24.2.19

Merekam Percakapan Sebuah Kota





Bergulat dengan hidup barangkali salah satunya adalah dengan menolak untuk terus menerus tidur-tiduran ayam di tempat tidur saat sedang flu dan hari mendung. Memilih untuk duduk-duduk santai di balkon, melihat tanaman Ibu, menyesap teh hijau, lalu membaca buku menjadi salah satu pilihan kegiatan yang menyegarkan pikiran dan tidak berisik. Kita selalu memiliki banyak pilihan dalam hidup, namun manusia cenderung memilih yang itu-itu saja sebagai ungkapan alami atas dirinya.

Tetap bertahan dengan alasan yang sama yakni: waktu dan distraksi teknologi, aku kembali memilih buku yang tipis-tipis untuk bisa dibawa enteng ke mana-mana dan kujadikan sebagai sebuah buku fiksi pertama yang kubaca di tahun 2019. Kurasa aku terlalu optimis dengan jumlah bacaan tahun 2019 ini karena seringnya aku hanya duduk bengong memandang layar handphone dan membaca berita di twitter atau line today. Kurasa aku berkembang menjadi pembaca buku yang praktikal dan 'mau tak mau' harus membaca bukan karena dari ketertarikan untuk membaca buku tersebut, namun ada perasaan merasa perlu membaca karena FOMO (fear of missing out hahahaha gila). Padahal perlu disadari bahwa setiap buku ada penikmatnya sendiri dan kamu tidak perlu menjadi merasa bersalah kalau kamu gak cocok sama Haruki Murakami dan hanya suka buku essaynya What do you talk about when I talk about writing? dan novel absurdnya yang berjudul Kafka on the Shore saja. Sudah-sudah, tidak semua buku diciptakan untuk kamu, kok hehe.

Beberapa waktu lalu aku baru saja menyelesaikan buku kumpulan cerita  Umar Kayam berjudul Seribu Kunang-kunang di Manhattan. Bukunya tipis-tipis saja dan enak untuk dibawa ke mana-mana karena tidak besar. Dalam buku ini dipenuhi dengan percakapan-percakapan dengan kedekapan antar personal yang berbeda-beda. Percakapan yang timpang satu sama lainnya, percakapan yang mendominasi untuk sebuah tujuan adapun percakapan yang ngawur tidak diketahui kebenarannya. Ada sebuah kebutuhan dalam tokoh-tokoh cerita untuk saling bertukar pesan. Lalu, aku suka sekali dengan cerpen Seribu Kunang-kunang di Manhattan. Percakapan Marno dan Jane akan hal yang itu-itu lagi, kebosanan mereka, dan kerumitan hubungan mereka sebagai pasangan.

"Bulan itu ungu, Marno."
"Kau tetap hendak memaksaku untuk mempercayai itu?"
"Ya, tentu saja, kekasihku. Ayolah akui. Itu ungu, bukan?" 

Adapun salah satu cerita di dalam buku ini yang menurutku menarik; berjudul Istriku, Madame Schlitz, & Sang Raksasa. Ketika istri si tokoh utama yang luar biasa bosan dan ngeri dengan New York kota besar. Bagi istrinya New York adalah salah satu raksasa pemakan manusia. Kemudian sang istri bercerita pada suaminya bahwa ada tetangga mereka yang bernama Madame Schlitz yang amat sangat nyentrik. Sang istri dan Madame Schlitz pun akhirnya bisa saling berteman dan bercerita karena saling penasaran satu sama lain. Lalu, terbentuklah percakapan-percakapan di kota besar yang acuh itu.

Istriku tahu sekarang, siapa Enrich itu. Rupanya Madame Schlitz tahu kalau nama Erich masih perlu penjelasan.
“Semua yang aku cintai bernama Erich, Nyonya. Suamiku bernama Erich, anjingku bernama Erich, dan kalau aku punya anak laki-laki, namanya akan Erich juga.”
“Itu sungguh menarik, Madame.”

Hidup yang dipenuhi oleh percakapan-percakapan menandakan kita adalah makhluk komunal dan sosial yang membutuhkan orang lain untuk kita tetap bisa bertahan dan mewaraskan diri. Bahwa tetap kita membutuhkan orang lain untuk menjadi teman bicara dan memiliki percakapan. Apakah kini percakapan adalah barang yang mahal karena kita cenderung membicarakan diri sendiri yang itu-itu lagi. Apakah pertukaran percakapan adalah bentuk kemewahan karena kita mencipta barikade dalam diri, mencipta jarak guna pertahanan diri.

