15.5.17

Mengalami Senin Sore




Hari Senin yang random adalah duduk memandangi layar komputer di kantor dan berpikir: Apa rasanya menjadi pelatih lumba-lumba? Pasti asyik kan! Meski saya tidak jago berenang dengan gaya yang itu-itu saja, peduli setan. Saya mau kok berenang dengan lumba-lumba. Bermain-main dan berenang ke kedalaman. Mencobai rasa takut diri sendiri, denyut rasa bahaya di otak. Saya suka. 

Ada  hal yang nampaknya sedikit mengganggu, sudah hampir tiga bulan lebih saya tidak menggunakan jam tangan di tangan kiri saya. Alasannya karena rusak, batrenya habis dan belum saya ganti. Sesungguhnya saya menggunakan jam tangan bukan untuk fungsi menunjukkan waktu. Saya menggunakan jam tangan  sebagai penanda mana kanan dan mana kiri dengan cepat. Kelemahan saya adalah saya sulit membedakan kanan dan kiri. Itu tidak sama dengan atas bawah, depan belakang. Saya membutuhkan beberapa detik untuk membuat gestur seperti menulis dengan tangan kanan saya, baru saya tahu  itu kanan. Saya selalu menyelamatkan diri saya dengan memakai jam tangan ke mana pun saya pergi. Itu adalah comfort zone saya. 

Saya jadi teringat kalau saya tidak mendaftarkan diri saya sebagai anggota paskibra saat SMA karena saya sulit membedakan kanan kiri dengan cepat. Saya akan deg-degan setengah mati dan gelisah. Akhirnya saya mengakali segalanya dengan menggunakan jam tangan. Tidak ada yang tahu kalau saya kesulitan karena saya tidak pernah bercerita. Ini menyebalkan sekali, saya sering diomeli karena tidak bisa memberi arahan jalan yang tepat. Menurut saya itu memalukan harus mengambil jeda sejenak untuk berpikir dan orang lain pasti tidak sabaran dengan hal ini. Maka itu saya menggunakan jam tangan sebagai pengingat. Mengenakkannya di tangan kiri, hingga semua lebih mudah. Tidak pakai drama kebingungan. 

Lalu beberapa bulan lalu jam tangan saya habis batrainya dan saya belum sempat menggantinya. Akhirnya saya memutuskan untuk tidak pakai dulu, saya harus bisa membedakan kanan kiri. Berlatih dan menjadi terbiasa. Memang masih lama dan sering reflek bertanya: Kiri yang mana sih? Kanan yang mana sih? Lalu akhirnya mengaku pada teman-teman dan orang lain kalau saya kesulitan membedakan kanan kiri dan meminta maaf karenanya. Sesekali akhirnya menjadi bahan bercandaan saya. 

Upaya menertawakan diri sendiri dan menerima kelemahan. Saya belajar bahwa tidak selamanya saya harus terlihat kuat dan pintar untuk disayangi orang lain, karena pada dasarnya manusia memiliki banyak hal yang vulnerable dan itu normal. Menerima kelemahan tidak berarti menyerah namun tetap mengusahakan yang terbaik dan memberikan andil untuk sekitar, sesuai kemampuan, sesuai porsi.

Di sore hari tadi, saya benar-benar menikmati secangkir teh manis hangat saya. Saya selalu merasa teh manis hangat terenak adalah teh manis di sore hari sepulang kantor. Ada yang magis di sana, perasaan-perasaan haru saya masih bertahan sampai hari ini, ketika penantian seharian berbalas. Seolah kau pun jadi sadar segala yang baik akan datang dan pengharapan itu nyata. Memaknai kata 'percaya' dan bergerak. Terus bergerak. Mengetahui bahwa segala niat dan bakti kemurniannya harus diuji. Ditempa waktu. Karena sekali lagi; segala milikku adalah kepunyaan-Mu. 


7.5.17

amor fati #5


Tadi Ibu bertanya, menurut kamu apa yang seharusnya dimiliki seseorang di zaman ini, terutama di Indonesia? Kami sedang duduk-duduk, Ibu membaca koran dan saya bermain hape. Sepertinya Ibu sengit betul melihat njelimetnya kasus-kasus-fanatik-agama. Pokoknya dia betul-betul rajin forwardin whatsapp berita-berita. Saya jujur jarang membacanya karena puanjaaaaang sekali harus scroll terus-terusan. Jadi, berakhirlah saya yang dungu dan tidak tahu berita di rumah. Diceng-cengin terus oleh Babeh.  

Kembali lagi ke pertanyaan tadi, apa yang penting dimiliki seseorang di zaman ini, terutama di Indonesia. Saya tadinya reflek dan mantap mau menjawab: iman. Namun tidak jadi, karena saya dengan sotoynya terlintas ayat "Iman tanpa perbuatan adalah mati." Jadi apa dong? Rasanya orang Indonesia sudah banyak orang berpendidikan, beragama, beriman, bahkan jadi fanatik. Lalu? 

Barangkali ya yang kita butuhkan adalah akal sehat, yang bisa membedakan mana yang benar dan mana yang tidak. Eh lalu Ibu tanya lagi, kalau begitu apa itu kebenaran? Ya juga sih, kebenaran dari aspek mana karena ukuran nilainya pasti luas dan akan bertabrakkan arti kebenaran dari kacamata agama, iman, moral, budaya, aturan, dst, dst. Pokoknya irisannya banyak, ruwet, pusing, dan bikin mata jereng. 

Sudahlah untuk membuat lebih simpel otak saya yang cuman seuprit ini, bagaimana kalau kita mengambil irisan kebenaran yang tetap memihak pada kemanusiaan dan tidak merugikan orang lain. Tetap menghormati manusia sebagai individu yang mempunyai harkat dan derajat. 

Ah, udah gitu kali lah ya... hih saya sebal karena tidak tahu dan kurang baca. Baru sadar ya, kalau pekerjaan rumahnya sekuintal?