25.10.20

teko teh

hari ini aku minum teh cukup banyak deh, kayanya aku harus batasi konsumsi kaffeinku yang kurasa kayaknya kebanyakan deh lol. bisa gak ya aku sekarang swift kopi jadi minum teh di pagi hari aja (2x seduh) dan boleh deh minum kopi di hari sabtu aja. oke semoga aku sakses ya, ges!

berpikir soal ganti kebiasaan minuman sebenarnya membuatku sedikit berpikir jangan-jangan sebenarnya sama aja dengan kamu berpikir tentang "pandangan diri", mungkin gak selama ini pandanganmu atas dirimu sendiri itu salah, kamu gak broken cuman belom diolah aja dalemannya. bukannya gak bisa, tapi belum mencoba untuk masuk ke pintu yang serem-serem masa lalu tempatmu pernah takut, kamu trauma, kamu pernah sedih, marah, sakit hati, tapi emosi itu kamu tinggalkan aja gitu. nyaris 2 bulan ini rasanya aku ngubek-ngubek diri dan berusaha untuk bisa mengenal diri sendiri dari ulang.

terasa sangat terlambat sih, karena aku sesungguhnya berharap bisa mengenal versi diriku ini lebih awal. tapi, mungkin saat itu "metta" belum siap untuk mengerti dan menjadi matang. aku rasa sih, (semoga) semua orang bisa merasakan pembelajaran mengenal diri sendiri dari ulang dan bisa melihat gambaran diri sejelas-jelasnya. aku bersyukur banget sih bisa merasakannya, meski awalnya aku serasa kayak capek dan sedih sekali. tapi yang pasti, aku berterima kasih pada guru spiritualku yang mungkin dia ga sadar dan ga aware, tapi aku jadi seperti dikasi kunci dan keberanian untuk menjelajah dan bergonjang-ganjing sendirian dalam gelombang emosi, yang ternyata emang hanya di permukaan aja, kalau kita nyelem lebih dalam rasanya lebih tenang. 

iya, aku bersyukur dan berterima kasih banget sih untuk pelajaran dan penemuan-penemuan diri yang ternyata membuatku aware dan sadar dengan diriku sendiri. 

terima kasih dan hidup yang bahagia, ya! 


sebenarnya

sebenarnya yang dicari tidak di luar, tapi di dalam

begitu pun dengan segala macam kekosongan 


23.10.20

wew

setelah posting yang cukup emosyenel kek "napa sik u met?" aku jadi mencermati diri sendiri juga bahwa kayaknya aku selalu penasaran deh akan beberapa hal yang kayaknya perlu aku teliti lebih jauh lagi. sepertinya memiliki dunia yang luas untuk dijelajahi dan dieksplor terus menerus membuatku gemes dan ingin tahu. kurasa aku senang sekali biasa duduk-duduk manis dan ngulik sesuatu dengan muka acak adut, baju longgar, dan bisa menemukan sesuatu yang baru dengan excitment yang menggairahkan.

kayaknya praktik meneliti, belajar, dan ngulik suatu hal bisa bikin aku anteng seharian dan konsentrasi. akhir-akhir ini aku sedang membongkar pasang pengertian: bagaimana untuk bisa punya hidup yang bener-bener hidup (?)

aku penasaran sih, banyak yang akhirnya jatuh ke keinginan yang sifatnya materialistik, tapi ternyata setiap manusia punya lobang yang bolongnya cukup dalam menganga ga pernah kenyang. ada semacam lubang yang kayaknya memang tercipta untuk bolong aja terus. bisa diisi macem-macem, mau pleasure, mau dimanjakan dengan harta, mau diisi ego, mau diisi pride, semua bisa. tapi tetep aja, bolong. puas sesaat, terus bolong lagi. kadang-kadang bolongnya kegedean jadi kayak unbearable dan panik musti disumpelin apanih, bos bagusnya?

sebenernya kalo bolongannya gak bisa disumpel apapun dan akhirnya cuman kesementaraan aja, harusnya ga usah dikejar-kejar amat rasa penuhnya, gak sih? karena rasa kepenuhnnya fana, gitu?

tapi kalo bolong juga kayaknya berasa 'kurang' dan gak komplit. 

jadi sedikit penasaran, kegunaan bolongan ini buat apa ya? kalo puasnya juga sementara aja kayak cari euforia. kalo ga dipuaskan jadinya histeria dan panik dan cemas dan khawatir. 

ini sih judulnya menyambut akhir tahun dengan pertanyaan krisis eksistensial dan retret pribadi akhir tahun yang dikuras, dicek, ikut deep cleaning, dilaundry se-jero-jero-an-ku. 

biar apa?

biar yang kosong terisi.

tapi apa yang kosong? 

apa yang musti diisi?

kenapa kosong?

emang HARUS diisi?

kalau kosong dan udah diisi, perasaannya apa?

puas?

kenapa rasa puas yang dikejar?

apa fungsi rasa puas?


