Belajar autis

Ga tau kayaknya semenjak di sini aku jadi rada sedikit ingin meyendiri dan menyepi. Karena sangat susah untuk mendapatkan privasi yang bener-bener sendirian. Secara satu kamer aja 4 orang, ramenya udah kayak pasar ikan.

Kadang aku kangen aja dengan kesendirian yang kata orang itu adalah waktu-waktu autis ketika ga ada orang lain di dekat kamu dan kamu cuman mau egois aja untuk dirimu sendiri. Mungkin dengan hidupmu, mungkin dengan kerjaanmu.

Tapi entah mengapa aku tipe orang yang kadang takut untuk sendiri. Benar-benar sendiri dan menikmati kesendirian. Sepertinya seperti itu enak yaaa...

Besok-besok aku mau mencoba untuk meluangkan waktu sendiri, jalan sendiri, dan mencoba asik dengan dunia sendiri. Cukup aku dan diriku. Terdengar egois namun sepertinya aku butuh itu sekarang. Karena terkadang tidak selamanya kita harus menjadi makhluk sosial yang bersama-sama dan berkelompok. Kita butuh waktu dan sekedar spasi diantara kita :))

Oh iya, aku juga kayaknya pernah baca buku karangan Pramoedya Ananta Toer, intinya adalah :

Kalo kita itu hidup sendiri-sendiri. Analoginya seperti pasar malam. Orang datang dan pergi. Yang tadinya ramai hingar bingar namun akhirnya setiap orang datang sendiri dan pulang sendiri-sendiri juga. Meninggalkan sebuah hening senyap. Kontradiksi. Ironi. Sama juga seperti kita manusia, kita di perut ibu sendirian selama 9 bulan. Lahir pun kita sendirian. Hidup pun selama beberapa saat kita sendirian tanpa pasangan. Setelah ada pasangan hidup kita pun masih sedikit ada ruang kosong di hati kita yang tak bisa diisi oleh siapa pun. Aku yakin itu. Saat kita meninggal pun kita sendirian. Kita lahir dan meninggal kembali sendirian, menyendiri.


Aku kadang ingin sendiri dan menyepi. Namun, belum cukup menyediri dan menyepi.
Di mana?

Comments

Popular Posts