Aku rasa setiap karya yang dilahirkan berasal dari sebuah tragedi. Entah tragedi itu besar dan berdarah-darah ataupun dia tragedi yang tidak disadari karena sudah terlalu biasa. Tragedi yang menurutku alus banget adalah kehilangan percakapan. Percakapan yang bisa jadi tidak dimiliki setiap orang karena kita sudah egois dan abai dengan orang lain atau karena kita sudah ketakutan memiliki hubungan yang lebih dalam dengan orang lain. Menurutku Umar Kayam mampu menyuguhkan frame cerita tersebut dia mampu membungkus tragedi dan realitas ini di tengah hal-hal yang kita anggap keseharian dan biasa-biasa saja. Bacalah!

15.11.18

Lucu juga ya....


Mempunyai perjalanan yang menghabiskan waktuku selama empat jam perjalanan membuatku menjadi terbiasa dengan perpindahan, berdesakan dengan manusia-manusia lain yang kulitnya nempel dengan badanku, musti terbiasa dengan suhu tubuh orang lain yang  panas buat aku, bunyi nafas, obrolan dengan volume super kencang dan kontak mata yang tiba-tiba. Aku terbiasa. Bahkan aku tahu titik mana aku harus menunggu dan di titik mana dalam KRL yang paling aman dan memudahkanmu keluar ketika gerbong penuh luar biasa. Aku pun sudah hafal benar bahwa untuk mempunyai pijakan kaki yang kuat dan tidak akan tumbang saat disenggol ibu-ibu, kamu harus merenggangkan telapak kakimu sedikit dan bergantungan. Meski rasanya hati dan mentalmu rontok begitu melihat gerbong perempuan berjubel luar biasa. Ya udah gitu. 

Kemarin pukul 22:38 aku masih berdiri di sebuah gerbong menuju Stasiun Rawa Buntu dan memandangi pintu keluar dengan kacanya yang gelap malam memandangi pantulan diriku sendiri. Lalu berpikir bahwa orang gila macam apa pantulan bayangan ini, dengan mata lelah tidur hanya 4 jam sehari, bangun pagi, terburu-buru dan tidak mandi. Apakah semua ini adalah sebuah perjalanan yang senyatanya, apakah aku akan baik-baik saja? Apakah 10 tahun dari sekarang aku akan masih merenungi banyak keputusan? Apakah aku akan menyelam ke kedalaman? Apakah aku memilih jadi petapa di atas gunung? Atau memilih menjadi kasir di Indomaret daerah Ciamis sana? Apakah aku memiliki ruang untuk diriku sendiri? 

Lucu juga ya, berdiri melihat pantulan diri memikirkan yang diluar dari kontrol diri padahal manusia memang tidak bisa melampaui time and space gitu. Duh, aku cuman butuh mandi air hangat, keramas dan minum teh hijau saja. 

Lucu juga ya. 

22.8.18

Rumah Kertas: Sebuah Ajakan Membaca


Semenjak hobi membaca bergeser jadi hobi membeli buku tanpa pernah tahu kapan mengumpulkan niat untuk dapat mulai membaca lagi, rak buku pun menjadi super penuh dengan banyak buku yang dibeli impulsive saja. Aku jadi tidak cermat membeli karena sekedar lapar mata. Sebenarnya aku juga tidak mau jadi pengecut dengan menyalahkan internet atau sosial media sebagai musabab utama dari menurunnya minat baca. Mungkin memang otakku kadang sudah terlalu lelah untuk membaca buku dan hanya ingin mencari tahu yang sedikit-sedikit saja dengan instan atau leha-leha nonton series drama korea. Itu jauh lebih menyenangkan dan mudah.

Lepas dari berbagai hiburan instan di sosial media yang tiap hari adaaaa aja yang viral dan hobi baru liatin foto anak anjing di Instagram yang bulunya ‘diwut-diwut’, akhirnya aku bisa bosan juga. Di tengah kegemaran menonton series drama korea yang menurutku sangat menolong jiwa-jiwa lelah setelah hari kerja dan bertemu banyak orang, bisa juga akhirnya memencet tombol pause dan mencoba log in lagi di dunia nyata. Menurutku untuk mencoba log in ke hidup yang nyata sering kali kita gagal paham karena otak keburu ke mana-mana. Panik dengan WA kantor, panik liat WA klien, cek email, twitter, IG dan sebagainya. Hih. Lalu aku juga baru sadar kalau banyak sekali orang yang mulai bosan dengan sosial media dan mencoba untuk detox. Enak juga sebenarnya bisa detox sosial media dan tidak terpapar, lalu pindah manual. Namun kenyataannya, ada banyak tanggung jawab yang perlu dilakukan berhubungan dengan gadget dan sosial media.

Untuk aku pribadi, mengalihkan diri dari gadget adalah pilihan yang rumit karena tidak mungkin bisa lepas gadget dengan tidak menggunakannya sama sekali. Beralih dari pengguna gadget yang betul-betul nempel kayak perangko ke pengguna yang fungsional saja memang butuh sebuah kerelaan untuk mengurangi kepo yang berlebihan. Perlu ada jeda untuk segala sesuatu memang.




