22.11.19

amor fati #6

Desember pelan-pelan mengampiri di dapan mata. Tidak merasa khawatir ataupun terlalu senang. Apakah semakin dewasa jadi lebih sering memiliki perasaan yang biasa saja (yang penting tidak capek dan tidak stres) kurasa sudah lebih cukup. Apakah ini yang dinamakan dengan mengatur perasaan sendiri, kalau kekecewaan adalah hal yang lumrah dan penolakan adalah bagian dari hidup yang juga tidak bisa ditolak. 

Apakah mungkin seperti Nietzsche bilang kalau pengalaman dalam hidup seperti penderitaan tidak bisa diiyakan atau ditidakkan, tidak bisa disetujui dan tidak bisa dinegasi. Lalu bagaimana menyikapinya? Dengan menjalani saja dan menerima sesuai dengan porsi realitasnya. Bisa jadi dengan terus menerus reality check itu juga bagus karena bisa jadi ada banyak hal-hal usang yang ada dalam hidup kita namun masih saja menggelayut. 

Pertengahan November ini tidak bisa tidak sibuk, namun setidaknya ia tidak seperti Oktober yang chaos. November ini rasanya seperti bepergian sibuk ke sana kemari, namun dijalani dengan ikhlas dan satu-satu melepaskan 2019. Lagipula sebenarnya keberwaktuan ini bisa dimaknai banyak. Pendek dan panjangnya bisa diatur sesuai dengan keinginan, pun apabila dirasakan panjang sekali toh ternyata banyak harapan dan kejutan di sana-sini. Memang baik rasanya kalau bisa benar-benar sadar pun ketika sedang sibuk atau sedang bersedih, sehingga kesadaran itu bisa membangunkan diri dari siklus sibuk dan sedih yang di situ-situ saja. Jangan-jangan, kelegaan itu ada pada mereka yang menemukan sendiri cerahnya langit setelah badai. Sedahsyat apapun. 

13.10.19

Hari Minggu dan Percakapan







Aku selalu protektif dengan hari Mingguku. Aku ingin bisa menikmatinya pelan-pelan saja, tidak terburu-buru, tidak perlu mandi kepagian, masih mengenakan pakaian rumah yang belel, minum teh hangat di balkon dan membaca. Aku selalu ingin bisa menikmatinya dengan lambat-lambat di tengah orang terdekat dan kusayangi. Mendengarkan cerita keseharian mereka selama seminggu, makan siang bersama, dan bertukar cerita tentang rencana dan mimpi mereka.

Terkadang kita selalu lupa akan hal-hal remeh temeh yang kita punya karena dianggap sudah terlalu biasa, sehari-hari dan mudah didapatkan. Tanpa kita tahu bahwa hal-hal yang kecil-kecil itulah yang menyusun kehidupan kita. Ternyata memiliki percakapan itu adalah hal yang mahal untuk dimiliki seseorang. Setiap orang bisa memiliki percakapan, namun tidak esensinya. Pengalaman yang berbeda, menciptakan keharuan bahwa langkah yang baik adalah dengan jujur dan mengkomunikasikan dengan baik. Apapun itu. Itikad menginginkan semuanya gamblang, jernih dan dibutuhkan kerendahan hati untuk menurunkan ego.

Dari percakapan yang tepat kamu akan menemukan perasaan lega luar biasa. Ada proses sembuh yang dilalui dan kesadaran pun muncul: bahwa perjalanan masih panjang. Kesigapan tetap diperlukan; dengan sudut pandang berbeda. Semua mengalir tak pernah sama. Lalu aku jadi tersadar bahwa aku pun akan terus berbeda dari aku yang kemarin. Aku berubah dan bertumbuh. Keabadian menjadi konsep dan bukan milik kita. Jalan yang ditempuh panjang, berliku, dan tentu tak mudah. Namun, lihatlah jalan ini dan pepohonan di sisi-sisinya tetap hidup, tumbuh, rindang, dan hijau. Kira-kira siapakah yang setia melindungi dan memelihara?








18.8.19

Vegetarian: Cerita tentang Perempuan





Kucing peliharaan tetangga gemar sekali nongkrong santai di balkon rumahku sambil sedikit-sedikit mengantuk. Padahal sudah aku usir berkali-kali karena khawatir dia keasyikan dan tidak mau pulang lagi. Namun, dia tetap asyik tiduran di balkon rumahku dan menemaniku membaca. Kemarin aku memutuskan untuk membaca Vegetarian (2007) karangan Han Kang. Aku sudah mendengar bahwa buku ini buku yang alurnya gelap dan mencekam. Buku ini sudah dibicarakan sedari lama, namun sepertinya memang kegemaranku aalah membaca buku yang sudah lewat-lewat, mengingat menurutku buku itu lekang waktu dan bisa dinikmati kapan saja. Tidak ada waktu yang terlambat untuk membaca sebuah buku menurutku. Semua buku akan menemukanmu tepat pada saatnya. Jadi, tenang dan bacalah sesuai keinginanmu. 

Memutuskan untuk membaca Vegetarian karena secara tidak sengaja buku ini tertimbun di rak buku dan terjatuh karena rak bukuku sudah kepenuhan. Aku membaca versi terjemahan bahasa Indonesia karena versi bahasa Inggrisnya habis terjual. Aku sebenarnya selalu menolak untuk membaca buku terjemahan asing, tapi ternyata untuk buku ini terjemahan dan pemilihan katanya pas. Namun, ada sih satu hal yang membuatku penasaran dari terjemahan bahasa Indonesia buku ini. Mengapa dia memilih kata "wanita" daripada "perempuan"? 

