16.2.18

Tulisan di Jumat Sore


Menjadikan hari ini sebagai hari rehat dengan tidur yang panjang dan memasak karena aku rindu setengah mati dengan Taiwan dan masakannya. Aku rindu dengan toko-toko sarapan, jualan teh hong cha di pinggir jalan, serta taman yang luas dipenuhi oma-opa yang berolah raga.  Lalu  sesekali teman sebangkuku akan menyelundupkan minuman es teh hijau dicampur beer ke kelas karena udara Taiwan luar biasa panas di musim panas.  

Dua minggu ini berlalu lama dan panjang seperti memintal benang kusut diurai perlahan dan segala perhatianmu akan habis begitu saja. Aku gemas sekali jika terus menerus harus menyediakan diri untuk dipenuhi segala kebisingan sana sini, padahal aku ingin sepi seperti menghilang dalam gumpalan gula-gula kapas. Akhir-akhir ini aku sedang berusaha mengerti apa artinya eksistensi diri, apakah dengan terus-terusan ada artinya benar-benar terjawab sudah eksistensinya? Bukankah yang menghilang akhirnya jadi tersadar akan eksistensi awalnya, bahwa sebenarnya dia pernah ada dan kini tidak ada. Rasanya aku jadi butuh ruang untuk diriku sendiri, di mana terkadang menyendiri dan menyepi seperti candu.  Aneh juga setelah selama ini terus menerus bersama tubuh dan jiwa ini namun tidak cukup juga aku mengenal diri. Kian hari semakin menemukan beberapa hal yang baru dalam diri sendiri. Seperti menyadari kalau menjadi nyaman dengan diri sendiri lebih penting dari pada harus terus menerus memberikan tempat pada orang lain untuk singgah.

Aku sempat berusaha sedemikian rupa untuk uji coba ombak dan mengikuti pasar dalam hal menulis. Namun aku gagal mentah-mentah dalam sekali coba. Ada yang hilang saat menulis kala mengikuti pasar atau pembaca. Ada yang hilang saat aku harus menyesuaikan arus. Lalu aku jadi tersadar kalau aku tidak menulis untuk pembaca budiman, namun lebih ke upaya-upaya menyeimbangkan dan menyembuhkan diri sendiri; dari segala jalan pikir sesat, segala khawatir, ketakutan dan segala hal remeh temeh yang terbaca dari panca indera. Kurasa memang tulisanku egois sekali karena semata-mata hanya membicarakan diri dan pikiran yang mengganggu. Namun kurasa setiap tulisan memiliki kebutuhannya sendiri-sendiri kan? Seperti berjalan naik gunung sendirian dan berhadapan dengan diri sendiri. Berjalan berdampingan dan ngobrol.

Sudah beberapa kali aku mengamati kalau aku dipenuhi paradoks dalam diri. Ada yang bertabrakan dan saling silang menyilang. Atau mungkin memang manusia penuh dengan berbagai kerumitan dalam pikiran dan perilaku. Sandaran ideologi yang keberatan atau perilaku yang menyimpang dari ideologi dan anutan tersebut. Seperti buku moral yang ditulis namun tidak untuk dilakukan cukup ditaruh di lemari buku saja baik-baik dan dilap sesekali. Bisa jadi hal-hal yang idealis itu terlalu utopis dan terlalu mengada-ada, seperti tidak akan didapatkan, seperti memang diciptakan untuk menjadi suatu batasan yang tidak akan bisa dilampaui karena memang pencapaian itu tidak akan pernah ada. Namun manusia masih terus mencoba. Kurasa itu baik. 


Mengusahakan sesuatu dan tidak berdiam di tempat karena air  yang tenang adalah air yang mati. Dia akan menenggelamkan. Mengerjakan hal-hal kecil di keseharian itu lebih baik dari pada hanya berbicara besar-besar namun tidak memulai. Aku pun jadi sadar bahwa ternyata di tahun yang baru ini tidak serta merta membuatku menjadi seseorang yang besar atau tiba-tiba mengalami hal yang besar. Bisa jadi hidup kita ini antiklimaks padahal kita sudah berusaha, namun bukankah segalanya pun tidak akan kita dapatkan sempurna sesuai ekspektasi kita? Bukankah kamu sudah mengetahui itu dari awal?  Kita perlu hati-hati dalam mengingini ini dan itu, karena bisa jadi hidup sendiri adalah perkara menunda keinginan. Membuatnya menjadi ranum dan melihat lagi apakah keinginan ini sungguhan yang kita inginkan atau hanya nafsumu sendiri?

Melamun sendirian dan menulis di suatu tempat sambil menyesap blossom tea yang kemanisan membuatku jadi mengingat akan hari-hariku yang marah seorang diri karena pertumbuhan yang nanggung dan aku ingin segera dewasa. Aku sebal harus terus menerus dianggap muda dan amatiran. Seperti kuncup dan biji yang belum berkembang. Kurasa aku tidak pernah khawatir menjadi tua. Aku ingin bertumbuh dan meranum. Ditempa dengan waktu dan pengalaman. Lalu ada yang menarik dari kelasku yang kemarin, yang mengatakan agar jangan takut untuk menjadi individu. Segalanya berawal dari individu. Individu yang matang dan ranum akan mampu berkembang dengan baik tidak setengah-setengah.