Kemarin ini aku membaca sebuah buku super imut dan tipis, namun berpengaruh besar pada nafsu membacaku yang sedang lemah, letih, lesu dan berbeban berat. Buku ini berjudul Rumah Kertas karya Carlos Maria Dominguez, terbitan Marjin Kiri. Bukunya hanya 76 halaman saja saudara-saudara, namun di halaman pertama kau akan disuguhkan pada sebuah tragedi yang konyol namun juga mengenaskan. Bagaimana penulisan buku ini mengalir begitu saja dengan beberapa kejadian yang menggelitik perut, lalu menampilkan sedikit fakta dan kebiasaan penikmat buku. Kita akan berakhir dengan mengangguk-angguk dan berkata: “Ih, bener banget!”

Mengawali halaman pertama kamu akan penasaran dan mengira buku ini berisi cerita detektif, namun ternyata lebih dari itu. Kamu akan disambut dengan awalan cerita ganjil, seorang professor sastra bernama Bluma yang tewas tertabrak mobil saat sedang berjalan sambil membaca buku puisi Emily Dickson. Lalu ada kalimat yang menarik, begini bunyinya, ‘Buku mengubah takdir orang-orang dan Bluma termasuk korban buku-buku.’ Ada lagi celotehan tokoh utama yang bercerita bahwa neneknya sering berkata, “Sudah, buku itu berbahaya tau.” Lalu kehebohan orang sekitar Bluma karena kematiannya yang aneh bin ajaib hingga menimbulkan pertanyaan dan debatan, salah satunya dengan ungkapan lucu menurutku, “Bluma mati karena mobil, bukan karena buku.”

Kemudian di samping berita kematian Bluma, kau akan diperkenalkan dengan seorang pencinta buku nyentrik yang rumahnya penuh dengan buku-buku. Sampai ia memutuskan untuk tidak mandi air panas lagi karena ada koleksi bukunya ia taruh di kamar mandi dan ia khawatir uap-uap air panas akan membuat bukunya berjamur (hehe). Ia pun pernah menjual mobilnya agar garasinya kosong dan bisa menaruh banyak-banyak koleksi bukunya!





Sore pukul empat dan baru saja beres-beres rumah karena baru saja renovasi dan pindahan. Tetap saja banyak yang perlu disapu, dilap dan dibereskan. Kurasa aku adalah seseorang yang membereskan rumah dengan pelan-pelan dan tidak tergesa-gesa. Aku tidak menyukai ketergesaan yang mendadak sesak. Walaupun tiap hari aku tidak bisa juga memaksakan untuk melakukannya lebih lambat. Aku selalu terburu-buru dan panik. Kenapa ya?

Dengan adanya kebiasaan harus menyelesaikan segalanya dengan rampung dan tepat pada waktunya, akhirnya itu pun membuat kebiasaan membaca dan berjalan kaki menjadi semacam lomba lari marathon. Sudah lama sekali aku tidak membaca buku yang benar-benar membaca dengan tekun dan memperhatikan dengan details sana sini.

Aku pribadi merasa buku ini seperti diajak berkenalan dengan pencinta buku ekstrim di mana beberapa kebiasaan membaca buku bisa digambarkan dengan cerkas dan hangat. Aku sesekali tergelitik dengan mengingat bagaimana upaya membaca itu sendiri dari menandai buku, membuat catatan, membaca dua sampai tiga buku sekaligus karena harus mencari refrensi, mencari buku-buku jadul yang bisa saja harganya amit-amit.

Sesungguhnya ini adalah kali pertamaku mengenal dan membaca buku Carlos Maria Dominguez seorang penulis asal Argentina. Beliau mampu mendeskipsikan suasana dengan detail yang pas, khas dan lugas. Bahkan dalam buku Rumah Kertas ini dia menuliskan ceritanya dengan sangat singkat. Hingga saat selesai membacanya aku ingin membaca lagi dan membuat notes buku-buku apa saja yang menarik disebutkan dalam cerita. Buku ini seperti mempunyai kenalan seseorang yang massive membaca buku dan kamu duduk berdua minum teh hangat berbagi pengalaman membaca buku. Buku  Rumah Kertas ini amat nikmat dibaca, mungkin kamu hanya butuh satu atau dua gelas teh buah hangat saja untuk dapat habis menyelesaikan buku ini.

Selamat membaca!


