badan dan luka-lukaku
    Lalu pelan-pelan kembali padaMu
    Lalu pelan-pelan menyusup lagi ke dalam rahimMu yang tentram

    ReplyDelete