Hal yang menarik dari Han Kang adalah dia memiliki gaya bahasa yang unik karena menggambarkan suatu kejadian dengan intens tapi 'dingin'. Kekuatan penulisannya terdapat pada kekuatan karakter utamanya yang digambarkan dengan jarak dengan misterius. Seolah karakter lainnya ada dalam cerita untuk mempertanyakan karakter utama, mengumbar rasa penasaran mereka, menceritakan tragedi dengan reaksi hiperbola, dan ikut menekan-nekan perasaan pembaca. Di pembukaan bab pertamanya, Han Kang menyuguhkan cerita dari sudut pandang suami Young Jae, yang sempat membuatku senyum sendiri karena ia menggambarkan betapa pasif dan submisifnya Young Jae.

Aku menikahi dia karena dia tampak tidak memiliki pesona ataupun kekurangan khusus. Aku merasa nyaman dengan sifatnya yang biasa-biasa saja, yang tanpa daya pukau atau kesengsaraan. Aku tidak perlu sok hebat untuk mendapatkan hatinya, tidak perlu tergesa-gesa karena takut terlambat saat ada janji dengan dia, serta tak punya alasan untuk merasa percaya diri kerika membandingkan diri dengan laki-laki di majalah mode. (hal.5-6).
Pada tulisan awal ini kurasa aku langsung AHA! Penggambaran peranan perempuan yang biasa-biasa saja agar membuat nyaman dengan pemenuhan peranan istri dari memasak, membereskan rumah, yang tidak menuntut, pendiam, dan pasif digambarkan sebagai peranan perempuan yang dinormalkan. Kemudian cerita pun mengalir dengan keputuasan Young Jae yang suatu hari bermimpi dan memutuskan untuk tidak makan daging dan menolak untuk memasak daging. Sampai akhirnya saat suaminya mengajak makan bersama dengan atasan dan teman-teman kantornya Young Jae pun menolak untuk memakan daging. 

Aku memang tidak terlalu paham dengan kebudayaan, makan, dan kebiasaan normatif orang Korea, namun sepertinya tokoh Young Jae ini sudah melampaui norma masyarakat Korea terutama untuk perempuan. Digambarkan bahwa keluarga, teman-teman, suaminya tidak bisa menerima dan memaksanya untuk makan daging karena daging di Korea merupakan hidangan utama yang hampir selalu ada di makanan mereka. Sehingga ketika daging hilang dalam makanan artinya makanan pun tidak berasa dan menurunkan nafsu makan. Dan seperti yang kita tahu tentu kebahagiaan dan kemakmuran seseorang dimulai dari perutnya, sehingga peran istri untuk memenuhi kebutuhan dan kebahagiaan keluarga dianggap 'hilang'. 

Ternyata tidak hanya sampai di situ saja, susunan peran laki-laki yang kuat di masyarakat sungguh kental dalam novel ini sehingga suami Young Jae pun memutuskan menghubungi orang tua dan keluarga Young Jae dengan mengatakan bahwa Young Jae kini vegetarian dan menolak memasak. Keluarga Young Jae pun luar biasa heboh dan panik, terlebih lagi ayah Young Jae yang meminta maaf pada suaminya karena anaknya gagal menjadi istri yang baik. Dalam acara kumpul keluarga Young Jae 'disidang' dan dipaksa makan daging, kekerasan pun digunakan ayah Young Jae pada dirinya dengan menamparnya. 

Aku terkesan dengan penceritaan buku ini yang tipis-tipis menggambarkan perasaan Young Jae yang ditekan dengan pilihan hidupnya. Pilihannya yang dianggap radikal karena ingin menjadi vegetarian serta menolak mengikuti tatanan norma peranan perempuan dalam keluarga serta masyarakat Korea Selatan. Bahwa ketika perempuan memilih untuk berbeda dari sekelilingnya dianggap sebagai keanomalian yang perlu disembunyikan dan diberantas. Perempuan tidak diberikan ruang bicara dan kebebasan memilih.  Bahwa seringnya kata 'tidak' dan penolakan dari perempuan jarang didengarkan. 
Wanita itu sepertinya merasa cukup puas hanya dengan mengamati semua hal yang terjadi padanya. Tidak, mungkin saja sesuatu yang sangat tragis, hal-hal yang tidak terbayangkan oranglain, sedang terjadi di dalam dirinya. Mungkin wanita itu mengerahkan seluruh tenaga agar bisa hidup berdampingan dengan hal-hal itu. Mungkin ini yang membuatnya tidak punya sisa energi untuk merasa ingin tahu atau mengamati hal-hal yang terjadi dalam kehidupan sehari-hari. 
Yang membuat ia berpikir begitu adalah karena wanita itu terlihat seperti sedang menahan kebrutalan dan kekuatan yang tengah mengunci kebrutalan tersebut, bukan karena melihat mata yang hampa. (hal. 102-103)
Ternyata sebatas bertahan hidup juga bukanlah hidup yang sesungguhnya. Ketika hanya raga saja yang berdiam di dunia, namun gairah dari hidup itu sendiri sudah menguap tetap tidak bisa dikatakan hidup. Terlebih apabila beberapa pilihan direnggut paksa. Salah satu cara yang baik adalah menerima dan hidup berdampingan dengan hal-hal itu, kemudian mengamati diam-diam dari seberang karena tidak merasa memiliki 'kehidupan' yang dijalani oleh orang lain. 
Warna yang jumlahnya tak terhitung seperti saat ini, tentu saja sebelumnya ia juga bisa merasakan keindahan warna, tidak pernah muncul dari dirinya. Kini seakan seisi tubuhnya dipenuhi warna-warna yang kuat, seolah ia tak dapat menahan kekuatan itu lagi sampai akhirnya semua warna menyembur ke luar. Ia hadir dengan sangat intens. Perasaan baru yang sebelumnya tak pernah ia rasakan sekali pun. (hal.120)
Kakak ipar Young Jae menggambar tubuh Young Jae dan membuatnya semacam video semi porno dengan alasan seni dan profesi. Padahal ia hanya ingin memuaskan rasa penasaran, hasrat, dan keinginannya saja. Adapun unsur kekuasaan laki-laki pada perempuan tetap terjadi bahkan di saat titik terendah perempuan sekali pun. Penggunaan tubuh perempuan yang terjadi dengan dalih profesi, seni, atau kesenangan saja. Apakah urusan kepuasan dan kesenangan laki-laki juga tetap menjadi tanggung jawab perempuan? Hingga akhirnya perempuan tetap menjadi objek saja dan akhirnya mereduksi makna subjeknya?