14.7.18

Es Kopi Susu




Sebuah Cafe di BSD

Ucapan paling manis yang disampaikan seorang kawan akhir-akhir ini adalah: Semoga ada kebaruan di dalam rutinitasmu! Setelah melewati setengah tahun yang sebagian besar dilewati dengan panik-panik yang tidak berfaedah dan scroll sosyel media naik turun atas bawah demi sebuah details yang gak penting-penting-amat-buat-idup-lo, akhirnya berhasil juga melewati satu tahun berkomitmen pada suatu hal. Tinggal menunggu hasil dan ini yang paling mendebarkan. Ada baiknya juga ya ternyata mengalami kekecewaan perihal tidak memiliki pulang. Setelah sekian lama hati kepenuhan diisi dan dimiliki orang lain, lalu akhirnya dia menjadi tidak milik siapa-siapa, sempat sedikit jet leg. Namun, ternyata banyak hal yang baik-baik di sekitar kita yang mampu menyembuhkan. Seperti tidak sengaja menemukan sebuah cafe yang buka di pagi hari dan tenang. Semuanya asing dan tidak dikenal. Lalu mendengarkan lagu yang tidak pernah kamu dengarkan sebelumnya. Sepertinya aku seseorang yang selalu membutuhkan spasi dan 'mengisi kembali'. Tadinya aku memesan Cappucino seperti biasa sambil duduk manis membaca, namun sepertinya ada hari-hari di mana mood kamu es kopi susu.




Aku sedang sibuk mengaduk-aduk es kopi susu, menurutku memesan es kopi susu selalu paling aman karena ya pasti rasanya bisa stabil dan kamu tidak perlu memberikan ekspektasi kalau rasanya harus begini begitu karena rasanya ya begitu. Secukupnya tidak berlebihan. Merasakan yang nyata realitas tidak berandai-andai. Seperti membuka semua indera untuk banyak kemungkinan yang bisa saja datang atau tidak datang. Tapi ya, terkadang cara kerja indera kita tidak bisa dikatakan sebagai kenyataan yang absolut, karena sekali lagi itu hanya permukaan saja, wujud saja. Realitas bisa jadi lebih dari itu dan perlu menyelam lebih dalam untuk akhirnya mengetahui. Itu pun mengetahui yang ‘itu-itu’ saja karena sesungguhnya apa yang kita ketahui belum tentu juga kebenarannya. Kemudian untuk mencari kebenaran sendiri tetap saja melewati kajian subjektif kita juga. Mengulang sedikit tentang bacaan mengenai Xenophanes, dia pernah berkata bahwa “And the clear truth no man has seen nor will there be anyone in a position of knowing concerning the gods and the things I say about everything: for even of he hit the mark, saying things that are spot on the truth, yet still he does not himself know; but belief extends across all.” (Xenophanes, fragment 34). Bahwa apabila seseorang mengatakan bahwa ia mengetahui segalanya sebenarnya ia tidak tahu melainkan hanya percaya bahwa ia telah tahu segalanya. Kebenaran yang kamu kira tahu belum tentu suatu kebenaran yang sebenarnya karena bisa saja itu hanya karena kamu mempercayainya buka pengetahuan sebagaimana adanya. Kebenaran yang realitas tidak bisa sekedar melihat dari perspektif kita saja karena menurut Xenophanes kita hanya mengetahui pemahaman di permukaan saja dan kita tidak akan pernah tahu kebenaran yang absolut.



Menyukai bayangan dan cahaya 


Tiba-tiba cafe ini wangi daun mint yang segar dan es kopi susuku sudah mulai sedikit berembun di gelasnya. Aku jadi ingat akan perkataan seorang kawan yang setiap kali memesan minuman pasti dia akan memesan ice lemon tea. Entah karena sebuah komitmen atau ketakutannya akan mencoba hal-hal baru, aku juga tidak bertanya lebih jauh sih. Sepertinya kebiasaanku untuk bertanya hal-hal kecil-kecil kepo gitu perlu sedikit dikurangi karena memperhatikan detail ternyata seperti orang alergi yang kumat dengan menyebalkan dan tidak bisa dibendung. Kembali lagi pada komitmen, aku selalu kagum dengan orang-orang yang memiliki komitmen untuk pilihan-pilihannya. Menjalaninya tanpa ampun dan dilakukan terus menerus tanpa bolong-bolong. Bisa jadi seseorang dilihat dari seberapa tahan bantingnya dia pada rutinitas dan komitmen yang membosankan bahkan menyebalkan. Seperti mengerjakan hal-hal kecil remeh temeh dengan tanggung jawab karena kelak akan dipercayakan hal-hal besar. Sepertinya tulisanku sudah ke mana-mana. Es kopi susu sudah habis.