15.1.18

Sebuah Isi Otak yang Penuh dengan Sampah dan Tai Kerbau, Lalu Meracau


Ciamis, Desember 2017


Aku harus cermat menghitung kalender kapan aku datang bulan bukan karena takut hamil atau menghitung masa subur. Namun aku menginginkan bisa mendapatkan sebuah antisipasi yang nyata karena hari-hari menjelang datang bulan adalah hari-hari emo sedunia. Namun aku akhir-akhir ini merasa bersedih yang tidak aku ketahui mengapa dan asal usulnya dari mana. Aku hanya merasa bersedih tanpa alasan dan salah satunya karena ada perasaan janggal seperti merasa tidak berada di tempat yang seharusnya di mana aku berada. Rasanya seperti tersesat di sebuah perjalanan. Seperti ingin bersembunyi sekaligus ingin ditemukan. Tidakkah aku sedemikian egois untuk ingin ditemukan padahal sesungguhya aku sedang bersembunyi?

Rasanya kamu tidak akan mengerti apa yang kumaksud karena aku sendiri pun tidak tahu bagaimana menjabarkannya dengan jelas. Seperti terpotong-potong antara badan, pikiran dan hati yang entah berada di mana lalu aku rasanya mengambang di ruang hampa udara. Ternyata bersedih itu tidak untuk digembor-gemborkan atau dikatakan karena manusia terlalu awkward dan jengah untuk mengetahui manusia lainnya sedang bersedih dengan perasaannya dan tidak tahu mengapa demikian. Hanya terjadi demikian saja tanpa kecuali, tanpa permisalan, tanpa andai.

Kurasa adalah sebuah momen di mana aku ingin beranjak keluar dari lingkaran namun beberapa hal masih ditarik-tarik dan tidak bisa lepas-lepas. Atau seperti makan permen karet mint yang sudah hilang manisnya, sudah seharusnya kamu lepeh tapi kok sayang eh tapi aku ingin minum teh. Itulah perasaannya. Random kan? Sudahlah pasti kamu tidak mengerti, aku pun tidak berharap ada yang mengerti. Bagaimana mungkin aku yang memiliki perasaan pun tidak mengerti, bagaimana mungkin kamu bisa mengerti? (Aku tahu kalimat ini tidak efektif tapi aku butuh filter yang luar biasa ampuh, isi otakku ampas semua.)

Seharian ini aku berpikir rasanya dari pada jadi kaya aku mau jadi bahagia saja. Aku tahu sih kalau seseorang pasti akan berkata kalau kebahagiaannya adalah menjadi kaya. Ih kok dia curang ya. Emang bisa ya kebahagiaan dicampur sama hal yang material? Material bisa menjadi penyebab bahagia, tapi bukan bahagia itu sendiri. Bukan getaran itu sendiri, karena perasaan bahagia sepertinya ada campuran kimiawi tertentu di otak.  Apakah perasaan bahagia itu bisa diukur dengan satuan apa gitu? Seperti misalnya setelah ditimbang-timbang bahagianya seberat satu kilogram jadi bisa dijual kembali sebesar sekian-sekian rupiah. Rasanya tidak.

Pasti pernah kita mendengar sebuah perkataan bahwa kebahagiaan sendiri dari bersyukur atas apa yang dimiliki sehingga tidak diperbudak keinginan. Bahwa semua yang kita miliki berasal dari keinginan kita yang terdahulu, yang sudah didoakan siang malam. Namun, seringnya pada suatu masa kita jadi menyesal akan keinginan itu karena ternyata keinginan itu tidak sedemikian okenya. Hingga rasanya aku harus berhati-hati dengan keinginan sendiri. Kamu bisa tiba-tiba berubah pikiran dan menginginkan yang lain. Aku terkadang jadi takut untuk menginginkan sesuatu karena pada akhirnya aku hanya akan menginginkan hal yang lain dan tidak bisa ditahan-tahan terus saja begitu muter-muter hingga akhirnya ladang koko cruch kejatuhan meteor coklat.

Kemarin aku sempat membaca buku essai isi renungan Haruki Murakami saat dia berlari, di situ dia berkata bahka dia tidak bisa melakukan dua hal secara bersamaan karena yang satu pasti akan menjadi lemah dan tidak maksimal; dia tidak suka itu. Lagi pula dia semenjak dahulu tidak bisa mengerjakan sesuatu yang tidak dia sukai. Hingga akhirnya dia memutuskan untuk melakukan satu hal yang dia sukai benar-benar dan membuat itu menjadi prioritas. Aku jadi berpikir apakah menjadi amfibi yang hidup di dua alam itu sebuah anugerah ataukah terdesak? Anugerah karena dia bisa melakukan keduanya atau dia semata-mata melakukannya untuk survive? Apakah hidup berdasarkan pilihannya lebih baik dari pada hidup yang hanya dilakukan untuk tetap survive? Jadi apa arti hidup itu sendiri kalau tidak ada pilihan dan hanya memilih hidup semata-mata untuk kehidupan. Lalu ada satu paham Stoic yang berkata bahwa apabila tidak punya alasan lain yang bisa dibanggakan dan diperjuangkan untuk hidup, lebih baik mati saja. Gitu masa katanya. Tapi aku juga takut mati. Heu.

Seharian ini aku berencana gila-gilaan untuk kabur dan melarikan diri ke Tibet dan berdiam di sana. Aku merasa bosan bosan bosan. Seperti berenang di danau yang terlalu tenang, dalam dan dingin. Rasanya aku terhisap di dalamnya. Tapi kembali lagi, ini hanyalah sebuah isi otak yang sedemikian sampahnya dan berkerak terlalu lama. Hingga aku pun tidak mengerti, aku hanya meracau. Kalau begitu saya permisi sebentar.  Saya mau cari tahu: Mengapa ada orang yang memiliki hidup begitu fungsional sedangkan yang lain tidak? Seperti segalanya harus memiliki tujuan padahal nyatanya segalanya dimulai dari kekosongan? Mau di mulai dari mana pembicaraan kita sekarang?