Menurutku novel ini unik dan intens, aku menyukai bagaimana Han Kang piawai bermain gaya bahasa. Aku jadi penasaran apakah semua penulis Asia Timur ini gemar menggunakan kiasan alam dan meminjam latar masyarakat yang angkuh dan dingin? Kiasan yang digunakan Han Kang di akhir cerita yakni keinginan Young Jae untuk menjadi pohon yang kuat menancap di tanah. Keinginannya untuk menjadi kuat dan mengakar, menyatu dan menjadi pepohonan di hutan kembali ke alam semesta.  Sebuah keinginan perempuan untuk bisa diterima keasaliannya, menjadi kuat menancap, dan terhitung di kawanannya. Terkadang aku jadi berpikir di tengah cerita-cerita yang condong maskulin, apakah cerita perempuan harus radikal dan menghantui dulu untuk bisa didengarkan? Tidakkah artinya tatanan masyarakat kita berat sebelah jikalau begitu? Menurutku, Vegetarian ini adalah karya yang demikian, mencuri perhatian. Han Kang memiliki kekayaan dalam permainan kejiwaan tokohnya yang kompleks, trauma masa kecil, dan penceritaan yang dingin seperti menyentuh dinding rumah sakit. Bacalah!





31.7.19

Membicarakan Kesendirian, Menelanjangi Kita





Kayaknya tidak ada yang bisa menyembuhkan yang namanya kesendirian. Namun, bisa jadi juga bahwa kesendirian bukanlah sesuatu yang menakutkan dan mengerikan seperti yang sering diceritakan. Bisakah kita menerima dan berbaikan dengan kesendirian kita? Karena bisa jadi kesendirian itu adalah hal yang natural dan organik, jadi baiknya setiap manusia membiasakan diri. Terkadang aku jadi curiga sebenarnya kesendirian itu menjadi terasa menyedihkan dan merana sekali karena jargon-jargon dan iklan-iklan bahwa menikmati kesendirian dan rasa sepi itu adalah hal yang aneh, tidak hype, gak seru dan tidak dicintai. Jangan-jangan selama ini kita selalu diundang untuk selalu berpartisipasi dalam keramaian dan kemeriahan semata-mata karena kemakan iklan untuk tetap beli produk. Manusia tetap makhluk konsumtif ternyata.

Kemarin ini aku selesai membaca buku Olivia Laing yang berjudul The Lonely City: Adventures In The Art of Being Alone. Menurutku buku ini memang diperuntukkan bagi mereka yang merasa kesepian di tengah-tengah kota besar; dengan melihat dari kacamata kehidupan para pegiat seni. Kehidupan seni ternyata amatlah dekat dengan kesendirian dan glamour sesaat. Terkadang digambarkan pula seperti sebuah topeng yang dikenakan, padahal seringkali mereka 24/7 berjuang melawan depresi dan perasaan tidak diinginkan. 

"Loneliness is difficult to confess; difficult too to categories. Like depression, a state with which it often intersects, it can run deep in the fabric of a person, as much a part of one's being as a laughing easily or having red hair." //p.4

Mengakui bahwa kesendirian sedang dirasakan dibutuhkan sebuah keberanian untuk meletakan seluruh perasaan dan diri di atas meja. Menunjukannya dengan santai dan apa adanya, bahwa inilah diriku yang sebagaimana adanya. Barangkali bisa dibilang itu juga sebuah penerimaan diri yang total. Menyadari dan mengakui suatu state dalam hidup yang ternyata tidak bisa datar-datar saja. 