19.6.18

Uraian Singkat tentang Membuang



Sedikit terkesima juga dengan hal-hal sekitar yang berubah dan dalam diri yang pelan-pelan berganti. Memang benar kata orang apabila untuk bermekaran memang perlu melewati masa-masa menggugurkan kelopak. Hari-hari liburan Lebaran yang dilewati dengan membereskan rumah dan membuang banyak barang-barang yang tidak perlu. Kemudian membulatkan tekad dan niat untuk hari-hari depan. Lucu juga ya, untuk mengambil keputusan aku seperti menempelkan stiker yang miring di jendela lalu aku berjalan menjauh hanya untuk menimbang-nimbang benar gak ya?  Huh.

Banyak rencana dan goal yang perlu diatur maju mundur dan dipikir-pikir. Kemudian jadi kesenangan karena memiliki ‘bengkel’ sendiri dengan banyak agenda tapi aku ingin memastikan diriku sendiri tidak akan kehilangan diri sendiri dengan melewati duduk-duduk sendiri minum kopi susu tanpa percakapan, meski kadang aku kangen juga memiliki ‘percakapan’. Tapi sudahlah, ada beberapa yang harus ditunda karena ya barangkali aku belum menemukan. Biarkan pertemuan-pertemuan dengan siapa entah menjadi sebuah takdir (?) yang tidak direncanakan.

Kembali lagi ke urusan membereskan rumah dan kamar yang menelurkan sampah-sampah kenangan. Kubuang semua. Gila. Perasaannya senang sekali dan menang sekali. Sadis deh setelah kupikir-pikir, jangan-jangan aku ini semacam kekasih yang psycho kali ya karena diganduli hal-hal ga penting yang manja dan melankolik. Plis maafkan aku.

Kemudian kemarin pada saat membereskan ini itu, aku menemukan kalau aku benar-benar penyimpan yang ulung, masa aku masih saja menyimpan notes-notes di Taiwan dari teman-teman tentang hal-hal remeh temeh dan manis. Mungkin hal-hal detail ini yang aku selalu suka dan sebagai salah satu bagian krusial dari diriku. Sepertinya itu tidak akan bisa terpisah. Meski aku selalu berusaha untuk memberikan jeda pada suatu objek yang ingin aku perhatikan dan tulis, namun selalu aku hanyut bersamanya. Rasa-rasanya aku bukan Sartre yang bisa memberikan jeda pada apapun yang akan dia tulis.

Lepas dari itu, aku rasa penting juga untuk lepas dari keakuan dan segala pandangan yang subjektif. Ya bahasa kerennya melepaskan diri dari delusionalnya kali ya. Hehe.

11.6.18

Pulang


Beberapa hari belakangan ini aku senang sekali berjalan kaki dan pergi ke suatu tempat sendirian. Seperti mendapatkan suatu kenyamanan bertemu dengan orang asing yang benar-benar tidak kenal, duduk di tempat itu dan memperhatikan. Betapa nyamannya tidak perlu terus-terus maintain obrolan karena semata-mata sedang malas ngobrol, threshold sosialisasi udah ketinggian, ingin diam saja membaca,  menulis jurnal, beradu di pikiran sendiri dan menikmati segalanya sendiri pelan-pelan. Meski terkadang orang lain ingin terus-terusan berbicara atau ngobrol, namun aku yang sedang egois tidak ingin mendengarkan. Sering kali terjadi. 

Ketika sedang biru lebam, memang baik untuk diam. Menyesap kopi kesukaan, membaca buku baru, menciumi wangi halamannya, menulis sendirian dan bersembunyi. Bukannya menciptakan tembok, hanya saja terkadang bersembunyi itu baik, tak perlu repot menjaga perasaan orang lain. 

Beberapa hari kemarin, hatiku berkelana terlalu jauh dan tidak waspada. Lalu aku kehilangan. Lalu aku  merasa ditinggalkan. Lalu serta merta ‘pulang’ yang aku miliki jadi lesap. Lalu aku sedih karena tidak memiliki pulang. Aku bersedih karena ternyata ‘pulang’ yang aku maksud terlalu fana untuk dititipkan pada orang lain. Terlalu naif memang.

Entah sebuah pertanda yang mengiringi, tiba-tiba aku menemukan sebuah tulisan yang begini bunyinya: “Ketika tidak tepat dan bukan waktunya, memang serasa tidak sejiwa.” Iya juga sih. Lalu berlanjut dengan ya barangkali memang pulang tidak dimiliki semua orang. Barangkali memang ada orang yang ditakdirkan berkelana seperti di puisinya Chairil Anwar: “Sedang aku mengembara serupa Ahasveros.” 

Bisa jadi orang-orang yang pernah hadir sementara itulah yang mempunyai misi dan diutus semesta agar kamu dapat pulang ke dirimu sendiri. Bisa jadi pulang artinya adalah dirimu sendiri. Dia tidak di luar namun di dalam. Dia tidak ngontrak di luar tubuh. Namun bisa jadi pulang artinya diri. 


