2.6.09

super geje!

Hallo!! Ni aku punya karyaa super geje yg aku buat. adoohh ceritanya kan aku tuh ikutan cewe "creative writing" ekskul wajib di sma. nah abis ituuuu sodara-sodara kita disuruh buat buku. karena kemaha-malas-an membuat buku akhirnya berakhir dengan mengenaskan membuat kumpulan refleksi yg berjumlah 24 lembar. pret! mau bikin apa kali 24 lembarr hahha komik aja masih lebih tebel!! keteeekk. :P nahh berikut salah satu karya gejenya. Ngeliatnya aja aku ngga tega. HIHIHIH :)) ngga pede gt dengan gaya nulis aku yang acak adut.nyekekekekkekkk!


Mengapa Harus Ada Matematika di Dunia ini?

Mengapa harus ada MATEMATIKA di dunia ini? Itulah pertanyaan yang selalu mengganggu gue sedari lahir. Boong deng! Sedari kelas 1 SD. Gue ngga pernah ngerti kenapa sih semua hal diukur dari matematika? Kepintaran orang pun diukur apakah dia bisa pelajaran eksakta seperti MATEMATIKA, FISIKA, dan KIMIA. Apabila ada orang yang kurang atau bahkan tidak bisa pelajaran tersebut diberi stempel mutlak seumur hidup bahwa ia bego. Meskipun dia punya bakat di bidang seni. Gue ngga pernah ngerti kenapa segala sesuatu diukur dari satu hal seperti itu. Bukankah kita moralnya haruslah melihat sesuatu di dua sisi yang berbeda? Ternyata pelajaran moral itu hanya merupakan tai kucing belaka. Hingga akhirnya pada suatu kejadian yang bikin gue sadar.

Saat itu gue kelas 1 SMA atau sekarang biasa disebut kelas X SMA. Saat itu adalah zaman jahiliah bagi gue? Mengapa? Karena itu adalah zaman meraba-raba bagi gue. Penentuan untuk masa depan gue. Hendak menjadi apakah gue? Seumur hidup gue, gue bisa dibilang tidak bermasalah dengan yang namanya pelajaran. Nilai gue bisa dibilang memuaskan dan gue selalu masuk 10 besar. Sampai akhirnya ternyata masa kejayaan gue itu surut di suatu tingkat pendidikan dalan hidup gue.

Nilai Matematika biasanya memang nilai yang paling rendah dalam rapor gue. Entah gue mendapatkan 6 atau 7. Namun, dalam rapor gue kini, matematika merupakan momok yang paling besar dalam kehidupan gue. Gue mulai tidak bisa mengerti akan logika matematika, ke mana matematika membawa gue. Gue merasa sedang berdiri di suatu daerah yang tidak gue kenal dengan baik. Gue mulai takut sekolah dan rasa sensitive mulai menyergap gue. Gue mulai berubah menjadi orang yang perasa dan mudah menangis. Padahal pada saat itu, gue inget banget betapa gue berjuang untuk paling tidak mendapatkan nilai 6,75. Dan itu rasanya susah setengah mati. Gue udah berjuang sampe ikut les-les segala namun ternyata tetap saja jeblok. Padahal jelas-jelas gue udah belajar matematika hingga tetes darah penghabisan.

Terkadang kita merasa sudah melakukan segala hal sebagai persyaratan untuk mendapatkan hak yang kita inginkan. Dalam kasus gue, gue udah belajar mati-matian untuk mendapatkan nilai yang baik dalam matematika, layak dong kalo gue berharap lebih. Namun, kenyataannya ternyata tidaklah semudah itu. Dibutuhkan lebih dari sekedar syarat standard untuk mendapatkan hak yang kita inginkan. Memberikan sesuatu yang lebih dari sekedar standard dibutuhkan ketulusan yang lebih dari diri kita. Sehingga, kita pun bisa melakukan segala hal dengan penuh kesadaran bahwa segala hal musti didapatkan dengan perjuangan yang lebih dari standard dalam diri kita. Percaya deh pasti hasil yang kita dapatkan pun tak akan terduga!