"There were things that burned away at me, not only as private individual, but also as a citizen of our century, our pixelated age. What does it mean to be lonely? How do we live, if we're not intimately engaged with another human being? How do we connect with other people, particularly if we don't find speaking easy? Is sex a cure for loneliness, and if it is, what happens if our body or sexuality is considered deviant or damaged, if we are ill or unblessed withbeauty? And is technology helping with these things? Does it draw us closer together, or trap us behind screens?" // p.5

Banyak profesi yang berusaha untuk dapat mengeksplor kesendirian ini karena memang sebuah karya akan dipikirkan dari hal-hal personal yang dilakukan sendirian tidak berbondong-bondong. Namun tentu upaya meromantisasi kesendirian kerap kali menghilangkan esensi 'dingin' dan perasaaan tidak diinginkan di dalamnya. Penggambaran kota yang ramai, dengan perasaan lengang dan sepi yang dirasakan mampu membuat perasaanku ikut bersedih ketika membaca buku sendiri hari Sabtu di sebuah kedai kopi. Kurasa meromantisasi kesendirian memang hal yang paling mudah dieksplor dalam seni terutama seni kontemporer.Aku jadi curiga orang-orang urban memang merayakan kesepian selama 24/7 non stop. Tentu masih dengan pengalihan instan pengusir rasa sepi dan bosan. Seolah kita tidak diberikan kesempatan untuk melamun dan menyendiri. Kebutuhkan untuk terus update dan terkoneksi seperti kucing hitam yang mengintai dari kejauhan. Kita tidak bisa berlari-lari dari kesendirian karena tidak akan ada yang bisa, seperti yang dikatakan oleh Epictetus yang menulis: 'For because a man is alone, he is not for that reason also solitary; just as though a man is among numbers, he is not therefore not solitary.' 

Aku jadi teringat ketika duduk sendirian menonton film di bioskop. Tidak ada yang salah dengan menonton sendiri menurutku, apalagi kalau memang kamu suka sekali nonton film, lagi pula di bioskop nonton dan gelap kan? Seharusnya menyenangkan dan tidak terganggu. Namun, entah apa yang terjadi pada hari itu aku tidak merasa demikian, karena aku serasa 'sendiri dan dingin'. 

"She finally burst out: I don't know why people think of hell as a place where there is heat and where warm fires are burning. That is not hell. Hell is if you are frozen in isolation into a block of ice. That is where I have been." //p.26

Membicarakan kesendirian tidak hanya artinya sebuah ketiadaan yang menemani, namun sebuah pengasingan manusia oleh karena konstruksi sosial juga. Seperti anggapan pandangan masyarakat yang berbeda dengan kenyataan diri, bahwa terkadang hal-hal yang dibuat ideal dalam masyarakat seringnya membatasi manusia dalan sebuah kotak. Ketika diri berbeda dengan lingkungan sekelilingnya sangat mungkin menimbulkan rasa asing dan isolasi. Di situlah alienasi terjadi.

Kesendirian tidak bisa dibicarakan karena seperti tabu yang membuat semua jengah. Sepertinya tidak ada obat dan perilaku orang sekeliling yang pas. Rasanya memang sesuatu yang terjadi di dalam, tidak bisa dilakukan beramai-ramai. Harus diri seniri yang menghadapi dan menyelaminya. Duduk berdua, tatap mata, dan mengobrol baik-baik. Menjelaskannya dengan rinci bahwa beginilah keadaan yang hanya perlu diterima. 







/ / /









24.2.19

Merekam Percakapan Sebuah Kota





Bergulat dengan hidup barangkali salah satunya adalah dengan menolak untuk terus menerus tidur-tiduran ayam di tempat tidur saat sedang flu dan hari mendung. Memilih untuk duduk-duduk santai di balkon, melihat tanaman Ibu, menyesap teh hijau, lalu membaca buku menjadi salah satu pilihan kegiatan yang menyegarkan pikiran dan tidak berisik. Kita selalu memiliki banyak pilihan dalam hidup, namun manusia cenderung memilih yang itu-itu saja sebagai ungkapan alami atas dirinya.

Tetap bertahan dengan alasan yang sama yakni: waktu dan distraksi teknologi, aku kembali memilih buku yang tipis-tipis untuk bisa dibawa enteng ke mana-mana dan kujadikan sebagai sebuah buku fiksi pertama yang kubaca di tahun 2019. Kurasa aku terlalu optimis dengan jumlah bacaan tahun 2019 ini karena seringnya aku hanya duduk bengong memandang layar handphone dan membaca berita di twitter atau line today. Kurasa aku berkembang menjadi pembaca buku yang praktikal dan 'mau tak mau' harus membaca bukan karena dari ketertarikan untuk membaca buku tersebut, namun ada perasaan merasa perlu membaca karena FOMO (fear of missing out hahahaha gila). Padahal perlu disadari bahwa setiap buku ada penikmatnya sendiri dan kamu tidak perlu menjadi merasa bersalah kalau kamu gak cocok sama Haruki Murakami dan hanya suka buku essaynya What do you talk about when I talk about writing? dan novel absurdnya yang berjudul Kafka on the Shore saja. Sudah-sudah, tidak semua buku diciptakan untuk kamu, kok hehe.

Beberapa waktu lalu aku baru saja menyelesaikan buku kumpulan cerita  Umar Kayam berjudul Seribu Kunang-kunang di Manhattan. Bukunya tipis-tipis saja dan enak untuk dibawa ke mana-mana karena tidak besar. Dalam buku ini dipenuhi dengan percakapan-percakapan dengan kedekapan antar personal yang berbeda-beda. Percakapan yang timpang satu sama lainnya, percakapan yang mendominasi untuk sebuah tujuan adapun percakapan yang ngawur tidak diketahui kebenarannya. Ada sebuah kebutuhan dalam tokoh-tokoh cerita untuk saling bertukar pesan. Lalu, aku suka sekali dengan cerpen Seribu Kunang-kunang di Manhattan. Percakapan Marno dan Jane akan hal yang itu-itu lagi, kebosanan mereka, dan kerumitan hubungan mereka sebagai pasangan.