29.5.18

Sebuah 'Apa Kabar'


Sudah lama juga tidak mengunjungi blog dan menulis lagi di sini. Sepertinya platform blog seolah hanya memiliki tempat yang kecil di pojokan kamar setelah banyak orang beramai-ramai bermain twitter, facebook, tumblr, Instagram dan lain-lain. Bahkan saya sendiri kini lebih banyak menghabiskan waktu melihat Instagram dan twitter daripada blog walking seperti dahulu. Saya rasa memang sudah zamannya begitu dan memang pemakaian social media sebegitu luas dan cepatnya, jadi  akhirnya blog tertinggal. Tetap ada sih yang membaca, namun bisa jadi itu adalah teman dekat, keluarga atau penggemar setia blog sejak dahulu kala. Ya, zaman berubah.

Beberapa waktu kemarin saya  memang  sibuk dan berakhir mengeluh karena jadwal yang super padat persis seorang ibu-ibu yang punya lima anak. Tiba-tiba jadi tidak memiliki waktu untuk sekedar duduk-duduk manis dan menulis di sini. Eh, kangen juga ya. Berbicara tentang kerinduan akan hal-hal lawas lainnya, saya sedang berupaya untuk bisa kembali ke akar dan lebih memperhatikan. Mungkin saya kebiasaan sering zone out lalu menerawang jauh ke depan atau ke belakang hingga banyak hal kini yang luput perhatian dan terlewat.  Lucunya  lagi seperti seolah Ada yang Mengatur, saya menemukan sebuah frasa yakni holding space di blog tiny buddha. Saya sendiri cukup terpesona karena ternyata holding space pertama kali harus dipraktikan pada diri sendiri bukan orang lain. Mungkin kalau diterjemahkan bebas ngasal jadi menyadari secara utuh akan diri dan bersama tinggal di dalamnya. Menurut saya ini sulit karena terkadang untuk berada secara intim dengan diri sendiri, artinya menyediakan seluruh perhatian, kepercayaan teguh sepenuhnya dan dilakukan tanpa menghakimi diri sendiri. Dengan begitu, maka kamu akan mampu memeriksa, bertumbuh, berkembang, membuang hal-hal yang tidak perlu dan mengenal diri sendiri lebih lagi. 

Sebenarnya saya sedikit terkaget-kaget dengan diri sendiri karena ternyata saya berubah. Terkadang kita bisa dengan mudah sadar sekitar kita berubah, namun saat diri sendiri berubah ternyata tidak disadari. Ya, barangkali melihat segala sesuatu terlalu dekat dengan jarak pandang sangat dekat membuat mata saya jadi juling. Lalu kemarin ini juga ada sebuh keperluan untuk mendefinisi ulang arti: cinta. Tiba-tiba saya tidak tahu apa arti mencintai dan dicintai. Tiba-tiba saya jadi memiliki pemahaman nol besar akan arti cinta itu sendiri. Hal yang membuat saya cukup bersedih adalah arti nama saya adalah ‘cinta kasih tanpa pamrih’ namun saya sendiri tidak tahu bagaimana caranya. Seperti keberatan nama mungkin?  Lalu sempat saya rungsing mencari distraksi dan kedamaian ke sana ke mari, berdoa, membaca, bertanya. Lalu dari semuanya kata kucinya adalah: mengalami sini kini.

Mendadak ada suatu hal yang membangunkan saya dari perasaan sedih, kecewa dan bengong-bengong bego. Minggu lalu saya sedang setengah bengong berjalan di Stasiun Manggarai. Saat sedang berjalan saya tersandung sedikit di gundukan tangga. Saya kaget dengan jantung yang berdegup kencang dua kali seperti biasanya. Mendadak stasiun terasa hidup dan ramai, lalu orang sekitar sibuk berlalu lalang, mendadak saya tidak tertarik untuk mengalihkan perhatian saya, mendadak saya tidak membutuhkan distraksi. Tiba-tiba saya hanya ingin betul-betul sadar dan tidak menolak hal-hal yang membuat sedih, kecewa dan sakit. Mendadak saya tidak perlu mengalihkan perhatian atau menjadi sembuh. Saya hanya ingin berada di sini, sekarang. 