22.10.20

Retret

 

Kurasa aku kini jauh lebih legowo dan suwung dalam menjalani beberapa hal yang membuatku tertatih-tatih. Rasanya melegakan juga melepaskan pada satu kenyataan: "Toh nanti aku akan siap dengan apa pun yang terjadi di depan." Aku mempercayai Tuhan akan melindungiku dan memeliharaku. Ia akan memberikanku hikmat dan kebijaksanaan sesuai dengan waktu yang Ia miliki. Ia tidak akan terlalu cepat dan tidak pula berlama-lama, Ia akan tepat pada waktunya. Ia akan menjadikanku siap untuk memenuhi tugas-Nya. Ia mengetahuiku dan mencintaiku. Ia mengasihiku lebih dulu. Ia adalah Kekasihku yang pertama. Adalah Bapa. Lalu aku diajarkan cara berbagi Kasih. Bersabar dalam putaran waktunya, maka segalanya akan dimungkinkan dengan pertemuan. Dia mencintaiku lebih dulu, meski aku pemarah, sulit diatur, dan sering meragukan bertanya. Aku berserah pada-Nya dan mengikuti-Nya sampai nanti tiba waktuku. Aku ditumbuknya menjadi 'bijih polos telanjang'. Ia mempersiapkanku. Aku bersedia. Aku berkata: Ya. Aku membuka diri. Aku menerima Kasih-Nya yang besar. Aku legowo menerima. Aku memeluk semuanya. Bahwa inilah aku. Aku yakin Dia tetap, Dia akan memenuhi janji-Nya, rancangan-Nya bukanlah rancangan kecelakaan tapi damai sejahtera. Di dalam Dia aku merasa aman. Dialah gunung batuku. Perisaiku. Api Cintaku. Tidak akan aku merasa gentar. 


"Laksana butir-butir gandum kau diraihnya,

Ditumbuknya kau sampai polos telanjang

Diketamnya kau, agar bebas dari kulitmu

Digosoknya, sehingga menjadi putih bersih,

Diremas-remasnya menjadi bahan yang lemas dibentuk

Dan akhirnya diantarkan kepada Api Suci,

Laksana Roti Suci yang dipersembahkan pada Pesta Kudus Tuhan."

          (Cinta-Khalil Gibran) 

 

 

 

pagi

pagi yang diusung dari doadoa

adalah pintalan mimpiburuksemalam 

yang ditenun dengan kehati-hatian

menggabungkan kataku dan rencana-Nya

tapi tetap pedih juga


21.10.20

solitude

ketika mulai linglung dan bingung sepertinya tidak apa-apa kalau mau mulai minggir sebentar dan memandang dari jauh. hidup itu susah-susah-gampang. tidak apa-apa juga untuk memisahkan diri dan kembali ke diri sendiri untuk bisa belajar. 

solitude: (n) the quality or state of being alone or remote from society. 

untuk berpikir, untuk bernafas, untuk mencari, untuk melihat pemandangan, untuk mencerna ke dalam, untuk merenungkan, untuk meragukan, untuk menentukan, untuk meragukan lagi, untuk merenungkan lagi, untuk berproses, untuk mencipta,

untuk mengerti

inilah hidup.




19.10.20

pelan-pelan

berapa kali coba aku ganti themes blog agar terus baru. kayaknya jiwaku merindukan kebaruan yang bisa aku kontrol dan pegang. bukan yang mendadak baru, tiba-tiba terjadi tanpa bisa aku antisipasi. kayaknya makin banyak hal yang tidak bisa aku antisipasi dan did not see it coming bikin mentalku semacam capek. aku capek musti berada di masa-masa yang uncertain begini (meski aku terus-terus berkata pada diriku sendiri untuk bisa terbiasa dengan ketidakpastian) tapi aku butuh yang pasti, ternyata. 

kayaknya ngunyahnya musti pelan-pelan deh, gak usah buru-buru harus diperbaiki. diam dulu, lihat lebih dekat, amati pelan-pelan. lucuti satu-satu. terima satu-satu, gak usah khawatir yang ada di depan. 

ya, baiknya jalani hari per hari aja, kalau serasa ketakutan. 

new post

teko teh

hari ini aku minum teh cukup banyak deh, kayanya aku harus batasi konsumsi kaffeinku yang kurasa kayaknya kebanyakan deh lol. bisa gak ya ak...