"Bulan itu ungu, Marno."
"Kau tetap hendak memaksaku untuk mempercayai itu?"
"Ya, tentu saja, kekasihku. Ayolah akui. Itu ungu, bukan?" 

Adapun salah satu cerita di dalam buku ini yang menurutku menarik; berjudul Istriku, Madame Schlitz, & Sang Raksasa. Ketika istri si tokoh utama yang luar biasa bosan dan ngeri dengan New York kota besar. Bagi istrinya New York adalah salah satu raksasa pemakan manusia. Kemudian sang istri bercerita pada suaminya bahwa ada tetangga mereka yang bernama Madame Schlitz yang amat sangat nyentrik. Sang istri dan Madame Schlitz pun akhirnya bisa saling berteman dan bercerita karena saling penasaran satu sama lain. Lalu, terbentuklah percakapan-percakapan di kota besar yang acuh itu.

Istriku tahu sekarang, siapa Enrich itu. Rupanya Madame Schlitz tahu kalau nama Erich masih perlu penjelasan.
“Semua yang aku cintai bernama Erich, Nyonya. Suamiku bernama Erich, anjingku bernama Erich, dan kalau aku punya anak laki-laki, namanya akan Erich juga.”
“Itu sungguh menarik, Madame.”

Hidup yang dipenuhi oleh percakapan-percakapan menandakan kita adalah makhluk komunal dan sosial yang membutuhkan orang lain untuk kita tetap bisa bertahan dan mewaraskan diri. Bahwa tetap kita membutuhkan orang lain untuk menjadi teman bicara dan memiliki percakapan. Apakah kini percakapan adalah barang yang mahal karena kita cenderung membicarakan diri sendiri yang itu-itu lagi. Apakah pertukaran percakapan adalah bentuk kemewahan karena kita mencipta barikade dalam diri, mencipta jarak guna pertahanan diri.

Aku rasa setiap karya yang dilahirkan berasal dari sebuah tragedi. Entah tragedi itu besar dan berdarah-darah ataupun dia tragedi yang tidak disadari karena sudah terlalu biasa. Tragedi yang menurutku alus banget adalah kehilangan percakapan. Percakapan yang bisa jadi tidak dimiliki setiap orang karena kita sudah egois dan abai dengan orang lain atau karena kita sudah ketakutan memiliki hubungan yang lebih dalam dengan orang lain. Menurutku Umar Kayam mampu menyuguhkan frame cerita tersebut dia mampu membungkus tragedi dan realitas ini di tengah hal-hal yang kita anggap keseharian dan biasa-biasa saja. Bacalah!

15.11.18

Lucu juga ya....


Mempunyai perjalanan yang menghabiskan waktuku selama empat jam perjalanan membuatku menjadi terbiasa dengan perpindahan, berdesakan dengan manusia-manusia lain yang kulitnya nempel dengan badanku, musti terbiasa dengan suhu tubuh orang lain yang  panas buat aku, bunyi nafas, obrolan dengan volume super kencang dan kontak mata yang tiba-tiba. Aku terbiasa. Bahkan aku tahu titik mana aku harus menunggu dan di titik mana dalam KRL yang paling aman dan memudahkanmu keluar ketika gerbong penuh luar biasa. Aku pun sudah hafal benar bahwa untuk mempunyai pijakan kaki yang kuat dan tidak akan tumbang saat disenggol ibu-ibu, kamu harus merenggangkan telapak kakimu sedikit dan bergantungan. Meski rasanya hati dan mentalmu rontok begitu melihat gerbong perempuan berjubel luar biasa. Ya udah gitu. 

Kemarin pukul 22:38 aku masih berdiri di sebuah gerbong menuju Stasiun Rawa Buntu dan memandangi pintu keluar dengan kacanya yang gelap malam memandangi pantulan diriku sendiri. Lalu berpikir bahwa orang gila macam apa pantulan bayangan ini, dengan mata lelah tidur hanya 4 jam sehari, bangun pagi, terburu-buru dan tidak mandi. Apakah semua ini adalah sebuah perjalanan yang senyatanya, apakah aku akan baik-baik saja? Apakah 10 tahun dari sekarang aku akan masih merenungi banyak keputusan? Apakah aku akan menyelam ke kedalaman? Apakah aku memilih jadi petapa di atas gunung? Atau memilih menjadi kasir di Indomaret daerah Ciamis sana? Apakah aku memiliki ruang untuk diriku sendiri? 

Lucu juga ya, berdiri melihat pantulan diri memikirkan yang diluar dari kontrol diri padahal manusia memang tidak bisa melampaui time and space gitu. Duh, aku cuman butuh mandi air hangat, keramas dan minum teh hijau saja. 

Lucu juga ya. 