22.3.18

Please



Coba ya bagaimana caranya mengalihkan pikiran yang kembali terus menerus lalu sebenarnya ada beberapa hal yang diluar kontrol, namun kau 'dipaksa' untuk membuat semua menjadi normal. Tidakkah kita memiliki pilihan hidup sendiri. Tidakkah kita tidak perlu terus menerus memaksa orang lain untuk melakukan hal-hal sesuai yang kau inginkan. Kau melakukan sesuatu lalu sudah seharusnya orang lain berbuat baik sama besar dan lebih untukmu. Aku muak sekali. Tidak bisakah kita pura-pura budeg dan masa bodoh saja karena mulut orang lain sudah berbau busuk. Tidak bisakah orang lain memberikan jeda dan tidak perlu mengikut campuri urusan manusia lainnya. Tidak bisakah orang-orang mengurusi dirinya sendiri dan membeli alat elektronik yang super besar, canggih, dan hebat agar perhatian mereka tersita. Mungkin membuat sebuah permainan yang seru hingga segala waktu mereka tersedot agar tidak perlu lagi obrolan iseng-iseng kurang kerjaan. Pembicaraan basa basi yang hanya mengeluarkan cibiran, sindiran dan ocehan burung yang tiada hentinya. Tidak bisakah manusia mute sejenak dan duduk diam. Please.  Thank you.


15.1.18

Sebuah Isi Otak yang Penuh dengan Sampah dan Tai Kerbau, Lalu Meracau


Ciamis, Desember 2017


Aku harus cermat menghitung kalender kapan aku datang bulan bukan karena takut hamil atau menghitung masa subur. Namun aku menginginkan bisa mendapatkan sebuah antisipasi yang nyata karena hari-hari menjelang datang bulan adalah hari-hari emo sedunia. Namun aku akhir-akhir ini merasa bersedih yang tidak aku ketahui mengapa dan asal usulnya dari mana. Aku hanya merasa bersedih tanpa alasan dan salah satunya karena ada perasaan janggal seperti merasa tidak berada di tempat yang seharusnya di mana aku berada. Rasanya seperti tersesat di sebuah perjalanan. Seperti ingin bersembunyi sekaligus ingin ditemukan. Tidakkah aku sedemikian egois untuk ingin ditemukan padahal sesungguhya aku sedang bersembunyi?

Rasanya kamu tidak akan mengerti apa yang kumaksud karena aku sendiri pun tidak tahu bagaimana menjabarkannya dengan jelas. Seperti terpotong-potong antara badan, pikiran dan hati yang entah berada di mana lalu aku rasanya mengambang di ruang hampa udara. Ternyata bersedih itu tidak untuk digembor-gemborkan atau dikatakan karena manusia terlalu awkward dan jengah untuk mengetahui manusia lainnya sedang bersedih dengan perasaannya dan tidak tahu mengapa demikian. Hanya terjadi demikian saja tanpa kecuali, tanpa permisalan, tanpa andai.

Kurasa adalah sebuah momen di mana aku ingin beranjak keluar dari lingkaran namun beberapa hal masih ditarik-tarik dan tidak bisa lepas-lepas. Atau seperti makan permen karet mint yang sudah hilang manisnya, sudah seharusnya kamu lepeh tapi kok sayang eh tapi aku ingin minum teh. Itulah perasaannya. Random kan? Sudahlah pasti kamu tidak mengerti, aku pun tidak berharap ada yang mengerti. Bagaimana mungkin aku yang memiliki perasaan pun tidak mengerti, bagaimana mungkin kamu bisa mengerti? (Aku tahu kalimat ini tidak efektif tapi aku butuh filter yang luar biasa ampuh, isi otakku ampas semua.)

Seharian ini aku berpikir rasanya dari pada jadi kaya aku mau jadi bahagia saja. Aku tahu sih kalau seseorang pasti akan berkata kalau kebahagiaannya adalah menjadi kaya. Ih kok dia curang ya. Emang bisa ya kebahagiaan dicampur sama hal yang material? Material bisa menjadi penyebab bahagia, tapi bukan bahagia itu sendiri. Bukan getaran itu sendiri, karena perasaan bahagia sepertinya ada campuran kimiawi tertentu di otak.  Apakah perasaan bahagia itu bisa diukur dengan satuan apa gitu? Seperti misalnya setelah ditimbang-timbang bahagianya seberat satu kilogram jadi bisa dijual kembali sebesar sekian-sekian rupiah. Rasanya tidak.

Pasti pernah kita mendengar sebuah perkataan bahwa kebahagiaan sendiri dari bersyukur atas apa yang dimiliki sehingga tidak diperbudak keinginan. Bahwa semua yang kita miliki berasal dari keinginan kita yang terdahulu, yang sudah didoakan siang malam. Namun, seringnya pada suatu masa kita jadi menyesal akan keinginan itu karena ternyata keinginan itu tidak sedemikian okenya. Hingga rasanya aku harus berhati-hati dengan keinginan sendiri. Kamu bisa tiba-tiba berubah pikiran dan menginginkan yang lain. Aku terkadang jadi takut untuk menginginkan sesuatu karena pada akhirnya aku hanya akan menginginkan hal yang lain dan tidak bisa ditahan-tahan terus saja begitu muter-muter hingga akhirnya ladang koko cruch kejatuhan meteor coklat.