TAWA ALA KUDANIL


Gue punya kebiasaan jelek yang tidak mampu gue hindari. Tertawa selalu dengan volume yang salah. Terlalu keras. Gue selalu lupa situasi kalau lagi ketawa. Tidak ada yang bisa mengontrol taw ague saat gue mulai menggila a.k.a sarap. Bila lo semua sudah cukup kenal dengan gue; tentu lo pun akan familier dengan muka gue yang tolol saat lagi ketawa; mata merem, hidung kembang- kempis, mulut menganga dengan sempurna hingga nyaris bisa masuk satu tangan orang dewasa. Mirip kudanil, itulah yang disebutkan oleh teman-teman gue.

Setelah menyadari itu semua, akhirnya gue pun putuskan untuk mulai mengontrol volume suara yang mahadahsyat tawa ala kudanil tersebut. Ternyata amatlah sulit. Gue suka lupa harus mengatur kadar suara dan tawa ala kudanil; mulut mangap. Asli, gue benar-benar pengen merubah kebiasaan jelek gue itu karena pasti amat merusak citra diri. Secara gue cewek gitu.

Hingga sampai beberapa hari, gue pun ketawa bak perempuan Keraton Yogyakarta yang anggun dan kemayu. Gue setengah mati menahan tawa gue yang bisa-bisa saja sewaktu-waktu membeludak horor. Gue pun mulai membawa saputangan ke mana-mana untuk antisipasi kehilangan pitch control saat tertawa. Apabila hal itu terjadi, saputangan malang itu akan bekerja paruh waktu, dari membersihkan ingus bertransformasi menjadi penyumpal mulut. Hebat bukan temuan dini gue? Dari situlah ada satu hal yang bisa gue pelajari dari tindak pengubahan kebiasaan buruk gue: Tidak baik menahan ketawa karena akan menimbulkan konsekuensi berkelanjutan yakni; setengah mati menahan kentut!

Di tengah perjuangan gue selama beberapa hari dengan gaya tawa yang kemayu bak bidadari: mata yang merem-melek dengan centilnya, mulut yang terbuka hanya 0,65 cm, hidung yang tetap pada tempatnya, dan volume suara yang seperti burung gereja. Ternyata tetap aja ada pertanyaan dari salah satu teman gue yang merobohkan mental tawa bidadari gue.

“ Lagi sariawan apa kelilipan? Kok matanya merem-melek gitu?
“ Nggak apa-apa,”jawab gue sok cuek padahal berdebar.
“ Kok ketawanya kayak orang ambeien gitu?” SIALAN!
“ Maksudnya?”tanya gue penasaran. Dalam hati gue padahal pengen gosok tu mulutnya pake sikat WC.
“Lain saja, biasanya kalau tertawa heboh dan berdaya pikat bikin yang lain ketawa. Sekarang ketawanya di’empet, kayak orang nahan boker.” Lalu gue pun menceritakan program mulia : penahan ketawa yang gue tengah laksanakan. Eh, teman-teman gue pun langsung protes setelah mendengar alasanku nan mulia itu.
“ JANGAN! Ketawa kayak biasanya aja. Ketawa lo bikin yang laen jadi geli terus pengen ketawa juga! Ketawa lo nyihir orang buat seneng meskipun dengan cara ketawa lo yang ga ada anggun-anggunnya. Jangan diubah!”

Mulai dari saat itulah gue bisa ketawa sesuka hati gue sepuas-puasnya. Selamat tinggal ketawa di’empet!!

Ternyata citra diri kita tidaklah tergantung dari kemasan luar yang nampak di mata manusia; melainkan sesuatu yang lebih penting dan berharga terselubung di dalamnya. Tidak perlu mengubah diri lo jadi sesuatu yang baru demi citra yang orang lain inginkan, cukup jadilah diri lo sendiri saja. Terimalah diri lo apa adanya.




Liat kan liat kan :)) itulah salah dua refleksi yg aku buat dan masih banyak lagi. MEmang dari awal aku membuat kumpulan refleksi ini pendekatannya remaja gitu jadi pake bahasa gue-elo. dan kalian tau saudara-saudara karya geje aku dapet nile tinggi loh di kelas. jiyahahahahhahahahahhah :))

No comments:

Post a Comment