22.8.18

Rumah Kertas: Sebuah Ajakan Membaca


Semenjak hobi membaca bergeser jadi hobi membeli buku tanpa pernah tahu kapan mengumpulkan niat untuk dapat mulai membaca lagi, rak buku pun menjadi super penuh dengan banyak buku yang dibeli impulsive saja. Aku jadi tidak cermat membeli karena sekedar lapar mata. Sebenarnya aku juga tidak mau jadi pengecut dengan menyalahkan internet atau sosial media sebagai musabab utama dari menurunnya minat baca. Mungkin memang otakku kadang sudah terlalu lelah untuk membaca buku dan hanya ingin mencari tahu yang sedikit-sedikit saja dengan instan atau leha-leha nonton series drama korea. Itu jauh lebih menyenangkan dan mudah.

Lepas dari berbagai hiburan instan di sosial media yang tiap hari adaaaa aja yang viral dan hobi baru liatin foto anak anjing di Instagram yang bulunya ‘diwut-diwut’, akhirnya aku bisa bosan juga. Di tengah kegemaran menonton series drama korea yang menurutku sangat menolong jiwa-jiwa lelah setelah hari kerja dan bertemu banyak orang, bisa juga akhirnya memencet tombol pause dan mencoba log in lagi di dunia nyata. Menurutku untuk mencoba log in ke hidup yang nyata sering kali kita gagal paham karena otak keburu ke mana-mana. Panik dengan WA kantor, panik liat WA klien, cek email, twitter, IG dan sebagainya. Hih. Lalu aku juga baru sadar kalau banyak sekali orang yang mulai bosan dengan sosial media dan mencoba untuk detox. Enak juga sebenarnya bisa detox sosial media dan tidak terpapar, lalu pindah manual. Namun kenyataannya, ada banyak tanggung jawab yang perlu dilakukan berhubungan dengan gadget dan sosial media.

Untuk aku pribadi, mengalihkan diri dari gadget adalah pilihan yang rumit karena tidak mungkin bisa lepas gadget dengan tidak menggunakannya sama sekali. Beralih dari pengguna gadget yang betul-betul nempel kayak perangko ke pengguna yang fungsional saja memang butuh sebuah kerelaan untuk mengurangi kepo yang berlebihan. Perlu ada jeda untuk segala sesuatu memang.




Kemarin ini aku membaca sebuah buku super imut dan tipis, namun berpengaruh besar pada nafsu membacaku yang sedang lemah, letih, lesu dan berbeban berat. Buku ini berjudul Rumah Kertas karya Carlos Maria Dominguez, terbitan Marjin Kiri. Bukunya hanya 76 halaman saja saudara-saudara, namun di halaman pertama kau akan disuguhkan pada sebuah tragedi yang konyol namun juga mengenaskan. Bagaimana penulisan buku ini mengalir begitu saja dengan beberapa kejadian yang menggelitik perut, lalu menampilkan sedikit fakta dan kebiasaan penikmat buku. Kita akan berakhir dengan mengangguk-angguk dan berkata: “Ih, bener banget!”

Mengawali halaman pertama kamu akan penasaran dan mengira buku ini berisi cerita detektif, namun ternyata lebih dari itu. Kamu akan disambut dengan awalan cerita ganjil, seorang professor sastra bernama Bluma yang tewas tertabrak mobil saat sedang berjalan sambil membaca buku puisi Emily Dickson. Lalu ada kalimat yang menarik, begini bunyinya, ‘Buku mengubah takdir orang-orang dan Bluma termasuk korban buku-buku.’ Ada lagi celotehan tokoh utama yang bercerita bahwa neneknya sering berkata, “Sudah, buku itu berbahaya tau.” Lalu kehebohan orang sekitar Bluma karena kematiannya yang aneh bin ajaib hingga menimbulkan pertanyaan dan debatan, salah satunya dengan ungkapan lucu menurutku, “Bluma mati karena mobil, bukan karena buku.”

Kemudian di samping berita kematian Bluma, kau akan diperkenalkan dengan seorang pencinta buku nyentrik yang rumahnya penuh dengan buku-buku. Sampai ia memutuskan untuk tidak mandi air panas lagi karena ada koleksi bukunya ia taruh di kamar mandi dan ia khawatir uap-uap air panas akan membuat bukunya berjamur (hehe). Ia pun pernah menjual mobilnya agar garasinya kosong dan bisa menaruh banyak-banyak koleksi bukunya!





Sore pukul empat dan baru saja beres-beres rumah karena baru saja renovasi dan pindahan. Tetap saja banyak yang perlu disapu, dilap dan dibereskan. Kurasa aku adalah seseorang yang membereskan rumah dengan pelan-pelan dan tidak tergesa-gesa. Aku tidak menyukai ketergesaan yang mendadak sesak. Walaupun tiap hari aku tidak bisa juga memaksakan untuk melakukannya lebih lambat. Aku selalu terburu-buru dan panik. Kenapa ya?

Dengan adanya kebiasaan harus menyelesaikan segalanya dengan rampung dan tepat pada waktunya, akhirnya itu pun membuat kebiasaan membaca dan berjalan kaki menjadi semacam lomba lari marathon. Sudah lama sekali aku tidak membaca buku yang benar-benar membaca dengan tekun dan memperhatikan dengan details sana sini.

Aku pribadi merasa buku ini seperti diajak berkenalan dengan pencinta buku ekstrim di mana beberapa kebiasaan membaca buku bisa digambarkan dengan cerkas dan hangat. Aku sesekali tergelitik dengan mengingat bagaimana upaya membaca itu sendiri dari menandai buku, membuat catatan, membaca dua sampai tiga buku sekaligus karena harus mencari refrensi, mencari buku-buku jadul yang bisa saja harganya amit-amit.