Kemarin aku sempat membaca buku essai isi renungan Haruki Murakami saat dia berlari, di situ dia berkata bahka dia tidak bisa melakukan dua hal secara bersamaan karena yang satu pasti akan menjadi lemah dan tidak maksimal; dia tidak suka itu. Lagi pula dia semenjak dahulu tidak bisa mengerjakan sesuatu yang tidak dia sukai. Hingga akhirnya dia memutuskan untuk melakukan satu hal yang dia sukai benar-benar dan membuat itu menjadi prioritas. Aku jadi berpikir apakah menjadi amfibi yang hidup di dua alam itu sebuah anugerah ataukah terdesak? Anugerah karena dia bisa melakukan keduanya atau dia semata-mata melakukannya untuk survive? Apakah hidup berdasarkan pilihannya lebih baik dari pada hidup yang hanya dilakukan untuk tetap survive? Jadi apa arti hidup itu sendiri kalau tidak ada pilihan dan hanya memilih hidup semata-mata untuk kehidupan. Lalu ada satu paham Stoic yang berkata bahwa apabila tidak punya alasan lain yang bisa dibanggakan dan diperjuangkan untuk hidup, lebih baik mati saja. Gitu masa katanya. Tapi aku juga takut mati. Heu.

Seharian ini aku berencana gila-gilaan untuk kabur dan melarikan diri ke Tibet dan berdiam di sana. Aku merasa bosan bosan bosan. Seperti berenang di danau yang terlalu tenang, dalam dan dingin. Rasanya aku terhisap di dalamnya. Tapi kembali lagi, ini hanyalah sebuah isi otak yang sedemikian sampahnya dan berkerak terlalu lama. Hingga aku pun tidak mengerti, aku hanya meracau. Kalau begitu saya permisi sebentar.  Saya mau cari tahu: Mengapa ada orang yang memiliki hidup begitu fungsional sedangkan yang lain tidak? Seperti segalanya harus memiliki tujuan padahal nyatanya segalanya dimulai dari kekosongan? Mau di mulai dari mana pembicaraan kita sekarang?




14.1.18

Amor fati #6




Hari Minggu yang cerah dan aku hanya tidur-tiduran saja sedari kemarin sore. Rasanya badanku remuk sekali seperti renginang. Kemarin aku sempat menonton sedikit Black Mirror yang episode 1, gila ya apa yang bisa teknologi dan internet lakukan pada sebuah peradaban. Ceritanya satir, thriller dan sebuah hiperbola akan ketergantungan kita pada teknologi, pada media kurasa.  Terlepas dari film itu, lalu aku jadi sedikit tersadar betapa aku sendiri salah satunya menghabiskan banyak waktu bermain-main di alat pada genggaman ini. Bukan berarti itu buruk karena sebenarnya itu sangat memudahkan siapapun dalam berbagai hal terutama komunikasi dan kerjaan. Namun segalanya jadi diperluas seperti betapa tersitanya beberapa waktu hanya untuk melihat-lihat sosial media lalu mengetahui: Oh si ini makan bakmi, dia sedang sedih karena putus, si ini sedang super sibuk kerja, dan lain-lain. Segala informasi dari yang pribadi, penting, sampai akhirnya yang sampah gak penting-penting amat diguyur di hadapan kita. Benar, kita memiliki pilihan untuk filter mana yang mau dan tidak karena pada dasarnya kita bukan sponge, tapi kenyataannya yang paling mudah hanyalah menerima semuanya tanpa filter tanpa sekat, kan? Aku rasa, kebutuhanku yang sekarang adalah komunikasi dan kerja, kurasa aku harus membatasi media sosial karena aku tidak mau kehidupanku dan perhatianku hanya berada di situ-situ saja. Terlalu  mudah. Terlalu mudah. Toh pada dasarnya untuk berkomunikasi secara real bisa lewat media chat yang lainnya atau bertemu tatap mata.


Lalu seharian kemarin ini aku berpikir, seberapa banyak lekatan label yang terus menerus diusahakan untuk menempel dan melekat hingga pada akhirnya seseorang harus melakukan banyak acara, serangkaian kegiatan yang bisa jadi dia tidak demikian. Namun dia perlu menjadi demikian karena itu wajah yang dia pakai. Upaya agar orang lain impres akan kehidupannya atau akan apa yang dia punya. Dih label-label sosial itu mahal ya, lalu aku jadi berpikir akankah segalanya akan menempel selama-lamanya, lekang waktu. Kurasa yang aku inginkan bukan label dan segala pandangan orang lain akan hal-hal artifisial. Kuhanya ingin bahagia itu saja.


Merekam Percakapan Sebuah Kota

Bergulat dengan hidup barangkali salah satunya adalah dengan menolak untuk terus menerus tidur-tiduran ayam di tempat tidur saat se...