Sesungguhnya ini adalah kali pertamaku mengenal dan membaca buku Carlos Maria Dominguez seorang penulis asal Argentina. Beliau mampu mendeskipsikan suasana dengan detail yang pas, khas dan lugas. Bahkan dalam buku Rumah Kertas ini dia menuliskan ceritanya dengan sangat singkat. Hingga saat selesai membacanya aku ingin membaca lagi dan membuat notes buku-buku apa saja yang menarik disebutkan dalam cerita. Buku ini seperti mempunyai kenalan seseorang yang massive membaca buku dan kamu duduk berdua minum teh hangat berbagi pengalaman membaca buku. Buku  Rumah Kertas ini amat nikmat dibaca, mungkin kamu hanya butuh satu atau dua gelas teh buah hangat saja untuk dapat habis menyelesaikan buku ini.

Selamat membaca!


14.7.18

Es Kopi Susu




Sebuah Cafe di BSD

Ucapan paling manis yang disampaikan seorang kawan akhir-akhir ini adalah: Semoga ada kebaruan di dalam rutinitasmu! Setelah melewati setengah tahun yang sebagian besar dilewati dengan panik-panik yang tidak berfaedah dan scroll sosyel media naik turun atas bawah demi sebuah details yang gak penting-penting-amat-buat-idup-lo, akhirnya berhasil juga melewati satu tahun berkomitmen pada suatu hal. Tinggal menunggu hasil dan ini yang paling mendebarkan. Ada baiknya juga ya ternyata mengalami kekecewaan perihal tidak memiliki pulang. Setelah sekian lama hati kepenuhan diisi dan dimiliki orang lain, lalu akhirnya dia menjadi tidak milik siapa-siapa, sempat sedikit jet leg. Namun, ternyata banyak hal yang baik-baik di sekitar kita yang mampu menyembuhkan. Seperti tidak sengaja menemukan sebuah cafe yang buka di pagi hari dan tenang. Semuanya asing dan tidak dikenal. Lalu mendengarkan lagu yang tidak pernah kamu dengarkan sebelumnya. Sepertinya aku seseorang yang selalu membutuhkan spasi dan 'mengisi kembali'. Tadinya aku memesan Cappucino seperti biasa sambil duduk manis membaca, namun sepertinya ada hari-hari di mana mood kamu es kopi susu.




Aku sedang sibuk mengaduk-aduk es kopi susu, menurutku memesan es kopi susu selalu paling aman karena ya pasti rasanya bisa stabil dan kamu tidak perlu memberikan ekspektasi kalau rasanya harus begini begitu karena rasanya ya begitu. Secukupnya tidak berlebihan. Merasakan yang nyata realitas tidak berandai-andai. Seperti membuka semua indera untuk banyak kemungkinan yang bisa saja datang atau tidak datang. Tapi ya, terkadang cara kerja indera kita tidak bisa dikatakan sebagai kenyataan yang absolut, karena sekali lagi itu hanya permukaan saja, wujud saja. Realitas bisa jadi lebih dari itu dan perlu menyelam lebih dalam untuk akhirnya mengetahui. Itu pun mengetahui yang ‘itu-itu’ saja karena sesungguhnya apa yang kita ketahui belum tentu juga kebenarannya. Kemudian untuk mencari kebenaran sendiri tetap saja melewati kajian subjektif kita juga. Mengulang sedikit tentang bacaan mengenai Xenophanes, dia pernah berkata bahwa “And the clear truth no man has seen nor will there be anyone in a position of knowing concerning the gods and the things I say about everything: for even of he hit the mark, saying things that are spot on the truth, yet still he does not himself know; but belief extends across all.” (Xenophanes, fragment 34). Bahwa apabila seseorang mengatakan bahwa ia mengetahui segalanya sebenarnya ia tidak tahu melainkan hanya percaya bahwa ia telah tahu segalanya. Kebenaran yang kamu kira tahu belum tentu suatu kebenaran yang sebenarnya karena bisa saja itu hanya karena kamu mempercayainya buka pengetahuan sebagaimana adanya. Kebenaran yang realitas tidak bisa sekedar melihat dari perspektif kita saja karena menurut Xenophanes kita hanya mengetahui pemahaman di permukaan saja dan kita tidak akan pernah tahu kebenaran yang absolut.



Menyukai bayangan dan cahaya 


Tiba-tiba cafe ini wangi daun mint yang segar dan es kopi susuku sudah mulai sedikit berembun di gelasnya. Aku jadi ingat akan perkataan seorang kawan yang setiap kali memesan minuman pasti dia akan memesan ice lemon tea. Entah karena sebuah komitmen atau ketakutannya akan mencoba hal-hal baru, aku juga tidak bertanya lebih jauh sih. Sepertinya kebiasaanku untuk bertanya hal-hal kecil-kecil kepo gitu perlu sedikit dikurangi karena memperhatikan detail ternyata seperti orang alergi yang kumat dengan menyebalkan dan tidak bisa dibendung. Kembali lagi pada komitmen, aku selalu kagum dengan orang-orang yang memiliki komitmen untuk pilihan-pilihannya. Menjalaninya tanpa ampun dan dilakukan terus menerus tanpa bolong-bolong. Bisa jadi seseorang dilihat dari seberapa tahan bantingnya dia pada rutinitas dan komitmen yang membosankan bahkan menyebalkan. Seperti mengerjakan hal-hal kecil remeh temeh dengan tanggung jawab karena kelak akan dipercayakan hal-hal besar. Sepertinya tulisanku sudah ke mana-mana. Es kopi susu sudah habis.






19.6.18

Uraian Singkat tentang Membuang



Sedikit terkesima juga dengan hal-hal sekitar yang berubah dan dalam diri yang pelan-pelan berganti. Memang benar kata orang apabila untuk bermekaran memang perlu melewati masa-masa menggugurkan kelopak. Hari-hari liburan Lebaran yang dilewati dengan membereskan rumah dan membuang banyak barang-barang yang tidak perlu. Kemudian membulatkan tekad dan niat untuk hari-hari depan. Lucu juga ya, untuk mengambil keputusan aku seperti menempelkan stiker yang miring di jendela lalu aku berjalan menjauh hanya untuk menimbang-nimbang benar gak ya?  Huh.

Banyak rencana dan goal yang perlu diatur maju mundur dan dipikir-pikir. Kemudian jadi kesenangan karena memiliki ‘bengkel’ sendiri dengan banyak agenda tapi aku ingin memastikan diriku sendiri tidak akan kehilangan diri sendiri dengan melewati duduk-duduk sendiri minum kopi susu tanpa percakapan, meski kadang aku kangen juga memiliki ‘percakapan’. Tapi sudahlah, ada beberapa yang harus ditunda karena ya barangkali aku belum menemukan. Biarkan pertemuan-pertemuan dengan siapa entah menjadi sebuah takdir (?) yang tidak direncanakan.

Kembali lagi ke urusan membereskan rumah dan kamar yang menelurkan sampah-sampah kenangan. Kubuang semua. Gila. Perasaannya senang sekali dan menang sekali. Sadis deh setelah kupikir-pikir, jangan-jangan aku ini semacam kekasih yang psycho kali ya karena diganduli hal-hal ga penting yang manja dan melankolik. Plis maafkan aku.

Kemudian kemarin pada saat membereskan ini itu, aku menemukan kalau aku benar-benar penyimpan yang ulung, masa aku masih saja menyimpan notes-notes di Taiwan dari teman-teman tentang hal-hal remeh temeh dan manis. Mungkin hal-hal detail ini yang aku selalu suka dan sebagai salah satu bagian krusial dari diriku. Sepertinya itu tidak akan bisa terpisah. Meski aku selalu berusaha untuk memberikan jeda pada suatu objek yang ingin aku perhatikan dan tulis, namun selalu aku hanyut bersamanya. Rasa-rasanya aku bukan Sartre yang bisa memberikan jeda pada apapun yang akan dia tulis.

Lepas dari itu, aku rasa penting juga untuk lepas dari keakuan dan segala pandangan yang subjektif. Ya bahasa kerennya melepaskan diri dari delusionalnya kali ya. Hehe.

11.6.18

Pulang


Beberapa hari belakangan ini aku senang sekali berjalan kaki dan pergi ke suatu tempat sendirian. Seperti mendapatkan suatu kenyamanan bertemu dengan orang asing yang benar-benar tidak kenal, duduk di tempat itu dan memperhatikan. Betapa nyamannya tidak perlu terus-terus maintain obrolan karena semata-mata sedang malas ngobrol, threshold sosialisasi udah ketinggian, ingin diam saja membaca,  menulis jurnal, beradu di pikiran sendiri dan menikmati segalanya sendiri pelan-pelan. Meski terkadang orang lain ingin terus-terusan berbicara atau ngobrol, namun aku yang sedang egois tidak ingin mendengarkan. Sering kali terjadi. 

Ketika sedang biru lebam, memang baik untuk diam. Menyesap kopi kesukaan, membaca buku baru, menciumi wangi halamannya, menulis sendirian dan bersembunyi. Bukannya menciptakan tembok, hanya saja terkadang bersembunyi itu baik, tak perlu repot menjaga perasaan orang lain. 

Beberapa hari kemarin, hatiku berkelana terlalu jauh dan tidak waspada. Lalu aku kehilangan. Lalu aku  merasa ditinggalkan. Lalu serta merta ‘pulang’ yang aku miliki jadi lesap. Lalu aku sedih karena tidak memiliki pulang. Aku bersedih karena ternyata ‘pulang’ yang aku maksud terlalu fana untuk dititipkan pada orang lain. Terlalu naif memang.

Entah sebuah pertanda yang mengiringi, tiba-tiba aku menemukan sebuah tulisan yang begini bunyinya: “Ketika tidak tepat dan bukan waktunya, memang serasa tidak sejiwa.” Iya juga sih. Lalu berlanjut dengan ya barangkali memang pulang tidak dimiliki semua orang. Barangkali memang ada orang yang ditakdirkan berkelana seperti di puisinya Chairil Anwar: “Sedang aku mengembara serupa Ahasveros.” 

Bisa jadi orang-orang yang pernah hadir sementara itulah yang mempunyai misi dan diutus semesta agar kamu dapat pulang ke dirimu sendiri. Bisa jadi pulang artinya adalah dirimu sendiri. Dia tidak di luar namun di dalam. Dia tidak ngontrak di luar tubuh. Namun bisa jadi pulang artinya diri. 


amor fati #6

Desember pelan-pelan mengampiri di dapan mata. Tidak merasa khawatir ataupun terlalu senang. Apakah semakin dewasa jadi lebih sering memili...